Biru sering terlihat sebagai warna yang menenangkan dan digemari manusia, tetapi di alam warna ini justru jarang muncul. Para ilmuwan dari Universitas Adelaide di Australia menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah tidak adanya pigmen biru sejati yang benar-benar umum di alam, sebagaimana dikutip Popular Science.
Akibatnya, hewan dan tumbuhan yang tampak biru biasanya bukan membentuk warna itu secara langsung, melainkan memakai “trik” biologis. Mereka memantulkan cahaya dengan cara khusus, mengubah struktur permukaan tubuh, atau memanfaatkan campuran pigmen yang bekerja bersama cahaya.
Mengapa warna biru sulit muncul di alam
Warna yang terlihat pada makhluk hidup sangat bergantung pada pigmen dan cara pigmen itu berinteraksi dengan cahaya. Untuk tampak biru, organisme harus memantulkan cahaya biru berenergi tinggi sambil menyerap sebagian besar energi lain, dan proses ini tidak mudah dicapai secara biologis.
Pada tumbuhan, tantangannya bahkan lebih besar karena warna daun umumnya didominasi klorofil hijau. Klorofil membuat daun tampak hijau karena pigmen itu memantulkan cahaya hijau, sementara cahaya biru yang berenergi lebih tinggi justru lebih rumit untuk dipantulkan tanpa mengganggu fungsi dasar tanaman.
Hewan biru lebih sering memakai struktur, bukan pigmen
Pada banyak hewan, warna biru muncul dari struktur mikroskopis di permukaan tubuh, bukan dari zat warna biru. Struktur nano ini mengatur pantulan cahaya sehingga mata manusia menangkap warna biru yang kuat, atau kadang tampak ungu bergantung pada intensitas cahaya.
Contohnya terlihat pada tarantula biru elektrik atau Chilobrachys natanicharum yang ditemukan tim ilmuwan di Thailand. Warna birunya berasal dari struktur unik pada rambutnya, bukan pigmen, dan rambut tersebut bisa memunculkan rona ungu jika pencahayaan berubah.
Metode serupa juga menjelaskan kenapa beberapa hewan biru terlihat sangat mencolok. Warna itu bukan hasil produksi pigmen biru yang melimpah, melainkan akibat cara tubuh mereka mengelola cahaya masuk dan cahaya yang dipantulkan kembali.
Contoh hewan biru yang sangat langka
- Tarantula biru elektrik: warnanya muncul dari struktur rambut yang memantulkan cahaya.
- Lobster biru: menurut New England Aquarium, hanya sekitar 1 dari 2 juta lobster yang berwarna biru.
- Jangkrik mata biru: warna matanya berasal dari mutasi genetik yang sangat jarang, sekitar satu dari sejuta.
- Lebah tukang kayu biru: spesies ini hidup di Asia Tenggara, India, dan China Selatan, serta dikenal dengan rona biru langitnya.
Data itu menunjukkan bahwa warna biru pada hewan bukan sekadar variasi estetika. Dalam banyak kasus, warna tersebut muncul karena perubahan genetik yang langka atau susunan mikro pada tubuh yang memanipulasi cahaya.
Mengapa tumbuhan biru lebih jarang lagi
Pada tumbuhan, bunga biru memang ada, tetapi jumlahnya sedikit dibanding warna lain. Kurang dari 1 dari 10 spesies tanaman diketahui berwarna biru, dan bahkan blueberry secara teknis tidak benar-benar biru.
Bunga seperti hydrangea, bluebell, dan morning glory bisa terlihat biru karena tanaman mengombinasikan pigmen alami dengan perubahan keasaman. Antosianin, pigmen merah yang umum pada tumbuhan, dapat berubah tampilan warnanya ketika pH berubah dan saat berpadu dengan cahaya yang dipantulkan.
Namun untuk daun, biru hampir tidak pernah muncul. Daun biru berarti tanaman harus memantulkan cahaya berenergi tinggi, padahal pilihan ini dinilai tidak efisien dan bisa membatasi pertumbuhan.
Dampak biologis dari warna biru
Warna biru memang dapat membantu beberapa spesies menarik penyerbuk, terutama serangga seperti lebah. Tetapi pada banyak organisme, biaya biologis untuk menghasilkan tampilan biru lebih besar daripada manfaatnya, sehingga evolusi tidak “mendorong” warna ini menjadi umum.
Itulah sebabnya warna biru sering muncul sebagai pengecualian, bukan aturan. Di alam, biru lebih sering menjadi hasil rekayasa struktur, perubahan kimia, atau mutasi langka, bukan warna dasar yang mudah dibentuk.
Source: www.idntimes.com








