Fenomena air laut surut cepat di Sulawesi Utara seusai gempa bumi bermagnitudo 7,3 pada Kamis, 2 April 2026, menjadi perhatian warga pesisir dan warganet. Peristiwa itu terekam dalam sejumlah video yang menunjukkan air laut mundur ke tengah dalam waktu singkat dan meninggalkan area pantai yang biasanya tergenang.
Kejadian tersebut memicu kepanikan karena surutnya air berlangsung tidak biasa dan disertai arus yang terlihat kuat. Dalam salah satu video yang beredar, beberapa kapal yang sedang bersandar tampak ikut tertarik ke arah laut lepas saat permukaan air turun lebih cepat dari biasanya.
Air laut mundur cepat usai gempa
Fenomena ini muncul tak lama setelah gempa mengguncang wilayah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara. Banyak warga mengaitkan perubahan kondisi laut itu dengan kekhawatiran akan adanya dampak lanjutan di wilayah pesisir.
Dalam video yang beredar di media sosial, seorang perempuan terdengar mengatakan, “Efek gempa ini, air balik semua ke tengah laut dengan cepat.” Ungkapan itu memperlihatkan betapa cepatnya perubahan yang terjadi di pesisir dan bagaimana situasi itu membuat warga terkejut.
Data gempa dari BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,3 terjadi pada pukul 05.48 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 127 kilometer tenggara Kota Bitung, dengan kedalaman 18 kilometer.
BMKG menjelaskan episentrum gempa berada di Laut Maluku pada koordinat 1,21 Lintang Utara dan 126,25 Bujur Timur. Dengan karakteristik gempa yang tergolong dangkal itu, guncangannya berpotensi terasa kuat di area sekitar pusat gempa.
Dampak getaran di sejumlah wilayah
Guncangan gempa tidak hanya terasa di Sulawesi Utara, tetapi juga di beberapa daerah lain di Indonesia timur. Di Ternate, intensitas getaran tercatat mencapai skala V–VI MMI, yang berarti guncangannya kuat dan berpotensi membuat benda-benda bergoyang atau sulit berdiri.
Sementara itu, di Manado getaran dirasakan pada skala IV–V MMI, dan di Gorontalo sekitar III MMI. Situasi ini menunjukkan bahwa gempa memiliki cakupan dampak yang cukup luas di wilayah sekitar Laut Maluku.
Air laut surut dan risiko pesisir
Perubahan permukaan air laut secara mendadak sering menjadi perhatian serius setelah gempa bawah laut. Kondisi ini dapat menandakan adanya gangguan besar pada kolom air, sehingga warga pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat laut surut tidak seperti biasa.
Berikut tanda yang perlu diperhatikan warga saat terjadi surut mendadak:
- Air laut mundur sangat cepat ke arah tengah laut.
- Dasar pantai yang biasanya tertutup air tiba-tiba terlihat.
- Arus laut terasa lebih kuat dari kondisi normal.
- Kapal kecil atau perahu di dekat pantai ikut bergeser.
- Perubahan ini terjadi sesaat setelah gempa terasa.
Dalam situasi seperti ini, otoritas kebencanaan biasanya mengimbau warga untuk menjauhi pantai sampai kondisi dinyatakan aman. Langkah tersebut penting karena perubahan cepat pada air laut bisa menjadi indikator adanya ancaman lanjutan di kawasan pesisir.
Video warga memperlihatkan pantai mengering
Unggahan lain di media sosial juga memperlihatkan garis pantai yang mendadak berubah menjadi hamparan pasir. Area yang biasanya tertutup air tampak mengering dalam jarak cukup jauh, sehingga membuat warga makin penasaran dengan penyebabnya.
Salah satu keterangan unggahan menyebut, “Air laut di Sulawesi Utara mendadak surut setelah gempa magnitudo 7,6 SR. Bahkan, surutnya air ini sangat jauh, pertanda apakah ini?” Meski angka magnitudo itu berbeda dengan catatan resmi BMKG, video tersebut tetap menggambarkan kepanikan publik saat menyaksikan air laut bergerak tidak normal.
Kenapa fenomena ini perlu diwaspadai
Surutnya air laut secara tiba-tiba kerap dikaitkan dengan gempa bawah laut karena perpindahan dasar laut dapat mendorong atau menarik massa air dalam jumlah besar. Karena itu, masyarakat pesisir diminta tidak mengabaikan perubahan laut yang terjadi mendadak, terutama jika muncul setelah guncangan gempa.
Situasi di Sulawesi Utara pada Kamis pagi itu memperlihatkan bagaimana gempa dan respons alam di pesisir bisa terjadi hampir bersamaan. Warga di sekitar pantai pun diingatkan untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan aparat setempat ketika kondisi laut menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






