Jejak Kimia Senjata Hantu 3D Printing Terungkap, Namun Dominasi Pabrikan Filamen Besar Bikin Penelusuran Jadi Buntu

Peneliti dari Curtin University, Australia, tengah mengupayakan metode untuk melacak senjata “ghost guns” hasil cetak 3D melalui sidik jari kimiawi. Kolaborasi dengan ChemCentre, laboratorium forensik di Australia Barat, berfokus pada upaya menghubungkan bagian cetak ilegal dengan produsen pembuatnya.

Meskipun metode forensik kimiawi menjanjikan, tantangan besar muncul karena banyak filament cetak 3D diproduksi oleh sejumlah pabrik besar di China. Umumnya, pabrikan tersebut menjual produk filamentnya secara white-label ke berbagai merek lain sehingga merek yang tampak di pasaran belum tentu mencerminkan produsen asli.

Produksi Filament dan Kompleksitas Pelacakan
Sebagian besar filament, seperti PLA, ABS, dan PETG, dikendalikan oleh perusahaan seperti eSun, Sunlu, dan Polymaker. Misalnya, Sunlu dapat menghasilkan hingga dua juta gulungan filament setiap bulan. Sedangkan merek lokal seperti ProtoPasta di Amerika terlihat kecil jika dibandingkan.

Para peneliti mengakui, “variabilitas terbatas antar vendor memungkinkan produk mereka berasal dari pemasok yang sama atau opsi pemasok yang terbatas untuk pasar Australia.” Ini menunjukkan bahwa sidik kimia mungkin tidak cukup spesifik untuk menandai merek secara tepat.

Sidik Balistik dan Tantangan Senjata Cetak 3D
Metode forensik tradisional mengandalkan jejak balistik, di mana peluru meninggalkan bekas unik dari laras dan pin palu senjata api. Namun, senjata cetak 3D dari plastik tidak memiliki ciri khas seperti itu. Bahan plastik bisa rusak saat ditembakkan, dan senjata jenis ini juga tidak memuat nomor seri yang biasanya menjadi identitas legal.

Penelusuran Polimer sebagai Sidik Kimia
Dalam studi ini, peneliti mencari potensi fragmen plastik sebagai “sidik” kimia di lokasi kejadian atau pada amunisi. Mereka mengumpulkan 67 sampel filament mentah dan cetakan 3D yang tersedia secara lokal di Australia. Beberapa sampel disita oleh polisi Australia Barat, dan termasuk juga PLA berwarna dari Bambu Lab, merek printer 3D.

Percobaan dan Temuan Laboratorium
Sampel utama adalah PLA, dengan tambahan PETG dan ABS. Peneliti mengerik filament dan sampel cetak menggunakan skalpel, kemudian melakukan analisis menggunakan spektrometer ATR-FTIR. Hasilnya, alat ini gagal membedakan filament berdasarkan merek, warna, maupun apakah filament dalam bentuk mentah atau sudah dicetak.

Temuan lain yang mengejutkan adalah filament seringkali merupakan campuran bahan tidak terdaftar. Contohnya, filament PLA-Flex dari perusahaan Australia 3D Fillies mengandung kombinasi PLA dan PETG. Varian warna pelangi (Rainbow) dan tri-warna (Tri-Color) juga dianggap tidak memenuhi syarat kekuatan untuk pembuatan senjata.

Masalah Kontaminasi dan Keandalan Data
Seringkali ditemukan ABS dalam sampel PLA, mungkin akibat nozzle printer yang terkontaminasi bahan sebelumnya. Kondisi ini membuat lapisan pertama hasil cetak kurang dapat diandalkan untuk analisis ilmiah secara tepat.

Tantangan Pelacakan Merek Filament
Karena banyak merek menyimpan rantai produksi yang tersembunyi di balik white-label, sulit membedakan asal filament hanya dari komposisi kimianya. Produksi besar-besaran oleh pabrik utama di China menambah kesulitan mengaitkan sampel dengan produsen tertentu secara spesifik.

Berbagai temuan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi sidik kimia pada filament masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Peneliti berharap bisa meningkatkan akurasi metode untuk membantu penegak hukum mengaitkan senjata cetak 3D dengan sumber filament-nya.

Jika kemajuan ini berhasil, akan muncul alat baru yang bisa melengkapi forensik senjata tradisional. Hal ini krusial terutama untuk mengatasi tantangan kriminalitas modern yang memanfaatkan teknologi pencetakan 3D.

Sumber data yang akurat dan valid akan menjadi kunci dalam pendekatan forensik di masa mendatang. Pengembangan metode analisis material ini juga berpotensi membuka wawasan baru terkait pengendalian distribusi bahan untuk keperluan cetak 3D yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Exit mobile version