Lukisan ikonik Edvard Munch, The Scream, diprediksi hanya mengalami perubahan visual terbatas dalam 300 tahun ke depan. Prediksi itu muncul berkat alat digital bernama Light Damage Estimator yang dikembangkan peneliti dari Norwegian University of Science and Technology untuk memetakan dampak cahaya terhadap pigmen cat.
Temuan ini memberi gambaran baru tentang masa depan karya seni yang selama ini hanya bisa dibayangkan secara spekulatif. Dengan analisis berbasis data, gambar masa depan The Scream justru tampak masih sangat dekat dengan kondisi aslinya, meski beberapa area warna terlihat memudar.
Cara alat ini memprediksi perubahan lukisan
Tim peneliti lebih dulu memeriksa komposisi kimia bahan cat pada lukisan itu menggunakan sinar-X. Dari sana, mereka mengidentifikasi pigmen utama yang dipakai Munch, termasuk cinnabar pada warna merah langit, cadmium untuk kuning, serta cobalt pada cobalt blue dan ultramarine.
Irina-Mihaela Ciortan, kandidat doktor bidang ilmu komputer di universitas tersebut, menjelaskan bahwa penemuan merkuri pada sapuan merah menjadi petunjuk penting. Ia menyebut hal itu membantu memastikan bahwa Munch menggunakan cinnabar, mineral yang mengandung merkuri.
Simulasi penuaan dilakukan di ruang uji iklim
Setelah komposisi pigmen dipetakan, para kolaborator di Italia membuat sampel kecil yang meniru bagian-bagian lukisan. Sampel itu kemudian ditempatkan dalam climate chamber dan dipercepat proses penuaannya lewat paparan cahaya dan kelembapan yang berbeda.
Peneliti mengamati perubahan warna dan permukaan pada sampel itu, lalu menghitung bagaimana waktu singkat di ruang uji setara dengan tahun-tahun paparan di museum. Dari proses ini lahirlah alat Light Damage Estimator yang bisa disesuaikan berdasarkan warna, sumber cahaya, intensitas, dan lama paparan.
Bagian mana yang paling berubah
Hasil prediksi menunjukkan bahwa perubahan tidak merata di seluruh permukaan lukisan. Beberapa bagian lebih cepat memudar karena pigmen dan bahan pengikat yang berbeda, terutama pada area biru yang memakai ultramarine dengan jenis binder yang tidak sama.
Berikut ringkasan faktor yang paling memengaruhi perubahan The Scream menurut peneliti:
- Pigmen merah berbasis cinnabar lebih rentan terhadap kerusakan cahaya.
- Pigmen kuning cadmium juga termasuk yang paling sensitif.
- Area biru mengalami pemudaran tidak seragam karena perbedaan binder.
- Intensitas cahaya dan durasi paparan menentukan laju degradasi warna.
- Kelembapan ikut mempercepat perubahan pada sampel dalam uji iklim.
Seberapa realistis prediksi untuk karya lain
Saat ini, alat tersebut belum bisa langsung digunakan untuk semua karya seni. Penerapannya masih terbatas pada The Scream dan beberapa lukisan tertentu karena sistemnya membutuhkan data detail tentang pigmen dan binder yang digunakan, serta sebarannya di seluruh permukaan karya.
Irina-Mihaela menegaskan masih banyak pekerjaan teknis sebelum alat itu bisa dipakai secara luas. Tanpa informasi bahan yang sangat spesifik, hasil prediksi belum bisa dianggap cukup akurat untuk lukisan lain.
Arti penting bagi konservasi seni
Pendekatan ini memberi manfaat besar bagi museum dan konservator karena mereka bisa memperkirakan risiko kerusakan sebelum karya dipamerkan terlalu lama di bawah pencahayaan tertentu. Teknologi seperti ini juga membuka cara baru untuk melindungi warisan budaya dari kerusakan bertahap yang sering tidak terlihat oleh pengunjung.
Untuk saat ini, hasil prediksi justru memberi kabar yang cukup melegakan: The Scream tidak berubah drastis meski waktu terus berjalan. Yang tampak paling jelas adalah bahwa seni klasik tetap bergantung pada perawatan, sementara teknologi kini membantu membaca masa depannya dengan lebih presisi.









