Banyak orang bertanya apakah hewan bisa mengalami gangguan mental seperti manusia. Jawabannya, berdasarkan temuan ilmiah terbaru, adalah ya, tetapi bentuk dan tingkatannya tidak selalu sama dengan gangguan mental pada manusia.
Para peneliti menjelaskan bahwa sejumlah hewan dapat menunjukkan perilaku cemas, kompulsif, atau trauma yang mirip dengan gejala pada manusia. Namun, diagnosis pada hewan tidak bisa mengandalkan cerita dari pasien, melainkan harus bertumpu pada pengamatan perilaku, riwayat lingkungan, dan evaluasi dokter hewan.
Hewan juga bisa mengalami gangguan emosional
Sejumlah ahli yang dikutip dari Popular Science menilai bahwa sebagian besar mamalia, dan kemungkinan beberapa burung, dapat merasakan kecemasan. Dalam praktiknya, dokter hewan sering menemukan tanda seperti mondar-mandir, gemetar, kehilangan bulu, hingga perilaku berulang yang sulit dikendalikan.
Pada hewan peliharaan, gejala itu bisa muncul saat terjadi perubahan besar di lingkungan, kurang stimulasi, atau pengalaman traumatis. Anjing yang diabaikan, misalnya, dapat memperlihatkan agresi impulsif, sementara kucing bisa bereaksi dengan perilaku kompulsif atau menarik diri.
Mengapa diagnosis pada hewan berbeda
Perbedaan utama ada pada cara menilai kondisi mental. Dalam dunia medis pada manusia, gangguan seperti Generalized Anxiety Disorder atau gangguan obsesif-kompulsif merujuk pada kriteria klinis yang jelas, termasuk kekhawatiran berlebihan dan kesulitan mengendalikannya.
Pada hewan, dokter hewan memang bisa mendiagnosis kecemasan atau perilaku obsesif-kompulsif, tetapi mereka tidak dapat memastikan isi pikiran hewan secara langsung. Artinya, penilaian hanya bisa dilakukan lewat tanda fisik, perubahan perilaku, dan respons hewan terhadap rangsangan tertentu.
Apa yang membedakan hewan dan manusia
Temuan neurosains menunjukkan bahwa pemrosesan emosi pada hewan dan manusia sama-sama melibatkan amigdala. Bagian otak itu berperan penting dalam mengatur rasa takut, cemas, dan respons terhadap ancaman.
Meski begitu, tidak semua bentuk gangguan mental pada manusia punya padanan yang jelas pada hewan. Para ahli menilai psikosis seperti skizofrenia tampaknya terkait dengan kompleksitas otak manusia, sedangkan beberapa bentuk depresi klinis juga dinilai sulit terjadi pada hewan karena mereka tidak memiliki kemampuan berpikir abstrak seperti manusia.
Tanda yang perlu diwaspadai pemilik hewan
Perubahan perilaku sering menjadi petunjuk awal. Hewan yang cemas bisa menunjukkan gejala yang mudah terlihat, tetapi banyak pemilik baru menyadari masalah ketika perilaku itu mulai mengganggu kegiatan sehari-hari di rumah.
- Mondar-mandir atau gelisah terus-menerus.
- Gemetar, merusak barang, atau menjilati tubuh secara berlebihan.
- Menolak makan atau muntah berulang saat stres.
- Agresif terhadap orang atau hewan lain karena takut.
- Menyakiti diri sendiri, terutama pada hewan yang hidup di penangkaran.
Pada primata di penangkaran, perilaku ekstrem bahkan bisa muncul dalam bentuk mutilasi diri. Pada anjing militer Amerika Serikat yang terlibat dalam pertempuran aktif di Afghanistan, sekitar 10 persen dilaporkan menerima diagnosis klinis gangguan stres pascatrauma.
Perawatan mulai lebih diperhatikan
Kesadaran terhadap kesehatan mental hewan juga meningkat karena anjing dan kucing kini semakin dianggap sebagai bagian dari keluarga. Perubahan itu membuat pemilik lebih peka terhadap tanda stres, sekaligus mendorong berkembangnya perawatan berbasis obat bagi hewan.
Survei hewan peliharaan nasional oleh Packaged Facts pada 2017 memperkirakan 8 persen pemilik anjing dan 6 persen pemilik kucing memberikan obat untuk membantu mengatasi kecemasan atau menenangkan suasana hati. Dalam beberapa kasus, dokter hewan meresepkan obat seperti Clomicalm, Sileo, Anipryl, dan Prozac versi anjing.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa obat tidak selalu menjadi jawaban utama. Stres pada hewan sering terkait dengan lingkungan, rutinitas, kurang interaksi, atau pengalaman masa lalu, sehingga pencegahan dan pengamatan dini tetap penting untuk mengurangi penderitaan yang tidak perlu.
Source: www.idntimes.com