Ancaman komputasi kuantum terhadap Bitcoin kini tidak lagi dipandang sebagai risiko teoritis yang jauh di depan. Dua riset baru yang dibahas Nic Carter dalam percakapan bersama Bankless menggeser garis waktu bahaya dari “suatu hari nanti” menjadi “segera”, dengan implikasi besar bagi keamanan kripto dan seluruh jaringan blockchain.
Perubahan paling penting datang dari estimasi baru soal kebutuhan perangkat keras untuk menyerang skema tanda tangan digital yang dipakai Bitcoin dan Ethereum. Jika sebelumnya para peneliti memperkirakan serangan semacam itu membutuhkan jutaan qubit dan waktu berbulan-bulan, riset terbaru memangkas ambang itu hingga 20 kali dan memendekkan jendela serangan menjadi sekitar sembilan menit untuk memecahkan ECDSA.
Mengapa Temuan Ini Mengubah Peta Risiko
Selama ini, banyak pelaku pasar menganggap ancaman kuantum masih berada di horizon panjang. Asumsi itu memberi ruang aman untuk menyiapkan migrasi ke kriptografi pasca-kuantum secara bertahap.
Namun, pembaruan dari Google Quantum AI yang ditulis bersama Dan Boneh dan Justin Drake menghapus rasa aman tersebut. Dalam skenario yang dipaparkan, serangan terhadap tanda tangan kripto bisa terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan lama, sementara studi lain dari Oratomic dan Caltech bahkan menyebut kemungkinan dengan hanya 10.000 physical qubits.
Berikut dua data kunci yang paling disorot dalam pembahasan itu:
- Ambang perangkat keras untuk memecahkan skema tanda tangan kripto turun sekitar 20 kali.
- Estimasi waktu serangan menyusut dari hitungan bulan menjadi sekitar sembilan menit.
Angka-angka ini penting karena Bitcoin bergantung pada skema tanda tangan untuk mengotorisasi transaksi. Jika penyerang mampu memecahkan kunci privat dalam jendela konfirmasi transaksi, dana bisa dialihkan sebelum transaksi asli selesai diproses.
Dampak Langsung ke Bitcoin
Nic Carter menilai serangan kuantum tidak akan datang dengan peringatan panjang. Ia menyebut Q-Day lebih mungkin muncul sebagai peristiwa ambang batas, bukan proses bertahap yang bisa dipantau dengan tenang dari tahun ke tahun.
Saat seorang pengguna mengirim Bitcoin, public key akan terekspos sementara ke jaringan. Dalam skenario serangan sembilan menit, komputer kuantum berpotensi menurunkan private key dari data itu, lalu mengirim transaksi tandingan untuk mencuri dana sebelum transaksi asli terkonfirmasi.
Artinya, praktik keamanan seperti mengganti alamat atau berhati-hati dalam menyimpan dompet saja tidak cukup bila serangan terjadi dalam jeda singkat itu. Jika perangkat keras kuantum sudah mencapai kemampuan tersebut, seluruh jaringan harus sudah sepenuhnya beralih ke sistem pasca-kuantum agar transaksi tetap aman.
Tantangan Terbesar: Migrasi dan Tata Kelola
Masalah Bitcoin tidak berhenti pada teknologi. Riset yang dibahas Carter juga menyorot betapa rumitnya migrasi bagi jaringan yang memiliki sekitar 6,9 juta BTC di alamat dengan public key yang terekspos.
Dari jumlah itu, sekitar 2,3 juta BTC berasal dari era Satoshi atau diduga hilang, sehingga belum tentu pernah dipindahkan secara sukarela. Situasi ini memunculkan dilema tata kelola yang sulit karena jaringan harus memutuskan apakah koin lama itu akan dipindahkan, dibatasi, dibakar, atau diparkir di sidechain.
Opsi yang Mengemuka untuk Koin Lama
| Opsi | Penjelasan singkat |
|---|---|
| Membiarkan tetap ada | Risiko pencurian tetap terbuka jika kuantum matang lebih cepat |
| Membatasi kecepatan belanja | Memberi waktu, tetapi tidak menghapus risiko sepenuhnya |
| Dipindahkan ke sidechain | Pemilik bisa mengklaim ulang dengan bukti kriptografis |
| Dibakar lewat fork | Mengurangi risiko serangan, tetapi memicu perdebatan keras |
Carter memperkirakan institusi besar bisa mendorong opsi yang lebih keras, termasuk fork yang menolak koin dorman. Namun, langkah seperti itu berpotensi memecah komunitas dan menimbulkan konflik legitimasi atas aturan yang dianggap sah.
Ethereum Punya Jalur yang Berbeda
Meski Bitcoin sering dipandang paling tangguh karena minim perubahan, Carter menilai sikap itu justru bisa menjadi kelemahan saat menghadapi ancaman kuantum. Ia juga menilai Ethereum mungkin lebih siap secara organisasi, meski beban teknisnya lebih besar.
Ethereum sudah memiliki roadmap yang lebih jelas, dukungan dari Ethereum Foundation, serta account abstraction yang memudahkan penggantian skema tanda tangan tanpa harus mengganti alamat pengguna. Kondisi ini membuat transisi pasca-kuantum di Ethereum tampak lebih terstruktur dibanding Bitcoin, meski tetap tidak sederhana.
Google sendiri disebut telah menggeser target transisi internal ke 2029, sementara pemerintah Amerika Serikat ingin sistem penting diperbarui pada 2030. Dalam konteks itu, tekanan terhadap Bitcoin makin nyata karena waktu yang tersisa untuk migrasi aman bisa jauh lebih sempit daripada yang sebelumnya diasumsikan pasar.
