Dome of the Rock Di Yerusalem Mengungkap Sejarah dan Makna Tersembunyi, Monumen Emas yang Bertahan Melampaui Zaman

Dome of the Rock adalah monumen Islam tertua yang masih berdiri di Yerusalem. Bangunan ini dibangun oleh Khalifah Abd al-Malik dari Dinasti Umayyah pada akhir abad ke-7 Masehi, tepatnya sekitar tahun 691. Terletak di atas Bukit Bait Suci atau al-Ḥaram al-Sharīf, lokasi ini memiliki arti penting bagi umat Islam dan umat Yahudi.

Sejarah Pendirian Dome of the Rock
Dome of the Rock dibangun di atas situs yang sebelumnya merupakan lokasi Bait Suci Yahudi dan kuil Romawi. Setelah wilayah Yerusalem dikuasai oleh umat Islam, Khalifah Abd al-Malik memerintahkan pembangunan monumen ini sebagai simbol kejayaan Islam. Bangunan ini telah mengalami berbagai perubahan, termasuk rusak akibat gempa dan periode Perang Salib di mana fungsinya sempat berubah menjadi gereja. Setelah Shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali Yerusalem, Dome of the Rock kembali menjadi tempat suci umat Islam.

Ketahanan dan Renovasi Besar
Sepanjang sejarahnya, Dome of the Rock menghadapi tantangan besar, khususnya dari bencana alam. Pada awal abad ke-20, gempa bumi hebat meretakkan dinding bangunan ini. Kemudian pada tahun 1950-an, dibawah pengelolaan Yordania, kubah yang semula dilapisi timah diganti dengan bahan lebih tahan lama. Pada tahun 1993, Raja Hussein dari Yordania menyumbangkan dana pribadi sebesar hasil penjualan rumahnya untuk melapisi kubah dengan 80 kilogram emas murni, sehingga kubah tersebut memancarkan kilauan yang menakjubkan hingga kini.

Perbedaan Dome of the Rock dan Masjid Al-Aqsa
Banyak orang keliru menyangka Dome of the Rock dan Masjid Al-Aqsa adalah bangunan yang sama. Sebenarnya, keduanya berbeda secara visual dan fungsi. Dome of the Rock menonjol dengan kubah emas di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif, berperan sebagai monumen bersejarah yang melindungi batu suci tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Masjid Al-Aqsa memiliki kubah abu-abu dan menjadi tempat utama untuk salat berjamaah.

Fungsi Dome of the Rock Sebagai Monumen, Bukan Masjid Utama
Dome of the Rock tidak dibangun untuk salat berjamaah, melainkan sebagai monumen suci sekaligus simbol kejayaan politik dan spiritual Islam. Pendirian bangunan ini juga menandai bahwa Islam adalah kelanjutan dari tradisi para nabi sebelumnya. Walaupun terdapat teori yang menyebutkan tujuan untuk mengalihkan ibadah haji, fakta modern menunjukkan bahwa fungsi utamanya adalah sebagai lambang dan pengingat sejarah agama Islam. Batu Fondasi di dalamnya juga disakralkan oleh umat Yahudi sebagai titik awal penciptaan dunia.

Arsitektur Mahakarya yang Memadukan Islam dan Bizantium
Desain Dome of the Rock sangat unik karena berbentuk dasar segi delapan. Bentuk ini terinspirasi dari arsitektur Bizantium namun dikembangkan menjadi mahakarya seni Islam yang khas. Kubah kayu berlapis emas dengan diameter sekitar 20 meter dikelilingi oleh pilar-pilar kokoh. Hiasan marmer dan mosaik di dinding serta kubah menggunakan kaligrafi Arab serta pola tumbuhan yang menggambarkan keindahan tanpa menggambarkan sosok manusia atau hewan, sesuai prinsip seni Islam.

Prasasti Tertua Al-Qur’an yang Tersimpan di Dalamnya
Salah satu keistimewaan Dome of the Rock adalah keberadaan prasasti sepanjang sekitar 240 meter yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an tertua di dunia. Prasasti ini menggunakan aksara Kufi kuno yang artistik, dengan isi kalimat Syahadat dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, prasasti juga menyebut nama Maryam dan Nabi Isa untuk menunjukkan pandangan Islam mengenai keesaan Tuhan. Prasasti tersebut menyimpan catatan sejarah penting karena mencantumkan tahun pembangunan monumen tersebut.

Makna Filosofis Dari Bentuk Segi Delapan
Bentuk segi delapan Dome of the Rock mempunyai makna filosofis mendalam. Dalam tradisi Islam, bentuk segi delapan menghubungkan simbol persegi mewakili bumi dengan lingkaran yang melambangkan kesempurnaan surga. Konfigurasi ini menggambarkan hubungan harmonis antara dunia dan alam spiritual. Bangunan ini menjadi simbol pertemuan antara dunia nyata dan kekuatan Tuhan melalui arsitektur yang artistik dan bermakna.

Dome of the Rock tetap menjadi ikon Yerusalem yang dihormati oleh berbagai agama. Meskipun situasi politik di kawasan ini terus berubah, keindahan arsitektur dan nilai spiritual monumen ini bertahan sebagai warisan penting umat manusia. Kompleks ini dikelola oleh lembaga Wakaf Muslim yang berpusat di Amman, Yordania, dengan pengawasan ketat tetapi tetap membuka akses bagi pengunjung dari berbagai penjuru dunia dengan aturan yang menghormati ketentuan keagamaan dan keamanan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button