NASA telah meningkatkan kemampuan rover Perseverance dengan teknologi baru yang berfungsi sebagai ‘GPS’ di Mars. Dengan peningkatan ini, Perseverance kini mampu menentukan posisi secara tepat tanpa harus menunggu instruksi dari Bumi.
Sebelumnya, penentuan posisi rover di Mars sangat bergantung pada sensor onboard, kamera, dan data citra dari pesawat pengorbit Mars serta arahan dari tim misi yang berjarak jutaan mil di Bumi. Mars sendiri tidak memiliki sistem satelit navigasi seperti GPS di Bumi. Hal ini membuat Perseverance seperti "sendirian di gurun luas tanpa peta", kata Vandi Verma, seorang ahli robotika luar angkasa dari JPL.
Permasalahan Penentuan Posisi Sebelumnya
Sejak awal misi di Kawah Jezero, Perseverance melacak posisinya dengan menganalisis fitur geologi dari gambar yang diambil setiap beberapa langkah dan menghitung jarak melalui informasi selip roda. Namun, metode ini memungkinkan adanya kesalahan posisi hingga lebih dari 35 meter setelah perjalanan jauh. Ketidaktahuan posisi yang tepat membuat rover terkadang berhenti lebih awal untuk memastikan keselamatan sebelum menerima konfirmasi dari Bumi.
Keterbatasan tersebut membatasi jarak jelajah dan efisiensi rover dalam menjelajah dan melakukan pengumpulan data ilmiah. Karena jarak Mars ke Bumi yang sangat jauh, sekitar 225 juta kilometer, ada penundaan komunikasi yang signifikan sehingga kendali waktu nyata tidak memungkinkan.
Mars Global Localization: Teknologi ‘GPS’ Baru di Mars
Teknologi baru bernama Mars Global Localization ini memungkinkan Perseverance untuk mencocokkan gambar panorama yang diambil dengan peta medan orbital yang disimpan di dalam rover. Proses pencocokan ini dilakukan oleh algoritma onboard dalam waktu sekitar dua menit. Hasilnya, posisi rover dapat diketahui dengan akurasi hingga 25 sentimeter tanpa campur tangan manusia.
Dengan kemajuan ini, Perseverance dapat melanjutkan jalur perjalanannya secara mandiri tanpa harus menunggu arahan dari Bumi. Ini akan memperluas jangkauan eksplorasi dan meningkatkan efisiensi ilmiah dari misi tersebut. Pengujian terhadap teknologi ini telah dimulai sejak 2023 dengan uji coba melibatkan 264 titik berhenti rover sebelumnya, dan hasilnya selalu akurat.
Jeremy Nash, insinyur robotika di JPL, menyatakan bahwa fitur ini merupakan sebuah terobosan yang telah lama menjadi tantangan dalam riset robotika. "Ini adalah solusi yang sangat menarik yang untuk pertama kalinya diuji coba di ruang angkasa," ungkapnya.
Integrasi Kecerdasan Buatan dalam Navigasi
Tidak hanya soal posisi, NASA juga baru-baru ini mengumumkan keberhasilan Perseverance dalam mengemudi dengan perencanaan rute yang sepenuhnya dirancang oleh kecerdasan buatan generatif. AI menggunakan data dari citra dan peta medan untuk mendeteksi bahaya seperti batu dan lereng curam, kemudian memetakan jalur aman lengkap dengan koordinat yang harus ditempuh rover.
Sebelum instruksi dikirim ke Mars, rencana tersebut diuji secara menyeluruh menggunakan model digital twin rover untuk menjamin keselamatan perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan otonom Perseverance dalam menghindari rintangan telah sangat maju sehingga pembatas utama jarak jelajahan kini adalah ketidakpastian lokasi, bukan faktor bahaya fisik.
Potensi Teknologi untuk Eksplorasi Masa Depan
Teknologi penentuan posisi dan navigasi mandiri ini tidak hanya berpotensi mempercepat dan memperluas eksplorasi Mars, tetapi juga bisa diterapkan pada misi robotik lainnya di berbagai dunia. Vandi Verma menyatakan bahwa sistem ini dapat digunakan oleh hampir semua rover yang perlu bergerak cepat dan jauh di permukaan planet atau benda langit lain.
Secara keseluruhan, inovasi ini merupakan langkah maju penting dalam eksplorasi antariksa, memungkinkan robot penjelajah beroperasi dengan lebih mandiri dan efisien di lingkungan yang selama ini penuh tantangan navigasi. NASA terus mengembangkan dan mengintegrasikan teknologi terkini untuk membuka batas kemampuan misi eksplorasi robotik di Mars dan luar angkasa.





