Hujan Es Menyambar Dieng, BMKG Ungkap Proses Alamiah di Balik Fenomena Langka Itu

Fenomena hujan es di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, terjadi karena proses atmosfer yang sangat spesifik di wilayah pegunungan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa peristiwa ini berkaitan dengan awan badai kumulonimbus yang memiliki arus udara naik sangat kuat.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan, butiran air di dalam awan terdorong ke lapisan udara yang sangat dingin hingga membeku sebelum jatuh ke permukaan. “Hujan es terbentuk di dalam awan kumulonimbus yang memiliki arus naik sangat kuat. Butiran air terbawa ke lapisan atmosfer yang sangat dingin, lalu membeku sebelum akhirnya jatuh ke permukaan,” ujarnya kepada Beritasatu.com, Sabtu (28/3/2026).

Apa yang Membuat Hujan Es Bisa Terjadi

Hujan es tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses berulang di dalam awan badai. Partikel air yang membeku bisa terdorong naik kembali oleh arus udara, lalu bertambah besar karena lapisan air baru ikut membeku di sekelilingnya.

Saat butiran es itu sudah terlalu berat untuk ditahan arus naik, barulah ia jatuh ke bumi sebagai hujan es. Proses ini biasanya berlangsung dalam awan dengan dinamika udara yang sangat aktif dan tidak stabil.

Peran Kumulonimbus dan Udara Naik

Awan kumulonimbus dikenal sebagai awan penghasil cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, petir, angin kencang, dan hujan es. Menurut BMKG, kunci terbentuknya hujan es ada pada kuatnya arus udara naik atau up-draft di dalam awan tersebut.

Arus naik ini membawa butiran air ke ketinggian yang suhunya jauh di bawah nol derajat Celsius. Di lapisan itu, air langsung membeku dan membentuk butiran es yang kemudian terus membesar selama masih terangkat ke atas.

Mengapa Dieng Rentan Mengalami Hujan Es

Kondisi geografis Dieng ikut memperbesar peluang terjadinya hujan es. Wilayah ini berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut sehingga suhu udaranya memang lebih rendah dibanding daerah dataran rendah.

Topografi pegunungan juga mendorong udara lembap naik lebih cepat. Ketika udara lembap naik dan bertemu lapisan udara dingin, pembentukan awan badai bisa berlangsung lebih intens dan memicu hujan es.

Mengapa Sering Muncul Saat Pancaroba

BMKG menyebut hujan es kerap muncul saat masa pancaroba atau masa peralihan musim. Pada fase ini, atmosfer cenderung tidak stabil sehingga awan konvektif tumbuh lebih mudah dan lebih cepat.

Situasi ini membuat wilayah pegunungan seperti Dieng lebih rentan mengalami cuaca ekstrem dalam durasi singkat. Karena itu, hujan es sering datang mendadak dan hanya berlangsung puluhan menit sebelum kondisi kembali mereda.

Beda Hujan Es dan Embun Es di Dieng

BMKG juga menegaskan bahwa hujan es berbeda dengan embun es atau mbun upas yang juga dikenal di Dieng. Hujan es terbentuk di dalam awan saat badai, lalu jatuh ke permukaan sebagai butiran es dari langit.

Sebaliknya, embun es muncul di permukaan tanah saat suhu turun sangat rendah pada malam hari. Jadi, meski sama-sama melibatkan suhu dingin, mekanisme terbentuknya tidak sama.

Dampak yang Perlu Diwaspadai

Hujan es dapat menimbulkan dampak pada tanaman, terutama di wilayah pertanian pegunungan. Butiran es yang jatuh bisa merusak daun, bunga, atau hasil panen dalam waktu singkat.

Meski begitu, pada kejadian kali ini BMKG menyebut tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak hujan es bisa berbeda-beda, tergantung intensitas dan durasi kejadian di lapangan.

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Masyarakat

  1. Waspadai cuaca ekstrem saat masa peralihan musim.
  2. Perhatikan peringatan dini BMKG untuk wilayah pegunungan.
  3. Hindari aktivitas luar ruangan saat awan gelap dan petir mulai muncul.
  4. Lindungi tanaman dan peralatan yang rentan terhadap hujan es.
  5. Bedakan hujan es dengan embun es agar tidak keliru memahami fenomenanya.

BMKG menegaskan bahwa hujan es di Dieng bukan peristiwa mistis, melainkan proses alamiah yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Dengan memahami mekanisme pembentukannya, masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi cuaca ekstrem yang kerap muncul di kawasan pegunungan seperti Dieng.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button