Penemuan arkeolog di Vietnam memicu perdebatan baru soal asal-usul sifilis. Studi terbaru menemukan bukti bahwa infeksi dalam keluarga penyakit treponema, yang mencakup sifilis, bejel, dan yaws, kemungkinan sudah ada di Asia Tenggara ribuan tahun lalu.
Temuan ini penting karena selama puluhan tahun teori populer menyebut sifilis berasal dari Amerika dan kemudian menyebar ke Eropa. Bukti baru dari Vietnam justru menunjukkan bahwa penularan bawaan lahir pada kelompok penyakit ini mungkin sudah terjadi jauh lebih awal di wilayah Asia.
Apa yang ditemukan di Vietnam
Tim peneliti menganalisis 16 situs arkeologi di Vietnam dengan total 304 individu yang hidup sekitar 10.000 hingga 1.000 tahun lalu. Dari penelitian itu, mereka menemukan tiga anak yang menunjukkan tanda treponematosis kongenital, yakni infeksi bakteri Treponema yang menular dari ibu ke janin.
Dua anak berasal dari situs Man Bac di Vietnam utara, dengan perkiraan usia 18 bulan dan 5 tahun. Satu anak lain ditemukan di situs An Son di Vietnam selatan dan diperkirakan berusia sekitar 2,5 tahun.
Tanda infeksi terlihat pada tulang dan gigi
Bukti paling kuat tampak pada gigi, yang menunjukkan kelainan seperti ukuran kecil, cacat, dan bentuk yang tidak normal. Para peneliti menyebut kondisi itu sebagai ciri khas infeksi treponema bawaan yang menyerang tubuh sejak masa kandungan.
Infeksi treponema sendiri adalah kelompok penyakit yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Kelompok ini mencakup sifilis, bejel, dan yaws, meski masing-masing disebabkan oleh subspesies berbeda.
Mengapa temuan ini mengguncang teori lama
Selama ini, banyak ilmuwan menganggap sifilis kongenital hanya terkait dengan sifilis itu sendiri. Dari asumsi itu lahir “hipotesis Columbus”, yakni pandangan bahwa sifilis dibawa dari Amerika ke Eropa setelah era pelayaran Columbus.
Penelitian terbaru ini menggoyang dasar teori tersebut. Penulis utama studi, Melandrie Vlok dari Charles Sturt University, menegaskan bahwa bukti sebelumnya tidak otomatis berarti sifilis, karena tidak semua DNA yang ditemukan benar-benar berasal dari penyakit itu.
“Tidak satu pun dari DNA ini yang sebenarnya merupakan sifilis,” ujar Vlok, seperti dikutip dari laporan yang merujuk studi tersebut.
Mengapa penularan kongenital menjadi titik penting
Nicola Czaplinski, kandidat doktor ilmu kesehatan di Universitas Notre Dame Australia, menjelaskan bahwa penularan bawaan lahir tidak selalu khas sifilis. Artinya, jika penyakit treponema lain juga bisa menular dari ibu ke janin, maka fondasi utama teori asal-usul sifilis dari Amerika menjadi lebih lemah.
Menurut para peneliti, temuan di Vietnam menunjukkan bahwa penyakit serupa sifilis sudah beredar di Asia Tenggara ribuan tahun lalu. Fakta ini membuka kemungkinan bahwa sejarah penyebaran treponema jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.
Rincian penting dari temuan arkeologi
- Studi dipublikasikan pada 13 Maret di jurnal International Journal of Osteoarchaeology.
- Analisis dilakukan pada 16 situs arkeologi di Vietnam.
- Total ada 304 individu yang diperiksa dari rentang waktu 10.000 hingga 1.000 tahun lalu.
- Tiga anak teridentifikasi memiliki treponematosis kongenital.
- Bukti paling menonjol ditemukan pada kelainan gigi dan tulang.
Mengapa wilayah tropis sulit diteliti
Meski temuan ini sangat berarti, riset penyakit purba di Asia Tenggara menghadapi tantangan besar. Vlok menjelaskan bahwa DNA sulit bertahan di wilayah tropis, sehingga bukti biologis sering tidak lengkap.
Pengambilan sampel juga menimbulkan dilema etis karena membutuhkan tulang dalam jumlah cukup besar. Para peneliti menekankan bahwa sisa manusia bukan hanya bahan penelitian, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual bagi komunitas keturunan.
Pandangan peneliti lain tentang arti temuan ini
Charlotte Roberts, profesor emeritus bioarkeologi dari Universitas Durham, menilai studi ini sangat penting. Ia menyebut kawasan Asia Tenggara selama ini memang minim bukti, sehingga penelitian ini membantu menutup celah besar dalam pemahaman tentang penyakit treponema.
Ia juga menyoroti kemungkinan bahwa migrasi awal manusia dari Tiongkok ke Asia Tenggara ikut membawa penyakit tersebut. Interaksi antara petani awal dan pemburu-pengumpul lokal diduga berperan dalam penyebaran infeksi di masa lampau.
Mengapa temuan ini relevan bagi sains modern
Temuan di Vietnam tidak langsung membuktikan asal-usul sifilis secara final, tetapi memperluas peta bukti ilmiah. Para peneliti menilai sejarah penyakit ini masih jauh dari kata selesai, terutama karena data dari kawasan tropis sangat terbatas.
Berikut gambaran singkat mengapa studi ini mendapat perhatian besar:
- Mengoreksi asumsi lama bahwa penularan kongenital hanya terjadi pada sifilis.
- Menunjukkan adanya infeksi treponema di Asia Tenggara ribuan tahun lalu.
- Membuka kemungkinan asal-usul penyakit ini tidak tunggal.
- Memperkuat pentingnya riset bioarkeologi di wilayah tropis yang selama ini kurang terwakili.
Temuan baru ini membuat asal-usul sifilis kembali menjadi teka-teki ilmiah yang belum tuntas. Di saat teori lama makin dipertanyakan, bukti dari Vietnam menunjukkan bahwa jejak penyakit treponema pada manusia purba mungkin sudah menyebar lintas wilayah jauh sebelum sejarah tertulis mencatatnya.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




