Lebaran Ketupat Di Jawa, Jejak Dakwah Sunan Kalijaga Yang Masih Lestari

Tradisi Lebaran Ketupat masih hidup di sejumlah daerah Jawa, terutama di wilayah pesisir utara seperti Kudus, Pati, dan Rembang. Perayaan ini muncul sebagai bagian dari cara masyarakat Muslim menyemarakkan Idul Fitri, tetapi waktunya berbeda karena digelar sekitar tujuh hari setelah lebaran.

Bagi banyak warga, momen ini bukan sekadar menyajikan makanan khas, melainkan juga ruang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Di beberapa daerah lain, tradisi ini juga dikenal dengan nama berbeda, seperti Kenduri Ketupat di Klaten.

Tradisi yang Tumbuh Setelah Idul Fitri

Lebaran Ketupat biasa dirayakan setelah umat Islam menunaikan puasa Syawal pada awal bulan Syawal. Karena itu, tradisi ini sering disebut sebagai “hari raya kecil” yang menandai penutup rangkaian Syawalan di sebagian masyarakat Jawa.

Di Kudus dan wilayah sekitarnya, warga biasanya membagikan ketupat kepada kerabat dan tetangga. Kebiasaan ini memperkuat ikatan sosial, sekaligus menjadi bentuk syukur atas datangnya hari kemenangan setelah Ramadan.

Makna Simbolik di Balik Ketupat

Ketupat memiliki tempat penting dalam budaya Jawa karena tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga simbol moral dan spiritual. Dalam penjelasan yang berkembang di masyarakat, kata ketupat kerap dimaknai sebagai singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.

Makna itu selaras dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran. Penyajian ketupat di meja makan juga menegaskan pesan bahwa manusia perlu rendah hati dan membuka ruang rekonsiliasi.

Janur yang membungkus ketupat juga menyimpan simbol tersendiri. Dalam tafsir budaya Jawa, janur dihubungkan dengan istilah “jatining nur” atau hati nurani, sedangkan beras di dalamnya melambangkan nafsu duniawi yang perlu dikendalikan.

Simbol Relasi Manusia dan Kehidupan

Bentuk anyaman ketupat yang rumit sering dipandang sebagai gambaran kehidupan sosial masyarakat Jawa. Anyaman itu saling terikat, tetapi tetap membentuk satu wadah utuh, sehingga dipahami sebagai simbol pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.

Ketupat juga dikaitkan dengan filosofi “kiblat papat limo pancer”. Konsep ini menggambarkan empat arah mata angin dan satu pusat, yang dimaknai sebagai pengingat agar manusia tetap mengarah pada Tuhan ke mana pun ia pergi.

Jejak Sejarah dari Masa Hindu-Buddha ke Dakwah Islam

Sebelum menjadi bagian dari tradisi Lebaran, ketupat sudah dikenal pada masa Kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Saat itu, ketupat digunakan dalam sesajen dan dikaitkan dengan penghormatan kepada Dewi Sri, tokoh yang dipercaya membawa kesuburan dan hasil pertanian.

Perubahan besar terjadi ketika Islam masuk ke Nusantara. Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, dikenal memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari dakwah yang menyesuaikan diri dengan budaya lokal, bukan menolaknya.

Melalui pendekatan akulturasi itu, ketupat diubah maknanya menjadi simbol syukur kepada Tuhan. Tradisi ini kemudian melekat pada perayaan Idul Fitri dan Syawalan sebagai sarana dakwah yang lembut dan mudah diterima masyarakat.

Nama, Bentuk, dan Ragam Penyebutan di Daerah

Di banyak wilayah Jawa, tradisi ini tetap dipertahankan dengan ciri lokal masing-masing. Berikut beberapa penyebutan yang dikenal luas:

  1. Lebaran Ketupat
  2. Lebaran Kupat
  3. Kenduri Ketupat

Perbedaan istilah itu menunjukkan bahwa tradisi ini tumbuh dalam konteks budaya yang beragam, tetapi tetap membawa pesan yang sama, yaitu kebersamaan, syukur, dan silaturahmi.

Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat modern, Lebaran Ketupat masih bertahan sebagai warisan budaya yang hidup. Tradisi ini terus dipraktikkan karena mampu menjembatani nilai keagamaan, kearifan lokal, dan hubungan sosial dalam satu perayaan yang sederhana namun bermakna.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version