Barcode kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai sektor industri. Teknologi ini membantu pengenalan, pelacakan, dan pengelolaan produk dengan cepat dan tepat. Namun, sebagian orang mungkin belum mengetahui sejarah dan evolusi barcode yang menarik serta inovasi penting yang mendukung fungsinya.
Pada akhir 1940-an, Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland mencari cara untuk membaca informasi produk secara otomatis. Mereka awalnya bereksperimen dengan pola tinta yang menyala di bawah sinar UV, tapi ide tersebut gagal karena tinta mahal dan tidak stabil. Pada 1949, Woodland mengajukan paten untuk desain barcode pertama yang berbentuk lingkaran konsentris, mirip target bullseye, dengan pola berdasarkan kode Morse. Ini adalah cikal bakal barcode modern yang kita kenal sekarang.
Awalnya, tujuan barcode bukan untuk memudahkan belanja konsumen, melainkan sebagai label untuk gerbong kereta api dan mobil. Namun, sistem pelabelan ini belum diterima luas hingga muncul penggunaan barcode dalam sistem checkout belanjaan. Barcode membawa revolusi efisiensi di supermarket dengan mengizinkan pemindaian cepat produk yang kemudian menjadi praktik standar.
Universal Product Code (UPC) pertama kali dipindai di supermarket Marsh di Ohio pada musim panas 1974. Saat itu, 10 bungkus permen menjadi barang pertama yang menggunakan UPC resmi. UPC ini menjadi mata rantai penting yang memungkinkan identifikasi produk dalam transaksi dagang harian sekaligus mendukung pengelolaan logistik dan inventaris.
Ada beberapa jenis barcode yang digunakan di berbagai sektor. Kode 39 dikembangkan pada 1975 oleh Intermec Corporation dan dapat mengenkode angka, huruf, serta simbol tertentu. Kode ini populer karena ukurannya yang besar dan kompatibilitas dengan berbagai pembaca barcode. Kemudian, kode 128 muncul pada 1981 dengan kepadatan data lebih tinggi, digunakan luas dalam pergudangan, transportasi, manufaktur, dan layanan kesehatan.
Kemajuan teknologi juga membuat smartphone bisa berperan sebagai pemindai barcode. Awalnya fitur rekaman video baru hadir di ponsel mulai awal 2000-an dengan kamera VGA yang terbatas durasi dan resolusinya. Kini, ponsel dengan resolusi hingga 4K mampu memindai barcode dengan cepat, menggantikan alat pemindai khusus dengan cara yang lebih hemat biaya dan praktis.
Di bidang kesehatan, barcode mulai diterapkan secara resmi pada obat-obatan sejak FDA di Amerika Serikat menetapkannya pada Februari 2004. Barcode pada kemasan obat tidak hanya memudahkan identifikasi dan distribusi, tetapi juga meningkatkan keamanan pasien. Ini mendorong efisiensi di lingkungan perawatan kesehatan dan mengurangi kesalahan fatal dalam penanganan obat.
Saat ini, hampir seluruh perusahaan besar memanfaatkan barcode dalam sistem mereka. Tidak hanya produk konsumen, berbagai fasilitas seperti biobank, laboratorium, rumah sakit, dan pusat riset sudah mengandalkan barcode untuk pelacakan sampel, inventaris, dan manajemen alur kerja. Penggunaan barcode memperbaiki akurasi data dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Berikut ini ringkasan penting inovasi penggunaan barcode:
1. Barcode berbentuk lingkaran konsentris, berdasarkan kode Morse, paten pertama tahun 1949.
2. Awal pemakaian untuk pelabelan gerbong kereta dan mobil.
3. Universal Product Code (UPC) pertama digunakan di supermarket tahun 1974.
4. Kode 39 dan kode 128 dikembangkan untuk meningkatkan kompatibilitas dan kapasitas penyandian.
5. Smartphone kini bisa memindai barcode berkat kemajuan fitur video dan kamera.
6. Barcode wajib pada obat untuk efisiensi dan keamanan distribusi.
7. Barcode digunakan luas di berbagai sektor seperti riset, logistik, manufaktur, dan kesehatan.
Teknologi barcode telah bertransformasi dari sebuah ide sederhana menjadi sistem penting dalam bisnis dan kehidupan modern. Kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi kesalahan, dan mempercepat proses membuat barcode tetap relevan dan terus berkembang. Inovasi smartphone sebagai pemindai barcode menandai era baru yang semakin mudah dan hemat biaya untuk banyak bidang. Dengan demikian, barcode tidak hanya menjadi alat identifikasi produk biasa, tetapi juga fondasi digitalisasi dalam inventaris dan manajemen data di banyak sektor industri.
Source: www.idntimes.com








