US startup Aikido Technologies akan membangun pusat data (data center) di dalam turbin angin lepas pantai. Proyek ini akan menggunakan desain turbin semi-submersible dengan tiga kaki yang dapat menampung pusat data berbasis AI di bagian atas setiap kakinya. Prototipe tiga kaki ini dijadwalkan akan diluncurkan di Laut Utara, Norwegia, pada akhir tahun ini.
Setiap kaki turbin diisi dengan air tawar berfungsi sebagai ballast untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas. Air tawar tersebut juga digunakan untuk mendinginkan server AI melalui sistem pendingin berbasis air yang memanfaatkan air dingin dari Laut Utara. Teknik ini meningkatkan efisiensi termal dan mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan data center.
Desain inovatif turbin lepas pantai dengan pusat data terintegrasi
Aikido menggunakan desain semi-submersible yang sedang umum digunakan di industri minyak dan gas lepas pantai. Sistem ini memiliki tiga kaki yang diisi air tawar agar turbin tetap tegak dan stabil meski diterpa gelombang dan angin kencang. Setiap kaki bisa menampung data center dengan kapasitas hingga 3-4 MW. Artinya, satu turbin angin dapat menjadi pusat data berkapasitas 9-12 MW.
Air tawar inilah yang disalurkan ke chip AI untuk pendinginan, kemudian air yang sudah hangat dikembalikan ke ballast dan dingin kembali oleh suhu laut sekitar. Komponen lain yang tidak didinginkan dengan air mendapatkan pendinginan lewat AC konvensional.
Manfaat dari integrasi pusat data pada turbin angin
Penggunaan energi terbarukan dari angin lepas pantai mengatasi tantangan pasokan listrik yang kerap dialami pusat data darat. Selain itu, peletakan data center di laut mendukung efisiensi pemanfaatan ruang dan mengurangi konflik "not in my backyard" yang sering menggagalkan proyek pusat data baru. CEO Aikido, Sam Kanner, menyebut bahwa sistem ini memungkinkan biaya operasi yang kompetitif dibandingkan data center konvensional.
Aikido juga melengkapi turbin dengan baterai penyimpanan energi untuk mengantisipasi kondisi angin yang tidak konsisten. Jika sumber daya angin berkurang dalam waktu lama, sistem dapat menggunakan listrik dari jaringan (grid) utama.
Tantangan teknis dan lingkungan
Meski inovatif, membangun pusat data di lingkungan laut memiliki sejumlah tantangan. Air laut yang asin bersifat korosif sehingga berpotensi mempercepat kerusakan komponen. Hal ini menuntut biaya perawatan dan pengawasan yang lebih tinggi. Selain itu, fluktuasi pasokan energi dari angin memerlukan solusi penyimpanan yang andal agar pusat data selalu bisa beroperasi tanpa gangguan.
Namun, eksperimen semacam ini dapat menjadi solusi untuk masalah keterbatasan energi dan ruang yang dihadapi pusat data tradisional. Di sisi lain, China juga menguji pendekatan serupa dengan memulai prototipe pusat data bawah air yang menggunakan tenaga angin di Shanghai.
Implementasi dan potensi masa depan
Prototipe Aikido yang akan dirilis di Laut Utara ini merupakan langkah konkret pertama dalam menggabungkan teknologi pembangkit listrik tenaga angin dan pusat data dalam satu platform. Dengan kapasitas mencapai belasan megawatt per turbin, solusi ini dapat mendukung kebutuhan komputasi kecerdasan buatan yang terus berkembang.
Skala dan desain modular juga memungkinkan penambahan kapasitas secara fleksibel pada setiap turbin. Jika berhasil, proyek ini dapat membuka jalan bagi model pembangunan pusat data baru yang ramah lingkungan dan efisien secara biaya. Upaya ini sejalan dengan tren global mengurangi emisi karbon di sektor data teknologi informasi.
Penerapan pusat data di turbin angin lepas pantai juga memperlihatkan kolaborasi inovasi antara sektor energi terbarukan dan teknologi informasi. Ini menjadi alternatif menarik mengatasi kendala ruang, energi, dan lingkungan sekaligus meningkatkan ketersediaan layanan cloud dan AI secara global.
Dengan peluncuran prototipe pada akhir tahun ini, Aikido Technologies akan menunjukkan kelayakan sistem ini di lingkungan laut yang nyata. Keberhasilan proyek ini dapat menginspirasi pengembangan infrastruktur data center masa depan yang lebih hijau sekaligus mendukung target net-zero emisi.
