Di Bawah Rel Aktif, Uji Data Center Mini Lawan Getaran Dan Panas Ekstrem

Sebuah konsorsium empat perusahaan Tokyu Group akan menguji penempatan pusat data modular di bawah jalur layang Oimachi Line di Tokyo. Uji coba ini dimulai pada Juni mendatang dan dirancang untuk melihat apakah infrastruktur server kompak bisa beroperasi stabil di ruang sempit yang berada tepat di bawah rel aktif.

Proyek ini menjadi sorotan karena lokasi tersebut membawa tantangan besar, terutama getaran dari kereta yang melintas dan perubahan suhu yang ekstrem. Konsorsium ingin mengukur apakah unit pusat data dapat tetap aman, dingin, dan andal saat ditempatkan di lingkungan yang jauh lebih keras dibanding ruang server biasa.

Uji Coba di Bawah Jalur Layang

Tokyu Corporation, Tokyu Electric Railway, It’s Communications Corporation, dan Tokyu Construction terlibat dalam proyek ini. Tokyu Construction menyiapkan modul pusat data, Tokyu Electric Railway menyediakan lahan di bawah struktur layang, dan It’s Communications memasok konektivitas serat optik yang sudah terpasang di sepanjang jalur rel.

Modul yang diuji menggabungkan server, perangkat pendingin, dan catu daya dalam satu enclosures seukuran kontainer. Format ini dipilih karena lebih cepat dipasang dibanding membangun gedung pusat data dari nol, terutama di kawasan perkotaan padat seperti Tokyo.

Masalah Utama: Panas dan Getaran

Lingkungan di bawah rel aktif tidak cocok bagi peralatan sensitif tanpa rekayasa tambahan. Kereta yang melintas memunculkan getaran terus-menerus, sementara ruang terbuka di bawah infrastruktur rel dapat menciptakan kondisi termal yang tidak stabil.

Karena itu, konsorsium akan menilai beberapa aspek teknis secara langsung di lokasi uji. Fokusnya mencakup isolasi suara, isolasi panas, peredaman getaran, dan performa pendinginan pada kondisi nyata di bawah overpass.

Berikut faktor yang akan diuji dalam proyek ini:

  1. Ketahanan server terhadap getaran dari kereta yang lewat.
  2. Kemampuan modul menjaga suhu tetap aman untuk operasional.
  3. Efektivitas sistem pendingin dalam ruang terbatas.
  4. Kualitas isolasi suara dan panas pada struktur modular.
  5. Kelayakan penerapan model serupa di titik lain dalam jaringan Tokyu.

Memanfaatkan Infrastruktur yang Sudah Ada

Salah satu keunggulan proyek ini adalah jaringan serat optik berkapasitas besar milik It’s Communications. Kabel sudah terpasang di sepanjang jalur Tokyu, sehingga penyambungan data center baru tidak perlu melalui pekerjaan penggalian jaringan tambahan.

Pendekatan ini bisa memangkas hambatan logistik dan mempercepat penyediaan kapasitas komputasi di area perkotaan. Konsorsium juga menyebut kemungkinan pengembangan pusat data lain di jaringan Tokyu yang lebih luas, termasuk di Shibuya, jika hasil uji dinilai memadai.

Dorongan dari Keterbatasan Lahan dan Daya

Langkah ini muncul di tengah tekanan besar pasar pusat data Tokyo. Ketersediaan lahan semakin ketat, sementara permintaan untuk komputasi edge dan layanan digital terus meningkat di area metropolitan.

Yasuo Suzuki, wakil presiden eksekutif sekaligus managing director Japan and APAC di NTT Global Data Centers, mengatakan kepada Data Center Knowledge pada September 2025 bahwa waktu tunggu sambungan jaringan listrik di pusat Tokyo bisa mencapai lima sampai sepuluh tahun. Kondisi ini membuat operator mencari lokasi alternatif yang tetap dekat dengan pengguna akhir.

Pasar Pusat Data Tokyo Makin Padat

Data dari Mordor Intelligence menunjukkan harga tanah di Tokyo naik 69% pada 2024. Kota ini juga sudah memiliki 132 pusat data yang beroperasi, dengan sedikitnya 18 lagi sedang dibangun.

Laporan yang sama menyebut fasilitas berukuran menengah di Jepang tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk 12% hingga 2031. Pertumbuhan itu melampaui pembangunan skala besar karena fasilitas menengah bisa lebih cepat dipasang di lingkungan urban yang ruangnya terbatas.

Mengapa Model Ini Menarik untuk Kota Besar

Konsep memanfaatkan ruang di bawah jalur layang memberi opsi baru bagi kota dengan kepadatan tinggi dan lahan mahal. Jika terbukti andal, model seperti ini bisa menjadi solusi untuk menempatkan infrastruktur digital lebih dekat ke pusat permintaan tanpa harus menunggu lahan luas tersedia.

Uji coba Tokyu ini juga bisa menjadi referensi bagi operator lain yang menghadapi persoalan serupa, mulai dari keterbatasan lahan, kendala sambungan listrik, hingga kebutuhan membangun jaringan digital yang lebih fleksibel di tengah kota.

Berita Terkait

Back to top button