Gempa berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah Sintang, Kalimantan Barat, pada Jumat dini hari, 13 Maret 2026. Getaran ini diduga kuat berasal dari aktivitas sesar Adang, sebuah struktur patahan lama yang masih aktif secara tektonik di pulau Kalimantan.
Gempa tersebut tidak hanya dirasakan di Sintang, tetapi juga menyebar hingga ke wilayah sekitarnya seperti Sanggau, Katingan, dan Melawi. Meski intensitasnya relatif sedang, kejadian ini menunjukkan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya bebas dari ancaman gempa bumi, meskipun dianggap sebagai kawasan dengan aktivitas tektonik rendah.
Aktivitas Gempa di Kalimantan dan Karakteristik Sesar Adang
Pulau Kalimantan selama ini dipandang sebagai wilayah stabil secara geologi karena letaknya yang jauh dari zona subduksi utama di Indonesia. Menurut Daryono dari Pusat Studi Gempa Nasional, posisi di bagian interior Paparan Sunda membuat frekuensi gempa di pulau ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Namun, kestabilan tersebut tidak menghilangkan risiko sepenuhnya. Struktur patahan lama seperti sesar Adang masih menyimpan potensi aktivitas tektonik. Sesar ini membentang dari pesisir timur Kalimantan menuju bagian barat laut, melewati beberapa kabupaten termasuk Sintang, Sekadau, dan Sanggau, bahkan hingga perbatasan Indonesia–Malaysia di Entikong.
Sesar Adang dikenal sebagai patahan yang terbentuk sejak periode Tersier dan berbeda dengan sesar aktif di daerah lain seperti Jawa. Meski demikian, pergerakan kecil pada struktur ini dapat menciptakan gempa lokal. Interpretasi terkait kesinambungan sesar Adang hingga ke jalur Lupar di Sarawak masih menjadi bahan diskusi ilmiah karena belum ada bukti kuat mengenai hubungan kedua struktur tersebut.
Karakteristik Gempa Lokal di Kalimantan
Gempa-gempa yang terjadi di sekitar sesar Adang umumnya berkekuatan kecil hingga sedang dengan kedalaman dangkal. Kondisi ini menyebabkan getaran terasa cukup kuat secara lokal walaupun magnitudonya tidak terlalu besar. Fenomena seperti ini termasuk ke dalam kategori shallow crustal earthquake, di mana sumber gempa berada pada lapisan kerak bumi yang dangkal sehingga getaran tidak banyak teredam.
Pola gempa di Kalimantan sangat berbeda apabila dibandingkan dengan gempa megathrust di zona subduksi seperti di Sumatera. Gempa dari sesar lokal cenderung sporadis dan memiliki frekuensi lebih rendah, namun tetap perlu diperhatikan terutama karena potensi dampak yang signifikan di wilayah pemukiman.
Pentingnya Mitigasi dan Kajian Risiko Gempa di Kalimantan
Pembangunan pesat di Kalimantan seperti perumahan, infrastruktur, dan kawasan industri menuntut kesiapan menghadapi risiko bencana gempa bumi. Walau probabilitas gempa besar relatif kecil, pembangunan harus direncanakan dengan memperhatikan potensi bahaya gempa, terutama di zona-zona yang dilintasi sesar aktif seperti Adang.
Peningkatan kesadaran masyarakat dan pemerintah mengenai keberadaan sesar Adang dan potensi gempa lokal sangat krusial. Data historis gempa di kawasan Sintang menunjukkan bahwa aktivitas tektonik masih berlangsung meskipun dengan intensitas rendah dan jarang. Oleh sebab itu, mitigasi dan pemantauan geologi yang berkelanjutan perlu diintensifkan.
Gempa yang mengguncang Sintang kembali mengingatkan bahwa Kalimantan adalah wilayah dengan stabilitas tektonik relatif, bukan tanpa risiko. Dinamika kerak bumi di bawah pulau ini tetap berjalan dan sesar-sesar lama bisa aktif kembali kapan saja. Mengintegrasikan pemahaman ini ke dalam kebijakan pembangunan merupakan langkah penting untuk membangun Kalimantan yang lebih aman dan tangguh terhadap gempa bumi dan bencana terkait.





