Starlink Hilang Kontak Di Orbit, Dugaan Pecah Jadi Debu Di Atas Bumi

SpaceX kembali menghadapi insiden tak biasa setelah kehilangan kontak dengan satelit Starlink 34343 yang diluncurkan pada Mei 2025. Perusahaan menyebut satelit itu mengalami “anomaly on-orbit” saat mengorbit di ketinggian sekitar 560 kilometer di atas Bumi, lalu tak lagi merespons pada Senin.

SpaceX menegaskan satelit tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Stasiun Luar Angkasa Internasional atau misi lain. Namun, perusahaan juga mengatakan akan terus memantau satelit itu bersama setiap serpihan yang masih bisa dilacak.

Tanda-tanda satelit pecah di orbit

Spekulasi bahwa satelit itu mungkin terpecah menguat setelah LeoLabs, perusahaan pemantau konstelasi satelit, mendeteksi “tens of objects” atau puluhan objek di sekitar lokasi kejadian berdasarkan data radar mereka. Temuan itu menunjukkan adanya kumpulan objek yang mengelilingi posisi satelit 34343 setelah peristiwa anomali terjadi.

LeoLabs menilai insiden ini kemungkinan besar dipicu oleh sumber energi internal, bukan tabrakan dengan sampah antariksa atau objek lain. Penilaian itu penting karena menyingkirkan satu kemungkinan utama dalam kasus kerusakan satelit di orbit rendah Bumi.

Apa yang diketahui sejauh ini

Berikut ringkasan fakta utama dari insiden tersebut:

  1. Satelit Starlink 34343 diluncurkan pada Mei 2025.
  2. SpaceX kehilangan kontak setelah satelit mengalami anomali di orbit.
  3. LeoLabs mendeteksi puluhan objek di sekitar lokasi satelit.
  4. Insiden ini dinilai kemungkinan berasal dari sumber internal.
  5. SpaceX mengatakan fragmen yang ada kemungkinan akan turun dari orbit dalam beberapa minggu.

Joeaux? No, the system?

SpaceX menyatakan pihaknya “actively working to determine [the] root cause” dan akan segera menerapkan langkah korektif bila diperlukan. Perusahaan juga menambahkan bahwa mereka memantau potensi serpihan yang bisa dilacak, karena keselamatan orbit tetap menjadi perhatian utama.

Risiko tabrakan tetap ada, meski sementara

Meski SpaceX menyebut tidak ada risiko langsung bagi ISS, keberadaan serpihan di orbit tetap memaksa operator satelit lain untuk berhati-hati. LeoLabs menilai para operator satelit dan penyedia roket perlu melakukan manuver guna menghindari potensi tabrakan dengan fragmen yang terbentuk.

Di sisi lain, perusahaan itu juga menilai serpihan dari insiden ini kemungkinan besar akan kembali masuk atmosfer dalam waktu singkat. Alasannya, lokasi kejadian berada di orbit rendah, sehingga partikel dan fragmen biasanya cepat kehilangan ketinggian akibat hambatan atmosfer.

Bukan insiden pertama Starlink

Kasus ini terjadi sekitar empat bulan setelah satelit Starlink lain, 35956, mengalami gangguan serius pada tangki propulsi yang membuatnya berputar tak terkendali dan memuntahkan debris. Saat itu, penyebab pasti gangguan belum jelas, tetapi citra satelit menunjukkan unit tersebut masih relatif utuh sebelum akhirnya terbakar saat turun ke atmosfer.

Satelit Starlink memang dirancang untuk bisa bermanuver dan hancur saat re-entry ke atmosfer. Namun, SpaceX mengakui bahwa dalam kasus yang jarang terjadi, sebagian kecil fragmen masih dapat bertahan dan mencapai permukaan secara terbatas.

Sorotan terhadap skala armada Starlink

SpaceX kini mengoperasikan lebih dari 10.000 satelit aktif di orbit. Perusahaan juga terus menonjolkan komitmennya terhadap keselamatan ruang angkasa, termasuk melalui sistem lalu lintas antariksa bernama Stargaze yang menyediakan data gratis tentang objek-objek di orbit Bumi.

Meski begitu, perhatian publik terhadap operasi Starlink semakin besar karena SpaceX berambisi meluncurkan hingga 1 juta satelit tambahan untuk mendukung pengembangan pusat data berbasis luar angkasa. Sejumlah astronom dan pegiat lingkungan menolak rencana itu karena dinilai dapat meningkatkan polusi cahaya di langit malam dan menambah risiko keselamatan orbit di sekitar Bumi.

HEO, penyedia citra satelit berbasis di London, juga membagikan foto yang memperlihatkan kondisi satelit sebelum anomali terjadi pada Minggu. Kombinasi data radar, citra satelit, dan pernyataan resmi SpaceX kini menjadi kunci untuk mengetahui apakah insiden Starlink 34343 benar-benar merupakan kegagalan internal yang berakhir dengan pecahnya satelit di orbit.

Berita Terkait

Back to top button