5 Fakta Mengejutkan Ayam Brahma, Raksasa Daging yang Pernah Menguasai Pasar AS

Ayam Brahma dikenal sebagai salah satu ras unggas terbesar dengan postur tubuh yang mengesankan. Ukurannya sering dibandingkan dengan anak balita, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta ayam dan peternak. Tidak hanya fisiknya yang unik, sejarah ayam Brahma juga terukir kuat dalam dunia peternakan, khususnya di Amerika Serikat.

Brahma pernah menjadi primadona dalam industri daging unggas di AS sebelum kemunculan teknologi peternakan modern. Berikut adalah lima fakta menarik tentang ayam Brahma yang menunjukkan peran pentingnya dalam sejarah dan dunia peternakan saat ini.

1. Merajai Pasar Daging Unggas di Amerika Serikat

Ayam Brahma menjadi ras unggas penghasil daging utama di AS pada era 1850-an hingga 1920-an. Menurut laman Farm and Dairy, bobot tubuh yang sangat besar dari ayam ini menjadikannya sumber daging melimpah. Hal ini membuat peternak mengandalkan Brahma untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat sebelum teknologi peternakan efisien dikembangkan.

Kapasitas daging yang dihasilkan dalam sekali panen cukup besar sehingga cocok untuk konsumsi keluarga besar. Keunggulan tersebut menjadi alasan utama popularitas Brahma sebagai ayam pedaging unggulan pada masa itu.

2. Persilangan Unggas dari Berbagai Benua

Meski sering dikaitkan dengan Amerika, asal-usul genetik Brahma melibatkan persilangan berbagai ras ayam Asia. A-Z Animals menyebutkan Brahma dikembangkan melalui persilangan ayam impor Shanghai, seperti ras Cochin, dengan ayam Chittagong dari India pada tahun 1840-an.

Popularitasnya meningkat pesat saat seorang peternak bernama George Burnham mengirimkan ayam terbaik ke Ratu Victoria di Inggris. Karena keunikan bentuk dan nilai sejarahnya, ayam ini sempat menjadi komoditas yang sangat bernilai di kalangan bangsawan Eropa.

3. Raksasa Lembut yang Bersahabat

Ayam Brahma memiliki postur tegak setinggi hingga 76 cm dengan bulu tebal yang membuat tubuhnya tampak jauh lebih besar. Karakter ayam ini dikenal tenang, ramah, dan sangat toleran terhadap manusia maupun anak-anak. Sifat jinak ini menjadi nilai tambah dalam interaksi sehari-hari dengan pemiliknya.

Menurut A-Z Animals, Brahma sering dijuluki “raksasa lembut” karena meski ukurannya besar, mereka tidak menunjukkan perilaku agresif. Hal ini memudahkan pemilik ayam untuk menggendong dan memindahkan tanpa kesulitan berarti.

4. Fisik Khusus untuk Bertahan di Iklim Dingin

Bulu lebat yang menutupi seluruh tubuh hingga ke kaki menjadi ciri khas Brahma. Fitur fisik ini membantu mereka tetap aktif dan sehat di wilayah beriklim dingin seperti Amerika Utara dan Eropa. Akan tetapi, pemilik harus menjaga kandang agar tetap kering untuk menghindari masalah kesehatan akibat bulu kaki yang basah.

Karena berat tubuh yang cukup masif, Brahma tidak bisa terbang dengan baik. Maka dari itu, tempat bertengger dan sarang dibuat cukup rendah agar ayam tetap nyaman dan tidak cedera.

5. Produktivitas Telur di Musim Dingin

Selain diandalkan sebagai penghasil daging, ayam Brahma juga unggul sebagai petelur musim dingin. The Livestock Conservancy melaporkan bahwa Brahma mampu menghasilkan sampai 200 butir telur besar setiap tahun. Menariknya, kebanyakan telur dihasilkan selama bulan Oktober hingga Mei saat cuaca dingin.

Induk Brahma juga dikenal sangat rajin mengerami sarang. Namun, pemilik perlu berhati-hati agar anak ayam yang baru menetas tidak terinjak oleh induknya yang besar. Daya tahan tubuh kuat juga menjadi keunggulan lain dari ayam ini.

Ayam Brahma tidak hanya menjadi ikon sejarah dalam industri peternakan unggas, tetapi juga tetap diminati hingga kini. Ukuran besarnya dan sifatnya yang jinak memberikan nilai lebih bagi peternak di berbagai negara. Adaptasi fisik dan kemampuan bertelurnya yang unik menegaskan posisi ayam Brahma sebagai ras unggas yang luar biasa dan multifungsi dalam dunia peternakan modern.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version