Warga di Lampung Timur, Kota Metro, hingga Lampung Selatan sempat panik setelah bola api besar melintas di langit pada Sabtu malam, 4 April 2026, sekitar pukul 19.53 WIB. Fenomena itu kemudian dipastikan sebagai puing roket tahap tiga Long March-3B milik Tiongkok yang kembali memasuki atmosfer Bumi setelah menjalankan misi satelit militer.
Objek antariksa tersebut terkait peluncuran satelit TJS-14 dari Xichang Space Center pada 23 Januari 2025 dalam misi Y105. Roket sepanjang 18 meter itu memiliki massa sekitar 20 ton dan disebut bernilai jutaan dolar AS, sehingga insiden ini ikut memunculkan perhatian publik bukan hanya karena cahayanya yang dramatis, tetapi juga karena nilai ekonominya yang besar.
Apa yang Melintas di Langit Lampung
Pengamat angkasa luar Marufin Sudibyo dari Ekliptika menjelaskan bahwa cahaya terang yang terlihat warga bukan pesawat, rudal, satelit aktif, atau meteor. Ia menyebut benda itu sebagai sampah antariksa yang jatuh kembali ke atmosfer dan sempat memancarkan cahaya sangat terang, bahkan lebih terang dari planet Jupiter.
“Fenomena ini jelas bukan pesawat, satelit, rudal, atau meteor. Ini adalah sampah antariksa yang jatuh kembali,” ujar Marufin kepada Beritasatu.com, Minggu (5/4/2026). Rekonstruksi lintasan menunjukkan debris bergerak dari arah utara-barat laut menuju selatan-tenggara sebelum terbakar saat memasuki atmosfer.
Puing Roket dan Suara Gemuruh yang Terdengar Warga
Saat lapisan roket itu masuk ke atmosfer, gesekan udara memicu pembakaran hebat pada materialnya. Kondisi tersebut menciptakan bola api memanjang dengan jejak cahaya, bahkan beberapa bagian tampak terlepas dan disertai suara gemuruh yang terdengar di sejumlah wilayah.
Fenomena seperti ini sebenarnya umum terjadi pada benda antariksa yang kehilangan kecepatan orbitnya. Sebagian besar material biasanya habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi, sehingga risiko jatuh sebagai benda utuh relatif kecil.
Berapa Harga Roket yang Jadi Puing Itu
Dari sisi biaya, puing yang melintas di langit Lampung berasal dari roket kelas berat yang nilainya tidak kecil. Dalam edisi terbaru majalah Aerospace China, disebutkan bahwa Long March 3B/E yang digunakan untuk satelit geostasioner memerlukan biaya peluncuran rata-rata sekitar 390 juta yuan atau setara US$ 54,4 juta, termasuk layanan panduan, navigasi, dan kontrol.
Jika dikonversi ke rupiah, angka itu setara miliaran rupiah, tergantung kurs yang digunakan. Dengan kapasitas transfer 5.500 kilogram, biaya per kilogramnya sekitar 70.900 yuan atau US$ 9.890.
Berikut rincian biaya yang disebutkan sumber tersebut:
- Long March 2 untuk orbit Bumi rendah: sekitar 112,9 juta yuan atau US$ 15,76 juta.
- Kapasitas angkut Long March 2: 4.000 kilogram.
- Biaya per kilogram Long March 2: sekitar 282.000 yuan atau US$ 39.360.
- Long March 3B/E: sekitar 260–290 juta yuan atau US$ 36,3–40,5 juta.
- Tambahan layanan GNC: sekitar 115 juta yuan atau US$ 16 juta.
- Total rata-rata Long March 3B/E: sekitar 390 juta yuan atau US$ 54,4 juta.
Dibandingkan Falcon 9 Milik SpaceX
Aerospace China juga membandingkan biaya Long March 3B/E dengan Falcon 9 milik SpaceX. Dalam perbandingan itu, Falcon 9 disebut memiliki biaya peluncuran sekitar US$ 69,75 juta atau 499,67 juta yuan.
Meski harganya lebih tinggi dalam angka total, Falcon 9 punya kapasitas besar, yakni sekitar 8.300 kilogram ke orbit transfer geostasioner dan 22.000 kilogram ke orbit Bumi rendah untuk misi sekali pakai. Jika tahap pertamanya dipulihkan, biaya per kilogram bisa turun signifikan menjadi sekitar US$ 3.830 untuk geostasioner dan US$ 1.210 untuk orbit rendah.
Mengapa Fenomena Ini Perlu Diperhatikan
Kasus di Lampung memperlihatkan bagaimana sampah antariksa masih menjadi isu nyata yang bisa memicu perhatian publik di Bumi. Orbit Bumi kini dipadati ribuan benda tak aktif, mulai dari tahap roket, serpihan satelit, hingga komponen kecil hasil tabrakan atau pelepasan misi.
Bagi warga yang menyaksikannya langsung, peristiwa itu mungkin tampak seperti meteor besar. Namun bagi pengamat antariksa, kejadian tersebut menegaskan pentingnya pemantauan puing luar angkasa agar jalur masuk atmosfer bisa dipetakan dengan lebih akurat.
Yang Perlu Dipahami dari Kasus Lampung
- Bola api yang terlihat adalah puing roket Long March-3B.
- Roket itu sebelumnya membawa satelit militer TJS-14 ke orbit geostasioner.
- Nilai peluncurannya mencapai sekitar US$ 54,4 juta atau setara 390 juta yuan.
- Sebagian besar material roket terbakar di atmosfer dan tidak mencapai permukaan.
- Fenomena seperti ini menjadi pengingat bahwa sampah antariksa terus mengelilingi Bumi dan bisa kembali kapan saja.
Di tengah rasa takjub warga yang sempat melihat bola api melintas, peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa benda antariksa bernilai puluhan juta dolar pun bisa berakhir menjadi serpihan cahaya di langit jika sudah kehilangan kecepatan orbitnya.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




