
Penggunaan air sebagai bahan bakar roket kini bukan sekadar gagasan futuristik. Seorang veteran SpaceX, Halen Mattison, melalui perusahaannya General Galactic, berencana menguji teknologi ini dengan meluncurkan satelit seberat 1.100 pon menggunakan roket Falcon 9. Uji coba ini bertujuan membuktikan bahwa air dapat diubah menjadi bahan bakar baik untuk propulsi listrik maupun kimia.
Konsep memanfaatkan sumber daya lokal seperti air di permukaan bulan atau planet lain sudah lama dipertimbangkan oleh ilmuwan. Dengan membagi molekul air (H2O) melalui proses elektrolisis menjadi hidrogen dan oksigen, hidrogen dapat dibakar untuk menghasilkan dorongan. Dalam eksperimen lain, oksigen yang terionisasi diubah menjadi plasma untuk menghasilkan dorongan listrik menggunakan medan magnet.
Pengujian Teknologi Propulsi Berbasis Air
General Galactic membagi pendekatan propulsi menjadi dua-model:
- Propulsi kimia: Menghasilkan dorongan kuat dalam waktu singkat dengan membakar hidrogen dan oksigen hasil elektrolisis.
- Propulsi listrik: Mengalirkan plasma berenergi secara terkendali untuk dorongan halus yang lebih lama.
Pendekatan ini diharapkan dapat memberi fleksibilitas dalam manuver satelit atau pesawat luar angkasa di orbit. Mattison menyatakan bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan pertahanan satelit militer di ruang angkasa. Saat ini, satelit Amerika diketahui sering diikuti secara dekat oleh satelit Cina dan Rusia, yang dapat menimbulkan risiko keamanan di orbit.
Tantangan Teknis dan Kekhawatiran Keamanan
Meski menjanjikan, penggunaan air sebagai bahan bakar menimbulkan masalah teknis serius. Ryan Conversano, konsultan General Galactic dan mantan teknolog NASA, mengingatkan bahwa oksigen yang terionisasi dapat menyebabkan korosi pada peralatan elektronik satelit. Ini membuat pemilihan bahan dan desain perangkat menjadi sangat menantang.
Selain itu, sistem elektrolisis yang diperlukan juga menambah bobot perangkat, yang bisa mengurangi efisiensi dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar kimia konvensional. Oleh karena itu, skeptisisme dari para ilmuwan masih tinggi karena belum ada kepastian apakah keuntungan teknologi ini bisa melebihi kerugiannya dalam jangka panjang.
Peluang Pemanfaatan Sumber Daya Lokal untuk Masa Depan Eksplorasi
Meski demikian, riset pemanfaatan air dan oksigen dari sumber-sumber lokal seperti regolit bulan atau batuan Mars terus dipercepat. Kemampuan mengubah sumber daya lokal menjadi bahan bakar sangat penting untuk misi luar angkasa jangka panjang. Ini akan melindungi astronot dan kendaraan antariksa dari kehabisan bahan bakar saat menjalankan misi pulang atau manuver di luar angkasa.
Menurut para ilmuwan, proses "in-situ resource utilization" ini merupakan kunci untuk membuka eksplorasi manusia yang lebih jauh dan mandiri di luar bumi. Pemanfaatan air sebagai bahan bakar juga dibarengi dengan upaya teknologi lain, misalnya pembuatan bahan bakar roket melalui "fotosintesis buatan" yang sudah dicoba oleh astronot China di luar angkasa.
Langkah-Langkah Pengembangan Teknologi
Berikut adalah langkah utama yang akan dilakukan General Galactic dalam pengujian konsep ini:
- Meluncurkan satelit pada roket Falcon 9.
- Melaksanakan proses elektrolisis untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen.
- Menggunakan hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar kimia membakar dalam mesin roket.
- Menghasilkan plasma oksigen untuk propulsi listrik dengan medan magnet.
- Menganalisis performa dan dampak teknologi pada sistem satelit.
Dengan hasil uji coba ini, General Galactic berharap dapat menyempurnakan teknologi propulsi berbasis air sehingga dapat diterapkan lebih luas dalam misi luar angkasa masa depan.
Teknologi ini membuka potensi baru untuk memperkuat kemampuan kendaraan luar angkasa dalam menggunakan sumber daya yang tersedia di tempat tujuan. Jika berhasil, propulsi dari air bisa menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan bahan bakar konvensional dan mendukung eksplorasi planet yang lebih jauh secara berkelanjutan.





