Polusi mikroplastik kini menjadi masalah global yang semakin mengkhawatirkan karena partikel plastik berukuran sangat kecil ini tersebar luas di lautan, sungai, tanah, bahkan dalam tubuh makhluk hidup. Mikroplastik terbentuk dari pecahan plastik yang sulit terurai seperti botol, kemasan, dan pakaian yang mengalami degradasi. Partikel ini tidak bisa terurai secara alami dan mudah tertelan oleh plankton serta ikan, sehingga memasuki rantai makanan dan menimbulkan dampak ekologis dan kesehatan yang serius.
Untuk mengatasi persoalan ini, sebuah inovasi menarik muncul berupa robot berbentuk ikan bernama Gilbert. Robot ini dirancang khusus untuk menyaring dan menelan mikroplastik seperti layaknya plankton. Gilbert adalah hasil karya Eleanor Mackintosh, mahasiswa yang mengikuti kompetisi Natural Robotics Contest dari University of Surrey di tahun 2022. Robot inovatif ini menggunakan teknologi 3D-printing dan hanya memerlukan pengetahuan elektronik dasar untuk pembuatannya, sehingga desainnya bersifat open source dan dapat direplikasi oleh siapa saja.
Bahaya Mikroplastik dalam Lingkungan
Mikroplastik merupakan potongan plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 10 juta ton plastik berakhir di lautan dunia. Karena ukuran kecilnya, mikroplastik mudah terhisap oleh plankton, yang merupakan sumber makanan utama ekosistem laut. Namun, konsumsi plastik oleh plankton secara tidak langsung menimbulkan akumulasi plastik di rantai makanan, termasuk pada ikan-ikan yang dikonsumsi oleh manusia.
Selain itu, mikroplastik ditemukan tidak hanya di laut, tapi juga di sungai, danau, bahkan tanah dan air hujan. Partikel plastik ini terakumulasi dan sulit dihilangkan karena tidak dapat terurai secara biologis. Oleh sebab itu, pengembangan teknologi untuk filter dan pembersihan mikroplastik menjadi sangat penting dan mendesak.
Cara Kerja Gilbert, Robot Penghisap Mikroplastik
Gilbert berbentuk ikan yang hampir mirip dengan ukuran ikan salmon. Robot ini memiliki ekor fleksibel yang memungkinkan gerakan menyerupai ikan asli. Di bagian kepala Gilbert terdapat rongga berbentuk mulut yang akan mengisap air sekelilingnya. Setelah rongga terisi air, mulut menutup dan ‘insang’ artifisial akan terbuka untuk menyaring air.
Saringan ini mampu mengangkat partikel mikroplastik dari air dan mengeluarkan air yang sudah bersih dari belakang. Sistem ini memungkinkan Gilbert membersihkan mikroplastik tanpa merusak hewan laut asli. Saat ini Gilbert masih dijalankan menggunakan baterai, namun rencana ke depan adalah agar robot bisa memanfaatkan mikroplastik sebagai sumber energi sendiri.
Keunggulan dan Potensi Pengembangan Gilbert
Gilbert menggunakan teknologi yang mudah diakses, yakni 3D printing dan komponen elektronik dasar. Karena desainnya terbuka untuk umum, robot ini dapat dikembangkan dan disesuaikan oleh berbagai pihak untuk kebutuhan lingkungan. Dengan robot seperti Gilbert, upaya pembersihan mikroplastik dapat dilakukan secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Kehadiran Gilbert juga menjadi inspirasi bagaimana teknologi robotik dapat diterapkan untuk mengatasi isu lingkungan yang kompleks dan tersebar secara global. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan secara massal, potensi pembersihan mikroplastik di lautan dan perairan lain bisa meningkat drastis.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam implementasi Gilbert dalam skala besar. Sampai saat ini, robot ini masih dalam tahap percobaan dan membutuhkan energi listrik dari baterai. Namun, dengan pengembangan teknologi konversi energi dari mikroplastik, Gilbert dapat menjadi robot mandiri yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, ketika teknologi ini mulai digunakan secara luas, diperlukan standarisasi keamanan agar Gilbert tidak mengganggu ekosistem asli. Dengan demikian, inovasi Gilbert memberikan arah baru dalam penanggulangan sampah plastik di laut melalui pendekatan teknologi robotik yang cerdas dan adaptif.
Penggunaan robot seperti Gilbert menawarkan solusi tambahan yang sangat dibutuhkan dalam menanggulangi krisis mikroplastik. Inovasi ini sekaligus membuka peluang bagi peneliti dan pembuat untuk berkolaborasi mengembangkan alat pembersih laut yang ramah lingkungan, efektif, dan terjangkau. Dengan langkah ini, diharapkan masa depan laut kita bisa lebih bersih dari ancaman mikroplastik yang membahayakan kehidupan.
