Data Center di Luar Angkasa Justru Picu Bahaya Baru, Tunggu Biaya dan Dampak Lingkungan yang Lebih Menghantui

Konsep pusat data di luar angkasa telah lama didengungkan sebagai solusi revolusioner untuk mengatasi masalah konsumsi energi dan biaya tinggi yang dihadapi pusat data konvensional di bumi. Elon Musk dan beberapa pemimpin bidang kecerdasan buatan berpendapat bahwa memindahkan pusat data ke orbit dapat memanfaatkan sumber energi surya yang tidak terbatas dan lahan tak berujung di luar angkasa. Namun, ide ini tidak semudah yang dibayangkan dan ternyata menghadapi berbagai persoalan teknis, finansial, dan lingkungan yang kompleks.

Baru-baru ini, SpaceX yang kini telah bergabung dengan perusahaan AI xAI mengajukan paten terkait konstelasi satelit pusat data di orbit ke Federal Communications Commission. Rencananya, hingga satu juta satelit akan mengorbit Bumi pada ketinggian antara 310 hingga 1.200 mil dengan orbit sinkron dengan posisi matahari agar penyerapan energi surya maksimal. Meski begitu, pengajuan paten ini masih sangat awal dan belum menjelaskan detail teknis operasionalnya.

Tantangan Finansial dan Teknologi

Beberapa ahli mempertanyakan kelayakan ekonomi dan batasan teknologi dari ide pusat data di luar angkasa ini. Rebekah Reed, mantan asisten direktur NASA sekaligus anggota Program Emerging Technology di Harvard, menilai ide tersebut “lebih terkutuk” dari yang diperkirakan karena selain biaya sangat tinggi, ada juga risiko lingkungan yang besar. Reed menegaskan bahwa ide memindahkan beban energi pelatihan AI ke orbit hanya sebuah angan-angan, bahkan dikritik oleh co-founder OpenAI Sam Altman sebagai hal yang “tidak masuk akal” dan masih bertahun-tahun atau bahkan dekade lagi sebelum bisa terwujud.

Dalam penilaiannya, Reed menyoroti biaya peluncuran massa besar ke orbit sebagai kendala utama. Menurut dia, agar konsep ini efektif secara ekonomi, biaya peluncuran harus turun drastis hingga di bawah 200 dolar AS per kilogram, sebuah penurunan sekitar tujuh kali lipat dari tingkat saat ini. Proyeksi paling optimis memperkirakan biaya ini baru akan tercapai pertengahan dekade 2030-an, yang berarti realisasi sistem pusat data orbital membutuhkan waktu panjang.

Masalah Operasional dan Perawatan

Perawatan pusat data di orbit menjadi dilema lain yang sulit dipecahkan. Di bumi, peralatan yang rusak mudah diperbaiki atau diganti oleh teknisi. Namun, di orbit, perbaikan namun memerlukan teknologi servis ruang angkasa yang sangat canggih atau harus menerima penurunan performa dan hilangnya investasi akibat bagian yang rusak menjadi sampah antariksa. Sampah antariksa yang berpotensi bertambah dari limbah pusat data tersebut juga berisiko menyebabkan tabrakan dengan satelit lain, mengancam layanan komunikasi, cuaca, dan navigasi.

Dampak Lingkungan

Selain tantangan teknis dan keuangan, dampak lingkungan dari pusat data orbit juga menjadi sorotan. Studi oleh para peneliti di Saarland University, Jerman, menunjukkan bahwa jejak karbon pusat data ruang angkasa malah bisa jauh lebih besar ketimbang pusat data di bumi ketika memperhitungkan emisi dari proses manufaktur, peluncuran, dan pembuangan satelit. Bahkan dalam asumsi paling optimistis, sistem orbit dapat menghasilkan emisi karbon hingga sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan sistem bumi.

Konsekuensi pada Orbit Bumi

Penambahan konstelasi satelit besar ini juga akan memperburuk kemacetan ruang orbital. Reed menyebutkan bahwa skala besar dari ribuan satelit pusat data akan meningkatkan risiko tabrakan dan akumulasi puing ruang angkasa yang dapat mengganggu berbagai layanan penting. Selain itu, kemacetan ini dapat mengurangi keindahan langit malam akibat pantulan cahaya satelit, menimbulkan masalah bagi astronomi dan observasi langit.

Berikut adalah ringkasan risiko utama pusat data di luar angkasa:

  1. Biaya peluncuran yang sangat tinggi dan belum terjangkau.
  2. Sulitnya perawatan dan risiko sampah antariksa.
  3. Emisi karbon yang lebih besar dari pusat data bumi.
  4. Kemacetan orbit yang membahayakan satelit lain.
  5. Dampak merugikan pada pengamatan langit malam.

Meski potensi akses energi matahari di luar angkasa sangat menjanjikan, hambatan teknis serta dampak lingkungan dan ekonomi membuat pusat data di luar angkasa masih jauh dari nyata. Para pemimpin teknologi perlu mempertimbangkan dengan cermat implikasi jangka panjang daripada sekadar melejitkan ide ambisius. Analisis yang lebih menyeluruh dan inovasi teknologi signifikan masih dibutuhkan sebelum pusat data orbit bisa menjadi solusi praktis dan berkelanjutan.

Terkait