Surai Singa Jantan Bukan Pelindung, Ini Sinyal Kekuatan yang Dipilih Betina

Singa jantan memiliki surai karena bagian tubuh itu berperan sebagai sinyal visual yang kuat, bukan sekadar hiasan alami. Surai membantu menunjukkan kondisi fisik, tingkat kesehatan, dan kualitas genetik seekor pejantan kepada singa betina.

Pada pandangan lama, surai sempat dianggap sebagai pelindung leher saat bertarung. Namun, temuan ilmiah yang dirangkum dalam The Conversation menunjukkan bahwa singa biasanya tidak menyerang leher lawannya ketika berkelahi, melainkan bagian punggung. Itu membuat fungsi perlindungan menjadi penjelasan yang kurang kuat.

Surai sebagai tanda dominasi dan kualitas pejantan

Bagi singa, penampilan tidak hanya soal tampak gagah. Surai yang lebat dan gelap dapat menjadi petunjuk bahwa pejantan berada dalam kondisi prima dan mampu bertahan hidup di alam liar.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Science pada tahun 2002 menunjukkan bahwa singa betina cenderung lebih menyukai pejantan dengan surai berwarna gelap. Surai seperti ini dinilai mencerminkan tubuh yang sehat, kuat, dan tidak sedang mengalami stres berat atau kekurangan makanan.

Sebaliknya, surai yang pucat atau jarang bisa menjadi sinyal sebaliknya. Kondisi itu dapat menandakan singa sedang sakit, kekurangan nutrisi, atau mengalami tekanan lingkungan.

Mengapa hanya singa jantan yang punya surai?

Alasan utama ada pada hormon testosteron. Surai mulai tumbuh ketika singa jantan memasuki masa kematangan seksual, lalu berkembang lebih jelas saat mereka dewasa.

Pada singa Afrika, anak jantan biasanya mulai menumbuhkan surai sekitar usia 18 bulan. Semakin tinggi kadar testosteron, semakin tebal dan jelas surai yang tumbuh.

Berikut hubungan sederhananya:

  1. Testosteron meningkat saat singa jantan matang secara seksual.
  2. Surai mulai terlihat dan terus berkembang seiring pertumbuhan.
  3. Surai yang sehat menjadi sinyal kesiapan berkembang biak.
  4. Jika testosteron turun, surai bisa menipis atau hilang.

Keterkaitan itu juga terlihat pada pejantan yang dikebiri. Saat tubuh berhenti memproduksi testosteron, surainya dapat rontok karena hormon tersebut tidak lagi mendukung pertumbuhannya.

Apakah singa betina bisa memiliki surai?

Meski sangat jarang, singa betina juga bisa menumbuhkan surai. Kasus ini dilaporkan pada beberapa individu di kebun binatang maupun di alam liar, tetapi kondisi itu bukan hal yang normal.

Salah satu contoh datang dari National Zoological Gardens of South Africa, ketika seekor singa betina diketahui memiliki surai. Studi lain juga mencatat singa betina bersurai di Oklahoma City Zoo serta lima singa betina liar di Moremi Game Reserve, Botswana, yang dilaporkan dalam African Journal of Ecology.

Dalam salah satu kasus, temuan medis menunjukkan adanya kadar testosteron yang tinggi pada singa betina. Setelah hewan itu mati, peneliti menemukan tumor jinak pada ovarium yang diduga memicu gangguan hormon tersebut.

Singa betina bersurai dan perilaku jantan

Temuan menarik lain muncul dari laporan New Scientist. Seekor singa betina bersurai bernama SaF05 tidak hanya tampak berbeda, tetapi juga menunjukkan perilaku yang lebih mirip jantan.

SaF05 tercatat mengaum, menandai wilayah, dan bahkan membunuh dua anaknya. Perilaku seperti itu lebih umum pada singa jantan, sehingga para peneliti menilai adanya kaitan kuat antara surai, hormon, dan karakter perilaku.

Surai pada singa jantan akhirnya dipahami sebagai indikator biologis yang penting. Struktur ini membantu singa betina menilai kekuatan pejantan, sementara bagi pengamat satwa, surai menjadi petunjuk menarik tentang kesehatan, hormon, dan posisi sosial seekor singa di habitatnya.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait

Back to top button