Kecelakaan di tambang bawah tanah jarang terjadi secara acak. Risiko paling tinggi muncul saat kendaraan berat dan pekerja berbagi ruang sempit, terutama di persimpangan, tikungan buta, dan lorong terbatas yang membatasi pandangan.
Di lingkungan seperti ini, keputusan harus diambil dalam hitungan detik dengan informasi yang belum lengkap. Itulah sebabnya keselamatan tambang bawah tanah tetap menjadi tantangan besar, meski berbagai perusahaan sudah meningkatkan sistem pengawasan dan pelatihan.
Mengapa kecelakaan masih sering terjadi
Masalah utama di tambang bawah tanah bukan semata-mata kurangnya kewaspadaan, melainkan kondisi fisik operasi itu sendiri. Terowongan menciptakan area tak terlihat, debu dan kelembapan menurunkan kinerja sensor, sementara jarak pandang yang pendek mengurangi waktu reaksi operator.
Dalam praktiknya, teknologi berbasis garis pandang tidak selalu memadai. Kamera, radar, dan LiDAR bisa mendeteksi objek yang terlihat, tetapi sistem ini sering terlambat memberi peringatan ketika kendaraan sudah terlalu dekat untuk berhenti aman.
Data industri memang menunjukkan perbaikan. Laporan Safety Trends in Mining 2025 dari GlobalData mencatat rata-rata fatalitas pada 54 perusahaan tambang turun dari 4,3 pada 2023 menjadi 3,1 pada 2024.
Angka cedera juga membaik, dengan total recordable injury frequency rate turun dari 2,87 menjadi 2,64, sementara lost-time injury frequency rate tercatat 1,55. Namun, penurunan ini tidak merata, karena sebagian perbaikan dipengaruhi perubahan portofolio aset perusahaan, bukan semata kenaikan standar keselamatan di seluruh operasi.
Kenapa teknologi lama belum cukup
Di tambang terbuka, sistem navigasi satelit seperti GNSS membantu melacak kendaraan dan pekerja secara real time. Di bawah tanah, sinyal satelit tidak menembus batuan, sehingga operasi kehilangan satu sumber acuan spasial yang seragam.
Akibatnya, tambang mengandalkan gabungan RFID, Wi-Fi triangulation, inertial navigation systems, dan fixed beacons. Setiap sistem hanya memberi visibilitas parsial, sehingga operator tidak selalu memiliki gambaran penuh tentang posisi kendaraan dan pekerja di seluruh area tambang.
Kondisi ini menciptakan celah keselamatan. Saat kendaraan melaju dengan kecepatan operasional normal, waktu yang tersedia untuk mendeteksi bahaya dan melakukan pengereman sering kali lebih pendek daripada jarak berhenti yang dibutuhkan.
Berikut ringkasan hambatan utama di tambang bawah tanah:
| Hambatan | Dampak |
|---|---|
| Tikungan dan persimpangan sempit | Muncul titik buta |
| Debu dan kelembapan | Sensor kurang akurat |
| Tidak ada GNSS | Pelacakan tidak seragam |
| Jarak reaksi pendek | Risiko tabrakan meningkat |
Teknologi yang mulai membantu
Salah satu pendekatan yang mulai dipakai adalah vehicle-to-everything atau V2X. Di tambang Oyu Tolgoi milik Rio Tinto di Mongolia, sistem proximity awareness memungkinkan kendaraan dan pekerja saling bertukar sinyal secara langsung, tanpa bergantung pada deteksi visual semata.
Setiap kendaraan memakai unit komunikasi, sementara pekerja membawa tag nirkabel yang terintegrasi di lampu helm. Sistem ini membuat kendaraan bisa mengetahui keberadaan manusia atau alat lain meski berada di balik tikungan atau di area dengan visibilitas rendah.
Gideon Slabbert dari Maptek menjelaskan, “You don’t have a single source of truth underground.” Artinya, tambang bawah tanah belum memiliki satu sumber data lokasi yang benar-benar utuh, sehingga teknologi yang mampu mengirimkan sinyal secara langsung menjadi penting.
Peran wearables dan jaringan komunikasi
Wearable device kini tidak lagi dipakai hanya untuk pelacakan. Dalam sistem keselamatan tambang, perangkat ini membantu mengirim identitas dan lokasi pekerja secara real time ke kendaraan terdekat.
Peningkatan ini penting karena keselamatan kini bergeser dari sekadar “mendeteksi bahaya” menjadi “mengomunikasikan keberadaan” sebelum insiden terjadi. Dengan begitu, sistem dapat memberi peringatan lebih dini dan memperbesar peluang penghindaran tabrakan.
Teknologi lain yang relevan di bawah tanah meliputi 1) jaringan komunikasi lokal yang lebih stabil, 2) perangkat sensor yang lebih tahan debu dan kelembapan, 3) integrasi data posisi kendaraan dan pekerja, serta 4) sistem peringatan berbasis analitik real time.
Adopsi masih belum merata
Meski teknologi makin canggih, penerapannya belum seragam di seluruh industri. Arman Hazrathosseini dari Queen’s University di Kanada menyoroti hambatan besar berupa biaya awal yang tinggi, sulitnya membangun infrastruktur komunikasi, keterbatasan tenaga ahli digital, dan resistensi dari sebagian pekerja.
Kendala itu membuat tambang besar lebih cepat mengadopsi sistem keselamatan canggih dibanding operator yang lebih kecil. Karena itu, tingkat keselamatan underground mining masih sangat bergantung pada kapasitas investasi, kesiapan operasional, dan kualitas integrasi teknologi di lapangan.
Pada akhirnya, teknologi membantu memperluas kesadaran situasional, tetapi tidak menghapus kebutuhan akan keputusan manusia. V2X, wearables, dan sistem komunikasi bawah tanah dapat memperpanjang waktu reaksi, namun di ruang sempit dan dinamis, keselamatan tetap ditentukan oleh seberapa cepat operator membaca sinyal dan bertindak dalam jendela waktu yang sangat terbatas.









