BRIN Kembangkan Tanggul Inovatif Hemat Ruang dan Mampu Menghasilkan Listrik Efisien

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menciptakan inovasi tanggul tegak multifungsi (TTMF) yang dirancang untuk melindungi pesisir dari abrasi, banjir rob, dan kenaikan muka air laut. Teknologi ini memiliki keunggulan hemat lahan dan mampu menghasilkan listrik dari energi gelombang laut.

TTMF dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN sejak 2022 sebagai respons terhadap kebutuhan perlindungan pantai dengan keterbatasan lahan, seperti di Pantura Jawa. Berbeda dengan tanggul konvensional yang membutuhkan area luas karena menggunakan urukan pasir dan batu, TTMF berbentuk dinding tegak dengan sistem modular berbahan beton bertulang.

Teknologi tanggul ini terdiri dari blok modular atau caisson yang diproduksi di darat dengan bobot sekitar 60 ton. Blok-blok tersebut kemudian dirakit di lokasi layaknya kepingan lego, sehingga konstruksi dapat lebih cepat dan fleksibel. Lebar tanggul ini dapat disesuaikan, misalnya hanya 10-20 meter apabila digunakan sebagai penopang jalan raya.

Keunggulan utama TTMF adalah efisiensi penggunaan lahan tanpa mengorbankan fungsi perlindungan pantai yang baik. Ini menjadi penting terutama bagi daerah pesisir padat yang rentan terhadap ancaman abrasi dan banjir rob. Selain itu, tanggul ini juga ramah lingkungan karena mengurangi kebutuhan material urukan yang biasanya berdampak pada kerusakan lingkungan akibat penambangan.

BRIN mengintegrasikan sistem penangkap energi gelombang tipe oscillating water column (OWC) ke dalam struktur TTMF. Sistem OWC memanfaatkan tekanan udara yang dihasilkan dari gerakan naik turun air laut untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Dengan demikian, tanggul ini bukan hanya sebagai pelindung pesisir, tetapi juga sebagai sumber energi listrik terbarukan.

Desain awal TTMF dengan teknologi penangkap gelombang ini sudah terdaftar paten di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi BRIN tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah memiliki perlindungan hak kekayaan intelektual.

Dalam pengembangan material, BRIN mengacu pada standar nasional Indonesia (SNI) untuk konstruksi bangunan bendungan dan pantai. BRIN juga memanfaatkan limbah industri seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batubara untuk bahan penyusun. Pemanfaatan limbah ini membantu mengurangi penggunaan pasir dan semen sekaligus mendukung target emisi karbon nol bersih (net zero carbon emission).

Material alternatif tersebut memungkinkan teknologi TTMF menggunakan komponen dalam negeri hingga 70 persen, sehingga berkontribusi memperkuat industri konstruksi nasional. Meski menjanjikan, TTMF masih menghadapi tantangan teknis terutama terkait daya dukung tanah. Model matematis BRIN menunjukkan kebutuhan nilai NSPT minimum sekitar 15 agar struktur tanggul dapat berdiri kokoh.

Di lokasi dengan tanah lunak, seperti beberapa bagian Pantura, diperlukan perbaikan tanah sebelum pembangunan. Teknologi perkuatan tanah yang sudah tersedia memungkinkan tantangan ini dapat diatasi secara teknis. BRIN berharap TTMF dapat diterapkan melalui pembangunan demonstration plot dalam proyek strategis nasional.

Dengan dukungan pendanaan dan kebijakan yang sesuai, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti di tahap riset, tetapi terealisasi di lapangan. TTMF dengan sifat multifungsi yang hemat lahan dan ramah lingkungan memiliki potensi besar sebagai solusi perlindungan pesisir dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button