Teknologi pencetakan pada pakaian kembali mendapat sorotan setelah peneliti MIT memperkenalkan ChromoLCD, perangkat berbasis cahaya yang mampu “mencetak” desain di permukaan benda termasuk kaos. Inovasi ini memanfaatkan tinta fotochromic khusus sehingga gambar yang dipilih bisa muncul saat disinari, lalu diganti lagi di kemudian hari.
Cara kerjanya terbilang sederhana untuk ukuran teknologi laboratorium. Permukaan kain terlebih dahulu dilapisi tinta khusus, lalu perangkat ChromoLCD memproyeksikan gambar lewat output LED dan ultraviolet hingga desain muncul pada material.
Bagaimana ChromoLCD bekerja
Perangkat ini juga memakai Bluetooth untuk menerima unggahan gambar dari ponsel. Setelah file dikirim, pengguna bisa melihat pratinjau di layar LCD sebelum proses pencetakan dimulai.
Berikut alur kerjanya secara ringkas:
- Lapisi kaos atau benda lain dengan tinta fotochromic.
- Unggah desain dari ponsel lewat Bluetooth.
- Tinjau tampilan gambar di layar perangkat.
- Arahkan cahaya LED dan ultraviolet ke permukaan.
- Tunggu sekitar 15 menit hingga desain terbentuk.
Setelah proses selesai, hasil cetaknya bisa berubah lagi saat dibutuhkan. Karakter ini membuat ChromoLCD berbeda dari sablon konvensional yang cenderung permanen dan memerlukan proses produksi lebih rumit.
Potensi penggunaan di luar kaos
MIT’s Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory, atau CSAIL, menyebut teknologi ini tidak hanya untuk t-shirt. Sistem tersebut juga bisa dipakai pada tas, benda dekoratif, hingga permukaan lain yang cocok dengan tinta fotochromic.
Dalam pengujian yang dijelaskan tim peneliti, teknologi ini juga berpotensi menanamkan kode mirip QR pada ubin atau mengubah whiteboard menjadi kanvas interaktif. Hal itu menunjukkan bahwa penggunaan ChromoLCD tidak terbatas pada mode dan aksesori, tetapi juga bisa masuk ke kebutuhan informasi dan penanda visual.
Computer science PhD student Yunyi Zhu yang memimpin proyek ini menjelaskan posisi ChromoLCD sebagai jembatan antara pengguna dan pewarna fotochromic. Ia juga menyebut sistem ini sangat mudah digunakan karena tidak membutuhkan pengaturan penyelarasan yang rumit atau pembuatan tekstur objek tiga dimensi.
“Ini pada dasarnya seperti stempel, dan sangat mudah digunakan. Tidak ada persyaratan alignment, tidak ada pembuatan tekstur objek 3D,” kata Zhu. Pernyataan itu menegaskan fokus utama riset ini: menyederhanakan personalisasi desain agar lebih cepat dan praktis.
Mengapa teknologi ini menarik perhatian
Dibanding printer tekstil biasa, pendekatan berbasis cahaya ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Pengguna tidak perlu mencetak ulang pakaian setiap kali ingin mengganti desain karena permukaan yang sama dapat dipersonalisasi ulang.
Keunggulan semacam ini relevan untuk industri fashion cepat, merchandise, hingga produk promosi. Merek bisa menguji desain dengan biaya dan waktu yang lebih efisien, sementara konsumen bisa mendapatkan item yang lebih personal tanpa proses produksi panjang.
Berikut beberapa nilai praktis yang paling menonjol:
- Desain dapat diubah setelah dicetak.
- Prosesnya relatif cepat, sekitar 15 menit.
- Input desain bisa langsung dari ponsel.
- Teknologi ini bisa diterapkan pada lebih dari satu jenis permukaan.
Meski begitu, statusnya masih tahap sangat awal. Prototipe yang ditampilkan baru membuktikan konsep ini memungkinkan, sementara jalan menuju produksi massal dan ketersediaan komersial masih belum jelas.
Bukan sepenuhnya hal baru
Langkah ini juga melanjutkan arah riset MIT sebelumnya melalui PortaChrome pada . Inovasi terdahulu itu disebut sebagai versi dengan resolusi lebih rendah, sehingga ChromoLCD hadir sebagai pengembangan yang lebih matang.
Para peneliti juga menilai komponen yang dipakai relatif mudah dibeli. Artinya, secara teknis, perangkat serupa bisa dirakit secara mandiri di rumah, meski tetap memerlukan pemahaman material, sumber cahaya, dan tinta yang tepat.
Jika riset ini terus berkembang, perubahan desain kaos bisa bergeser dari proses cetak yang kaku menjadi pengalaman personalisasi instan berbasis cahaya. Bagi industri kreatif, langkah itu membuka kemungkinan baru untuk produksi on-demand yang lebih cepat, lebih fleksibel, dan lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
