AI Ubah Lanskap Ancaman Siber, Akamai Deteksi Serangan Lateral Dalam Menit

Ancaman siber kini bergerak lebih cepat dan lebih cerdas, sehingga banyak organisasi tidak lagi hanya menghadapi serangan dari luar jaringan. Akamai Technologies menilai pola baru ini didorong oleh pergerakan lateral berkecepatan tinggi, yang memungkinkan penyerang berpindah dari satu titik masuk ke aset penting dalam waktu sangat singkat.

Perubahan ini juga membuat pertahanan tradisional semakin sulit bekerja efektif, terutama di lingkungan hibrida dan cloud yang kompleks. Dalam laporan terbarunya, Akamai menyebut otomatisasi dan kecerdasan buatan telah mempercepat proses pemetaan celah, perpindahan antar workload, hingga potensi eskalasi serangan ransomware.

Serangan lateral makin sulit dideteksi

Pergerakan lateral adalah teknik ketika penyerang yang sudah masuk ke satu perangkat mencoba menjelajah ke perangkat lain di jaringan yang sama. Cara ini memberi mereka waktu untuk mencari akses lebih luas sebelum tim keamanan menyadari adanya pelanggaran.

Akamai menilai pola ini kini berubah menjadi jauh lebih agresif karena pelaku memanfaatkan AI untuk mempercepat pencarian jalur serangan. Akibatnya, perpindahan dari satu sistem ke sistem lain bisa terjadi lebih cepat daripada kemampuan tim keamanan untuk mendeteksi dan merespons.

AI ikut mengubah taktik para peretas

Penggunaan AI dalam serangan siber membuat proses eksplorasi jaringan menjadi lebih efisien, sistematis, dan sulit diprediksi. Teknologi ini membantu pelaku ancaman mengidentifikasi titik lemah lebih cepat, lalu menyesuaikan langkah berikutnya tanpa banyak intervensi manual.

Kondisi itu menjadi perhatian serius karena organisasi kini menghadapi risiko penyebaran serangan dalam skala besar. Akamai menyebut pola ini sering menjadi pemicu utama ransomware yang menyebar di infrastruktur hibrida maupun cloud.

Akamai ubah pendekatan segmentasi jaringan

Menanggapi ancaman tersebut, Akamai menambahkan kapabilitas AI ke dalam Akamai Guardicore Segmentation. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat penerapan segmentasi jaringan yang lebih adaptif dan tidak bergantung pada konfigurasi manual yang rumit.

Senior Vice President sekaligus General Manager Enterprise Security Akamai, Ofer Wolf, mengatakan pembaruan ini lahir dari analisis lebih dari 500 proyek segmentasi di berbagai negara. “Kami menganalisis berbagai hambatan umum di bidang teknologi dan perilaku manusia. Wawasan tersebut menjadi panduan untuk menerapkan segmentasi berbasis AI di seluruh siklus pengendalian risiko, mulai dari penemuan berkelanjutan hingga respons cepat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/3/2026).

Fitur baru yang disorot Akamai

Berikut beberapa kemampuan yang diusung dalam pendekatan baru tersebut:

  1. Sistem dapat menemukan perilaku aplikasi secara otomatis.
  2. Sistem mampu menghasilkan kebijakan segmentasi dalam skala besar.
  3. Simulasi dampak kebijakan bisa dilakukan sebelum penerapan.
  4. Pemilik aplikasi mendapat peran langsung lewat portal khusus.
  5. Proses persetujuan kebijakan menjadi lebih cepat dan lebih terstruktur.

Dengan alur kerja yang didelegasikan kepada pemilik aplikasi, Akamai berharap hambatan antara tim keamanan dan tim operasional bisa berkurang. Pendekatan ini juga membantu perusahaan menekan risiko salah konfigurasi yang kerap muncul saat kebijakan keamanan disusun terlalu lambat atau terlalu kaku.

Mengapa perusahaan perlu bergerak sekarang

Tekanan terhadap perusahaan tidak hanya datang dari serangan yang makin cepat, tetapi juga dari audit, kepatuhan, dan tuntutan kedaulatan data. Dalam situasi ini, banyak organisasi harus menjaga keamanan tanpa menambah beban personel secara besar-besaran.

Akamai menekankan bahwa kemampuan mengurangi permukaan serangan secara terukur menjadi faktor penting bagi resiliensi bisnis. Hal ini semakin relevan ketika beban kerja modern tersebar di lingkungan TI hibrida, cloud, dan Kubernetes yang saling terhubung.

Di tengah perubahan pola ancaman tersebut, strategi keamanan tidak lagi cukup mengandalkan deteksi di titik awal serangan. Organisasi kini perlu mempersulit pergerakan penyerang di dalam jaringan, karena justru fase itulah yang sering menentukan apakah serangan berhenti di satu titik atau berkembang menjadi insiden besar.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button