Peneliti di Australia berhasil membuat prototipe kerja quantum battery yang disebut sebagai capaian pertama di dunia. Temuan ini memicu perhatian besar karena teknologi tersebut berpotensi mengubah cara kendaraan listrik mengisi daya, dari hitungan menit atau jam menjadi sangat cepat, lalu menyimpan energi lebih lama.
Dalam uji awal, prototipe itu sudah melewati siklus penuh charge-store-discharge. CSIRO, lembaga sains nasional Australia, menjelaskan bahwa baterai kuantum memakai cahaya dan interaksi kuantum untuk menyimpan energi, berbeda dari baterai konvensional yang bergantung pada reaksi kimia.
Apa yang membuat quantum battery berbeda
Baterai listrik yang umum dipakai saat ini menghadapi tantangan dasar: semakin besar kapasitasnya, biasanya semakin lama pula waktu pengisian. Quantum battery justru menunjukkan arah yang berlawanan, karena proses pengisian bisa menjadi lebih cepat saat skalanya membesar.
Fenomena ini berkaitan dengan “collective effect”, yaitu saat komponen dalam sistem kuantum bekerja bersama dan membuat waktu pengisian turun. Pada prototipe CSIRO, pengisian berlangsung dalam skala waktu femodetik dan energi disimpan selama nanodetik, yang berarti ada peningkatan sekitar enam orde besaran pada durasi penyimpanan dibanding proses singkat pengisian.
Mengapa temuan ini penting bagi mobil listrik
Bagi industri EV, kecepatan isi daya dan daya tahan baterai adalah dua masalah utama yang masih menghambat adopsi massal. Jika konsep quantum battery bisa dikembangkan ke ukuran yang lebih besar, teknologi ini bisa menawarkan pengisian supercepat dan masa simpan energi yang jauh lebih panjang.
Potensi lain yang dianggap menarik adalah pengisian jarak jauh atau nirkabel. Dengan mekanisme berbasis laser yang mengubah cahaya menjadi arus listrik, kendaraan atau drone secara teoritis dapat terus menerima daya tanpa harus berhenti lama di stasiun pengisian.
Ringkasan fakta utama dari prototipe CSIRO
- Prototipe quantum battery berhasil dibuat dan diuji dalam siklus penuh.
- Pengisian memakai cahaya dan interaksi kuantum, bukan reaksi kimia seperti baterai biasa.
- Proses pengisian berlangsung sangat cepat, dalam skala femodetik.
- Energi tersimpan selama nanodetik, dan skala ini dinilai lebih panjang sekitar enam orde besaran.
- Saat ukuran sistem membesar, waktu pengisian justru berpotensi makin singkat.
Apa tahap berikutnya
Para peneliti masih perlu menaikkan skala teknologi ini agar kapasitas penyimpanan lebih besar dan durasi simpan energi lebih panjang. Saat ini, aplikasi paling realistis masih berada di level perangkat kecil atau komputasi kuantum, bukan langsung pada mobil listrik massal.
Secara ilmiah, kemajuan ini penting karena gagasan quantum battery baru muncul sebagai teori sekitar 2013, lalu kini bergerak ke tahap proof of concept yang benar-benar bekerja. Meski jalan menuju kendaraan listrik yang bisa dicas dalam hitungan detik masih panjang, hasil ini menunjukkan bahwa batasan lama pada teknologi baterai mungkin tidak akan berlaku selamanya.









