Gempa Pacitan M 6,2: Jenis Gempa dan Risiko Tsunami Jika M Capai 7,0

Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Pacitan pada 6 Februari 2026 memiliki karakteristik khusus sebagai gempa Megathrust dangkal. BMKG menjelaskan bahwa gempa ini terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng, dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Lokasi pusat gempa berada di laut dengan kedalaman sekitar 10 km, menandakan pusat gempa yang relatif dangkal.

Jenis gempa ini termasuk Megathrust, yakni gempa yang terjadi di zona subduksi di mana satu lempeng tektonik mendorong lempeng lainnya ke bawah. Mekanisme pergerakan naik menyebabkan sesar di dasar laut bergerak vertikal, yang dapat menimbulkan risiko tinggi tsunami jika magnitudo dan kedalaman memenuhi kriteria tertentu. Namun, untuk gempa Pacitan kali ini, BMKG memastikan bahwa magnitudo 6,2 belum cukup besar untuk memicu tsunami.

BMKG juga menekankan bahwa gempa dengan magnitudo kurang dari 7,0 dan kedalaman dangkal di bawah 30 km dinilai memiliki potensi tsunami yang rendah. Potensi tsunami biasanya muncul jika magnitudo gempa mencapai 7,0 atau lebih, terutama jika sumber gempa berada di dasar laut. Oleh karena itu, meskipun gempa ini termasuk Megathrust, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai potensi tsunami untuk kejadian kali ini.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menguraikan bahwa Pacitan berada di zona subduksi dimana lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah lempeng Eurasia. Zona ini seringkali menjadi sumber gempa besar berdampak signifikan dan berpotensi tsunami di masa lalu. Secara historis, wilayah tersebut pernah mengalami tsunami akibat gempa besar pada tahun 1840 dan 1859 yang memicu gelombang tinggi di beberapa teluk dan pantai sempit.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko tsunami di Pacitan, antara lain:

1. Terletak langsung berhadapan dengan zona megathrust Jawa.
2. Topografi pantai dengan banyak teluk dan teluk sempit yang dapat memperkuat gelombang tsunami.
3. Terletak di atas segmen slab subduksi yang relatif landai dan memungkinkan akumulasi energi besar.

Selain faktor magnitudo dan kedalaman, penyebab tsunami juga bergantung pada tipe mekanisme gempa dan kondisi geologi lokal. Oleh sebab itu, bukan hanya angka magnitudo saja yang menentukan kemungkinan tsunami, tetapi juga kedalaman dan mekanisme pergerakannya. Mekanisme thrust fault pada gempa dangkal seperti ini memang memiliki risiko lebih besar dibandingkan gempa dengan mekanisme sesar mendatar.

Gempa Pacitan ini dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah Pacitan, Sleman, dan Bantul dengan intensitas getaran mencapai skala MMI IV. BMKG mencatat paling tidak 23 wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta turut merasakan efek getaran ini. Meski begitu, dampak kerusakan cukup terbatas karena magnitudo gempa belum menembus nilai ambang yang berbahaya.

Penting bagi masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa Megathrust di wilayah selatan Jawa. Meski gempa M 6,2 belum memicu tsunami, sejarah dan kondisi geologi menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo di atas 7,0 pada zona subduksi ini dapat menimbulkan tsunami yang merusak. Oleh karena itu, sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana harus terus diperkuat khususnya bagi daerah pesisir di Jawa bagian selatan.

Dengan pemahaman mengenai jenis gempa dan mekanisme subduksi di Pacitan, masyarakat bisa menyadari bahwa gempa besar di daerah ini bukan hal yang jarang. Oleh karena itu, mitigasi risiko bencana melalui edukasi dan perencanaan tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana gempa bumi dan tsunami di masa datang. BMKG dan instansi terkait terus memantau aktivitas tektonik dan meningkatkan sistem peringatan gempa dan tsunami demi keselamatan warga di zona rawan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version