Oracle memangkas sekitar 30.000 karyawan dalam langkah restrukturisasi besar yang diumumkan lewat email pada pukul 06.00 waktu setempat. Kebijakan ini berlaku di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, India, Kanada, dan Meksiko, dan menjadi salah satu pemutusan hubungan kerja terbesar di sektor teknologi dalam periode terbaru.
Email pemberitahuan itu dikirim dengan tajuk “Oracle Leadership” dan menyampaikan bahwa peran para karyawan dihapus sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas. Dalam pesan tersebut, manajemen juga menegaskan bahwa hari pengiriman email itu menjadi hari kerja terakhir bagi staf yang terdampak.
PHK untuk mempercepat investasi AI
Oracle mengambil langkah ini untuk mengalihkan sumber daya finansial ke pengembangan infrastruktur kecerdasan artifisial atau AI. Perusahaan yang dipimpin Larry Ellison itu ingin memperkuat kapasitas cloud dan pusat data, dua area yang menjadi fokus utama persaingan teknologi saat ini.
Pemangkasan 30.000 pekerja tersebut setara dengan sekitar 18% hingga 19% dari total tenaga kerja global Oracle. Langkah ini diperkirakan dapat membebaskan arus kas hingga US$10 miliar atau sekitar Rp170 triliun, dana yang kemudian diprioritaskan untuk operasional dan pembangunan pusat data AI.
Pemberitahuan dikirim pagi buta
Karyawan yang terdampak menerima email pada Selasa pukul 06.00 waktu setempat. Setelah email masuk, akses komputer, email, dan dokumen kantor langsung dinonaktifkan, sehingga proses keluar kerja berlangsung cepat dan terpusat.
Manajemen menyebut bahwa para karyawan berhak memperoleh paket pesangon sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Namun, perusahaan tidak merinci lebih jauh isi paket kompensasi untuk masing-masing wilayah atau jenis kontrak kerja.
Tekanan besar pada kebutuhan infrastruktur AI
Di balik PHK massal ini, Oracle menghadapi lonjakan kebutuhan infrastruktur AI yang sangat besar. Chief Clay Magouyrk mengatakan permintaan untuk infrastruktur AI, baik GPU maupun CPU, masih jauh melampaui pasokan.
Magouyrk juga menyebut sisa kewajiban kinerja atau remaining performance obligations perusahaan mencapai Rp9.068 triliun. Angka ini menggambarkan besarnya kontrak yang belum terealisasi dan menunjukkan tingginya permintaan pasar terhadap layanan cloud dan AI milik Oracle.
Kinerja keuangan naik, tetapi saham tertekan
Menariknya, keputusan efisiensi ini tidak muncul karena kinerja bisnis yang lemah. Dalam kuartal terakhir, Oracle mencatat pendapatan tumbuh 22% dan melampaui ekspektasi pasar, menandakan permintaan terhadap layanan perusahaan masih solid.
Meski begitu, harga saham Oracle justru turun hampir 25% sejak awal tahun. Penurunan ini lebih dalam dibanding rata-rata pelemahan di kelompok perusahaan teknologi besar lainnya, sehingga menambah tekanan bagi manajemen untuk menjaga margin dan mempercepat pertumbuhan jangka panjang.
Mengapa penghematan kas jadi penting
Analis sejak Januari lalu menilai pemangkasan 30.000 staf bisa membantu Oracle menambah kas bebas secara signifikan. Langkah itu dinilai penting karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal besar, mulai dari lahan, server, chip, jaringan, hingga operasional pusat data.
Berikut poin penting dari restrukturisasi Oracle:
- PHK mencakup sekitar 30.000 karyawan di beberapa negara.
- Pengumuman dikirim lewat email pada pukul 06.00 waktu setempat.
- Oracle menargetkan penguatan bisnis cloud dan AI.
- Kebijakan ini berpotensi membebaskan arus kas hingga US$10 miliar.
- Akses kerja bagi karyawan terdampak langsung dinonaktifkan.
- Perusahaan tetap mencatat pertumbuhan pendapatan 22% pada kuartal terakhir.
Strategi Oracle di tengah persaingan AI
Oracle juga mulai menguji program agen AI untuk mengambil alih tugas administratif basis data yang sebelumnya dikerjakan tim insinyur. Langkah ini menunjukkan bahwa efisiensi tenaga kerja tidak hanya terjadi di level organisasi, tetapi juga melalui otomasi proses internal.
Pada saat yang sama, perusahaan telah menghimpun utang dan ekuitas senilai US$50 miliar pada Januari lalu. Meski demikian, manajemen menyatakan belum berencana menambah utang baru pada tahun fiskal 2026, sehingga pengendalian biaya dan pengalokasian modal menjadi semakin krusial.
Restrukturisasi ini memperlihatkan bahwa Oracle sedang menata ulang prioritas bisnisnya secara agresif, dari model operasional yang padat tenaga kerja menuju strategi yang lebih bertumpu pada AI, cloud, dan infrastruktur berskala besar. Di tengah pertumbuhan pendapatan yang masih kuat, perusahaan kini berusaha menjaga keseimbangan antara ekspansi teknologi dan disiplin finansial agar tetap kompetitif di pasar global.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com




