D2D Masih Eksperimen, Standarisasi NTN dan Antena Baru Akan Mengubahnya

Author: Qoo Media

Direct-to-device (D2D) via satelit mulai diposisikan sebagai lapisan konektivitas baru yang bisa menjangkau ponsel tanpa perangkat tambahan. Namun, layanan ini masih berada dalam fase eksperimental karena standar teknis untuk non-terrestrial network (NTN) belum final, sehingga perlu waktu sebelum adopsi bisnis benar-benar meluas.

Dalam praktiknya, D2D saat ini paling banyak dipakai untuk SMS darurat, panggilan suara, dan layanan data berkecepatan rendah. Di sisi lain, arah pengembangannya sudah jelas: karena kapasitas jaringan meningkat dan antena generasi baru masuk orbit, daftar aplikasi data yang bisa didukung juga akan ikut bertambah.

D2D bergerak dari fitur darurat ke layanan data

D2D bekerja dengan memanfaatkan konstelasi satelit yang dirancang khusus untuk menghubungkan ponsel biasa ke jaringan ruang angkasa. Model ini memungkinkan operator seluler menambahkan fungsi pesan darurat dan panggilan suara ke layanan mereka tanpa membuat pelanggan memakai terminal satelit khusus.

Pada tahap awal, penggunaan D2D masih terbatas dan cenderung sederhana. Layanan yang mulai muncul biasanya mencakup navigasi, aplikasi cuaca, media sosial dengan konsumsi data rendah, serta layanan tertentu yang sudah diintegrasikan oleh mitra satelit seperti Starlink.

Perluasan fungsi data sangat bergantung pada kapasitas antena di orbit. Semakin besar throughput yang bisa diproses antena, semakin besar pula peluang aplikasi data yang lebih berat untuk dibawa ke perangkat pengguna.

Standardisasi NTN menjadi titik penentu

Salah satu hambatan utama D2D adalah standar yang belum matang. Kunci besar berikutnya diperkirakan muncul pada konferensi WRC-27 di Shanghai yang dijadwalkan berlangsung pada akhir 2027, saat kerangka NTN yang penting akan ditetapkan.

Sampai standar itu jelas, banyak layanan D2D akan tetap berada di tahap pilot, uji komersial, atau penawaran eksploratif. Artinya, pasar belum akan melihat model bisnis D2D yang benar-benar mapan sebagai sumber pendapatan utama.

Kondisi ini juga membuat telko bergerak hati-hati. Banyak operator memilih menjadikan D2D sebagai bonus gratis bagi pelanggan bernilai tinggi, lalu mengenakan biaya setelah periode promosi berakhir kepada pelanggan lain.

Strategi komersial masih beragam di kalangan telko

Sebagian operator memilih memberi D2D gratis kepada pelanggan premium untuk meningkatkan retensi dan persepsi merek. Sebagian lain menawarkannya ke semua pelanggan sebagai alat pemasaran, sementara operator tertentu membebankan biaya untuk pelanggan di luar jaringan yang ingin menambahkan fitur D2D.

Pola tersebut menunjukkan bahwa industri masih mencari formula terbaik antara monetisasi dan adopsi. Selama belum ada standar yang stabil, D2D lebih sering diperlakukan sebagai nilai tambah daripada produk mandiri dengan strategi pendapatan yang tegas.

Untuk pasar enterprise, tantangannya bahkan lebih besar. Perusahaan umumnya menunggu bukti yang lebih jelas tentang kualitas performa, keandalan layanan, dan struktur harga sebelum menandatangani komitmen jangka panjang.

Kenapa antena generasi baru penting

Perkembangan paling penting di sisi infrastruktur datang dari antena satelit generasi berikutnya. Starlink menargetkan peluncuran Space Mobile V2, sebuah konstelasi berisi 1.200 satelit D2D, yang diklaim menawarkan bandwidth lebih besar berkat antena dengan kemampuan memproses throughput 20 kali lipat dibanding antena D2D generasi pertama yang jumlahnya 650.

Di jalur berbeda, AST SpaceMobile juga mengembangkan armada antena LEO generasi baru, dimulai dengan Bluebird 6 yang direncanakan meluncur pada Desember 2025. Perusahaan itu mengandalkan ukuran antena yang besar sebagai pembeda, bukan volume konstelasi seperti pendekatan Starlink.

Perbedaan strategi ini penting karena kapasitas satelit sangat menentukan kualitas layanan data. Tanpa peningkatan antena, D2D akan terus terbatas pada fungsi pesan dan suara, bukan layanan yang lebih kaya data.

Posisi enterprise masih menunggu kepastian

Saat ini, sebagian besar kebutuhan korporasi masih dipenuhi oleh jaringan terestrial dan konektivitas satelit non-D2D melalui terminal khusus. Layanan seperti Starlink sudah berhasil menjangkau banyak pasar global lewat kerja sama dengan 15 merek mitra operator seluler.

Di tengah situasi ini, Amazon Leo berpotensi menjadi faktor pengubah pasar karena tengah membangun armada LEO sendiri dan disebut akan menyasar segmen enterprise. Tetapi, apakah Amazon Leo akan bermitra dengan operator untuk menawarkan ekosistem layanan masih belum jelas.

  1. D2D saat ini kuat di SMS, suara, dan data ringan.
  2. NTN standardisation menjadi prasyarat untuk adopsi komersial yang lebih luas.
  3. Antena generasi baru akan memperbesar kapasitas dan membuka lebih banyak use case data.
  4. Sektor enterprise masih menunggu bukti performa dan harga yang kompetitif.

Dengan arah seperti ini, masa depan D2D tampak sangat bergantung pada dua hal yang berjalan bersamaan: kepastian standar NTN dan lonjakan kemampuan antena di orbit. Jika keduanya bergerak sesuai rencana, D2D bisa bergeser dari layanan tambahan menjadi bagian penting dari strategi konektivitas operator dan pelanggan bisnis.

Terbaru