Perubahan iklim tidak hanya mengubah suhu udara dan cuaca ekstrem di darat, tetapi juga mengganggu fondasi kehidupan di laut. Studi terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terbit di Nature Climate Change menunjukkan bahwa pemanasan laut dapat mengubah komposisi fitoplankton, organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut.
Dampaknya berpotensi luas karena fitoplankton adalah sumber energi utama bagi krill, ikan kecil, ubur-ubur, hingga predator besar di laut. Jika kualitas nutrisinya turun, maka seluruh jaringan makanan laut dapat ikut terdampak, termasuk pasokan pangan yang bergantung pada hasil laut.
Fondasi Laut yang Mulai Berubah
Fitoplankton bekerja seperti “pabrik energi” di lautan karena mereka menyerap cahaya matahari dan memanfaatkan nutrisi dari air laut untuk tumbuh. Organisme ini menyumbang protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat yang dibutuhkan oleh berbagai tingkat kehidupan laut berikutnya.
Dalam kondisi normal, lebih dari separuh sel fitoplankton tersusun dari protein, sedangkan sisanya berupa campuran karbohidrat dan lipid. Komposisi ini penting karena menentukan seberapa bergizi fitoplankton bagi hewan-hewan kecil yang memakannya.
Para peneliti MIT menilai perubahan suhu, sirkulasi laut, dan cakupan es laut akan menggeser keseimbangan itu. Dalam skenario emisi gas rumah kaca yang terus berlanjut hingga 2100, proporsi protein fitoplankton diperkirakan turun sekitar 20% secara global dan bisa anjlok lebih besar di wilayah tertentu.
Kutub Menuju “Makanan Cepat Saji” Laut
Perubahan paling menonjol diperkirakan terjadi di wilayah kutub, tempat fitoplankton selama ini cenderung lebih kaya protein. Kondisi itu muncul karena es laut membatasi cahaya matahari, sehingga fitoplankton harus memproduksi lebih banyak protein penangkap cahaya untuk fotosintesis.
Namun, ketika es mencair lebih banyak akibat suhu permukaan laut yang naik sekitar 3 derajat Celsius dalam skenario ekstrem, cahaya jadi lebih mudah masuk. Akibatnya, fitoplankton tidak lagi membutuhkan banyak protein penangkap cahaya, dan kadar proteinnya diproyeksikan menurun hingga 30%.
Shlomit Sharoni, penulis utama studi sekaligus peneliti pascadoktoral MIT, menggambarkan kondisi ini sebagai pergeseran menuju “laut makanan cepat saji” di wilayah kutub. Istilah itu merujuk pada menurunnya kualitas gizi fitoplankton, bukan pada jumlah makanannya semata.
Mengapa Rantai Makanan Laut Ikut Terganggu
Fitoplankton berada di dasar piramida makanan laut, sehingga perubahan kecil pada kualitasnya dapat memicu efek berantai. Krill dan ikan kecil yang bergantung pada fitoplankton akan menerima asupan dengan kandungan protein lebih rendah, lalu dampaknya menjalar ke ikan lebih besar, mamalia laut, burung laut, dan predator puncak lainnya.
Jika hewan-hewan kecil harus memakan lebih banyak untuk mendapatkan nutrisi yang sama, efisiensi ekosistem akan menurun. Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat memengaruhi pertumbuhan, reproduksi, hingga kelangsungan hidup spesies yang bergantung pada produktivitas laut.
Dampak seperti ini juga penting bagi manusia karena banyak wilayah menggantungkan ekonomi dan pangan pada perikanan. Bila dasar rantai makanan melemah, hasil tangkapan bisa terganggu, baik dari sisi jumlah maupun kualitas nutrisi.
Ancaman di Laut Subtropis dan Lintang Tinggi
Studi MIT tidak hanya menyorot kutub, tetapi juga wilayah subtropis dan lintang tinggi. Di area ini, populasi fitoplankton diperkirakan bisa turun hingga 50% karena sirkulasi laut melambat dan pasokan nutrisi dari laut dalam ikut berkurang.
Ketika nutrisi makin terbatas, fitoplankton dipaksa menyesuaikan diri dengan bergerak ke kedalaman yang lebih dalam agar tetap mendapat keseimbangan antara cahaya dan makanan. Namun, di ruang yang berubah itu, komposisi mereka juga bergeser sehingga tidak sepenuhnya mengimbangi hilangnya produktivitas di permukaan.
Peneliti juga menemukan bahwa tren pemodelan mereka sejalan dengan sampel fitoplankton dari Arktik dan Antartika. Di wilayah yang esnya sudah mencair, kadar protein memang terlihat menurun, sementara karbohidrat dan lipid meningkat.
Data Lapangan Menguatkan Peringatan
Kesesuaian antara model dan observasi lapangan memperkuat dugaan bahwa perubahan ini bukan sekadar proyeksi teoretis. Artinya, dampak pemanasan global terhadap kualitas plankton sudah mulai terjadi di beberapa kawasan yang paling rentan terhadap pencairan es.
Berikut temuan kunci studi yang perlu dicermati:
- Fitoplankton adalah fondasi utama rantai makanan laut.
- Pemanasan laut dapat menurunkan kadar protein fitoplankton, terutama di wilayah kutub.
- Cakupan es laut yang menyusut membuat kebutuhan protein penangkap cahaya ikut berubah.
- Di subtropis, populasi fitoplankton dapat turun hingga 50% akibat berkurangnya nutrisi.
- Perubahan kualitas plankton berpotensi memengaruhi ikan, krill, predator laut, dan manusia.
Bagi para ilmuwan, perubahan pada makromolekul fitoplankton menjadi sinyal penting bahwa iklim memengaruhi bukan hanya jumlah organisme, tetapi juga nilai gizinya. Dengan kata lain, laut mungkin masih tampak penuh kehidupan, tetapi makanan yang tersedia di lapisan dasarnya bisa menjadi jauh lebih miskin protein.
Dalam jangka panjang, ancaman ini dapat mengubah peta produktivitas laut global, terutama di kawasan yang paling sensitif terhadap pemanasan. Saat dasar rantai makanan laut bergeser, efeknya bisa merambat ke seluruh ekosistem dan menekan ketahanan pangan dari laut yang selama ini menjadi andalan banyak negara.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




