Rusia telah meluncurkan 16 satelit pertama untuk konstelasi broadband Rassvet yang diposisikan sebagai penantang Starlink milik SpaceX. Peluncuran ini menandai langkah awal Moskow dalam membangun jaringan internet satelit orbit rendah yang dapat melayani kebutuhan sipil sekaligus komunikasi militer.
United24, media milik negara Ukraina, melaporkan bahwa sistem ini masih jauh dari skala yang dibutuhkan untuk menyaingi Starlink secara nyata. Hingga saat ini, Starlink memiliki lebih dari 9.000 satelit aktif dan melayani lebih dari 10 juta pelanggan di seluruh dunia.
Peluncuran perdana dan ambisi Rassvet
Peluncuran 16 satelit itu dilakukan menggunakan roket Soyuz dan dinyatakan berhasil. Satelit baru yang disebut Rassvet-3 itu disebut lebih mumpuni dibandingkan unit uji sebelumnya, tetapi jumlahnya masih terlalu kecil untuk memberi cakupan yang stabil dan merata.
Rassvet dirancang untuk mengembalikan kemampuan konektivitas yang sempat dinikmati unit militer Rusia sebelum akses Starlink diblokir di wilayah Ukraina. Dalam konteks perang modern, internet satelit bukan lagi sekadar layanan tambahan, melainkan bagian penting dari komando, koordinasi, dan pertukaran data di medan tempur.
Mengapa Starlink sulit dikejar
Keunggulan Starlink tidak hanya terletak pada jumlah satelit, tetapi juga pada skala layanan yang sudah matang. Jaringan milik SpaceX itu menawarkan ketersediaan luas, tingkat keandalan tinggi, dan jangkauan yang telah dipakai secara serius oleh pasukan garis depan Ukraina.
Bagi Rusia, membangun tiruan yang sebanding berarti harus menutup kesenjangan besar dalam jumlah satelit, kapasitas jaringan, dan infrastruktur pendukung. Dengan hanya 16 satelit aktif, Rassvet masih berada pada tahap awal yang lebih mirip validasi teknologi daripada sistem operasional penuh.
Berikut gambaran perbandingan skala beberapa konstelasi satelit besar yang sedang berkembang:
| Konstelasi | Jumlah satelit |
|---|---|
| Starlink | 9.000+ |
| Guowang | 150+ |
| Amazon Leo | 214 |
| Rassvet | 16 |
| IRIS² | 264 rencana |
Persaingan orbit rendah semakin ketat
Rassvet bukan satu-satunya proyek besar di orbit rendah Bumi. China tengah mengembangkan Guowang, Amazon menyiapkan Leo, dan Uni Eropa mendorong IRIS² untuk komunikasi aman bagi pemerintah dan militer pada 2030 dengan target 264 satelit.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa orbit rendah Bumi akan menjadi ruang persaingan strategis yang semakin padat. Setiap negara atau perusahaan yang ingin membangun jaringan serupa harus bersaing bukan hanya dalam teknologi, tetapi juga dalam kecepatan peluncuran dan skala investasi.
Dampak strategis bagi militer dan komunikasi
Satelit broadband seperti Starlink dan Rassvet punya nilai strategis karena mampu menyediakan konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat. Di medan perang, kemampuan ini dapat mendukung komunikasi terenkripsi, pengiriman koordinat, hingga operasional unit yang bergerak cepat.
Namun, reliabilitas tetap menjadi tantangan utama bagi Rassvet. Dengan jumlah satelit yang terbatas, cakupan layanan kemungkinan masih terputus-putus dan belum cukup untuk menggantikan sistem yang sudah mapan seperti Starlink.
Tantangan besar ke depan
Untuk menjadi alternatif yang serius, Rusia harus meluncurkan jauh lebih banyak satelit dalam waktu yang konsisten. Tanpa ekspansi besar, jaringan Rassvet hanya akan memberi konektivitas terbatas dan tidak akan mampu menyamai performa kompetitor global.
Di saat yang sama, pertumbuhan konstelasi satelit juga memunculkan masalah baru di orbit rendah Bumi. Semakin banyak satelit yang mengelilingi planet ini, semakin besar pula risiko puing antariksa yang dapat mengganggu operasi satelit lain dan meningkatkan kompleksitas keamanan ruang angkasa.









