Banyak orang membayangkan Bulan sebagai benda langit yang sunyi, kering, dan tak berbau. Namun, laporan para astronot justru menunjukkan hal yang menarik: debu Bulan disebut memiliki aroma mirip bubuk mesiu atau kembang api yang baru terbakar.
Pengalaman itu bukan muncul saat mereka berdiri di permukaan Bulan, melainkan ketika kembali ke modul pendaratan. Di lingkungan Bulan yang nyaris tanpa atmosfer, partikel debu menempel pada pakaian, sepatu, dan perlengkapan, lalu bau khasnya tercium saat para astronot membuka helm di ruang bertekanan.
Apa yang sebenarnya membentuk Bulan?
Bulan tidak tersusun dari lapisan tunggal. Satelit alami Bumi ini memiliki permukaan berdebu, kerak batuan silikat, mantel batuan padat, lapisan lelehan sebagian, inti luar yang mengandung besi cair bercampur belerang, serta inti dalam yang didominasi besi padat.
Permukaan Bulan ditutupi regolith, yaitu debu kering dan pecahan batuan kecil hasil proses tumbukan selama miliaran tahun. Di bawahnya ada batuan keras, kawah, dan dataran luas yang menjadi saksi sejarah geologi Bulan yang sangat tua.
Mengapa Bulan bisa tercium seperti bubuk mesiu?
Astronom fisik yang ikut dalam misi Apollo 17, Harrison Schmitt, pernah mengatakan bahwa bau Bulan sekilas mirip mesiu. Ia menyebut butuh waktu beberapa menit sebelum benar-benar mengenali aroma itu, karena bau tersebut baru terasa setelah debu Bulan terbawa masuk ke kabin.
Larry Taylor dari University of Tennessee di Knoxville juga menjelaskan bahwa bau itu mirip aroma yang muncul saat geolog mengebor atau menggali batuan. Menurut penjelasannya, bau semacam ini bisa bertahan karena material Bulan punya kandungan oksigen yang sangat rendah, sekitar 43% dalam konteks tertentu pada batuan dan mineralnya, sehingga reaksinya berbeda dengan batuan di Bumi.
Fakta ilmiah di balik aroma “mesiu”
Sumber ilmiah dan pengalaman astronot menunjukkan bahwa bau khas Bulan kemungkinan besar berasal dari proses kimia dan fisik yang terjadi pada debu dan batuan halusnya. Para ilmuwan menilai ada beberapa penjelasan yang masuk akal, dan tidak semuanya saling meniadakan.
- Tumbukan meteorit di masa lalu menghancurkan batuan basal dan anorthosit menjadi debu sangat halus.
- Debu Bulan mungkin bereaksi ketika bersentuhan dengan udara lembap atau oksigen di dalam modul.
- Ion dari angin matahari bisa terperangkap dalam debu lalu dilepaskan saat berada di lingkungan berudara.
- Oksidasi awal pada partikel debu saat pertama kali masuk kabin dapat memunculkan aroma terbakar.
Dalam kondisi vakum, bau tidak bisa menyebar seperti di Bumi. Karena itu, para astronot tidak “mencium Bulan” secara langsung di permukaannya, melainkan melalui debu yang mereka bawa masuk ke lingkungan berudara.
Mengapa debu Bulan terasa begitu berbeda?
Debu Bulan sangat halus, tajam, dan reaktif. Tidak seperti debu Bumi yang sering terkikis oleh air dan angin, debu Bulan terbentuk tanpa proses pelapukan yang biasa kita temui di planet ini.
Karakter debu itu membuatnya mudah menempel, sulit dibersihkan, dan berpotensi memicu reaksi saat kontak dengan udara atau material lain. Itulah sebabnya, selain aroma yang aneh, debu Bulan juga menjadi perhatian serius dalam misi antariksa karena dapat mengganggu alat, pakaian, dan kesehatan astronot.
Ringkasnya, bau Bulan bukan mitos tanpa dasar
Laporan astronot, termasuk dari misi Apollo, memberi petunjuk kuat bahwa debu Bulan memang bisa mengeluarkan aroma yang menyerupai bubuk mesiu. Namun, bau itu bukan berasal dari “udara Bulan”, melainkan dari reaksi debu dan batuan halusnya setelah kembali bersentuhan dengan lingkungan kabin yang beroksigen.
Penjelasan ini membuat Bulan makin menarik dipelajari, karena satelit yang terlihat tenang dari Bumi ternyata menyimpan jejak tumbukan purba, mineral reaktif, dan proses kimia yang masih terus diteliti hingga sekarang.
Source: www.idntimes.com








