Data terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa 2025 masuk jajaran tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Bersama 2023 dan 2024, tahun itu membentuk rentang tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dengan rata-rata suhu global gabungan mencapai 1,48 derajat Celsius di atas era pra-industri, dengan ketidakpastian ± 0,13 derajat Celsius.
Temuan ini memperkuat sinyal bahwa pemanasan global belum melambat. Para ilmuwan menilai tren panas ekstrem tidak lagi sekadar anomali tahunan, melainkan cerminan dari akumulasi gas rumah kaca yang terus menumpuk di atmosfer.
Mengapa Bumi makin panas?
Pemanasan global terjadi saat suhu rata-rata permukaan Bumi naik dalam jangka panjang. National Geographic menjelaskan bahwa hal ini berbeda dari perubahan cuaca harian, karena pemanasan global adalah fondasi dari perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, gelombang panas, banjir, hingga kekeringan.
Penyebab utamanya tetap sama, yakni aktivitas manusia yang membakar bahan bakar fosil untuk listrik, transportasi, dan industri. Pembakaran itu melepaskan karbon dioksida dan gas rumah kaca lain yang menahan panas di atmosfer, sehingga energi yang seharusnya lepas ke luar angkasa justru terperangkap.
Lautan ikut menjadi penyangga utama panas berlebih itu. Studi yang terbit dalam Advances in Atmospheric Sciences pada awal tahun 2026 menyebutkan bahwa laut dan samudra mengalami suhu tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, yang menandakan panas global telah meresap jauh ke sistem Bumi.
Faktor yang membuat panas makin sulit ditahan
Selain emisi, ada sejumlah faktor alam dan kebijakan yang ikut membentuk kondisi panas pada 2025. Salah satunya adalah puncak aktivitas matahari, ketika Matahari melepaskan lebih banyak energi, radiasi, dan partikel ke ruang angkasa.
Maksimum aktivitas matahari dapat memperkuat pemanasan atmosfer dan mengganggu infrastruktur seperti satelit serta jaringan listrik. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini bukan penyebab utama perubahan iklim, karena pengaruh terbesar tetap datang dari gas rumah kaca buatan manusia.
Ada juga pengaruh sisa uap air dari letusan bawah laut Hunga Tonga–Hunga Ha’apai pada 2022. Menurut penjelasan yang dikutip dari Phys.org, uap air ekstra di stratosfer masih bisa memengaruhi kimia atmosfer selama beberapa tahun dan ikut berperan dalam dinamika iklim.
Kebijakan pelayaran internasional IMO 2020 juga masuk dalam perbincangan ilmiah. Aturan itu menurunkan emisi sulfur dioksida, yang memang baik untuk kualitas udara, tetapi aerosol sulfur sebelumnya juga berfungsi memantulkan sebagian cahaya Matahari sehingga efek pemanasan menjadi sedikit tertahan.
Apa arti laporan WMO untuk tahun-tahun berikutnya?
Laporan WMO memberi peringatan bahwa dunia sedang bergerak lebih cepat menuju ambang batas yang berisiko. Walau ada fase pendinginan sementara seperti La Niña, data 2023 hingga 2025 menunjukkan tren panas yang tetap tinggi dan rata-rata tiga tahunnya sudah melampaui 1,5 derajat Celsius.
Angka itu penting karena banyak kebijakan iklim global merujuk pada batas 1,5 derajat Celsius sebagai garis aman yang sangat sulit dilanggar. Jika rata-rata suhu global terus berada di atas ambang tersebut, risiko terhadap ekosistem, pertanian, kesehatan, dan ketersediaan air akan meningkat.
- Gelombang panas akan lebih sering terjadi dan lebih panjang.
- Kebakaran hutan berpotensi meluas, seperti yang juga diperingatkan UN Office for Disaster Risk Reduction.
- Lautan yang makin hangat dapat mempercepat pemutihan karang dan mengganggu rantai makanan laut.
- Cuaca ekstrem menjadi lebih sulit diprediksi oleh model iklim.
Dampak yang sudah terasa di lapangan
UNDRR melaporkan peningkatan kebakaran hutan di Eropa pada periode terbaru, yang memperburuk kualitas udara dan menghancurkan rumah warga serta kawasan hutan. Kondisi serupa menunjukkan bahwa dampak panas ekstrem tidak berhenti di angka statistik, tetapi langsung memukul kesehatan dan ekonomi masyarakat.
Di Indonesia, gelombang panas juga mulai lebih sering jadi keluhan publik pada awal musim yang biasanya masih dianggap wajar. Suhu yang terasa lebih menyengat memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terjadi di kutub atau negara maju, melainkan juga muncul di wilayah tropis.
Arah energi bersih belum cukup cepat
Di sisi lain, investasi energi terbarukan terus meningkat. Ember Energy mencatat China menggelontorkan lebih dari 625 miliar dolar AS atau sekitar Rp10,5 kuadriliun untuk energi bersih pada 2024, termasuk tenaga angin dan surya.
Langkah itu penting karena transisi dari batu bara, minyak, dan gas menuju energi yang lebih bersih menjadi satu-satunya cara untuk menahan laju pemanasan jangka panjang. Namun, selama emisi global belum turun secara signifikan, tren tahun-tahun terpanas masih berpotensi terus berulang dan memaksa dunia menghadapi cuaca yang kian ekstrem.
Source: www.idntimes.com








