Mitra Ojol Desak Fitur Lebih Adil, Pendapatan dan Jarak Order Jadi Taruhan

Mitra pengemudi transportasi online kembali mendesak Gojek, Grab, Maxim, dan platform sejenis untuk merombak fitur aplikasi agar lebih ramah bagi driver. Mereka menilai sistem yang berjalan saat ini belum cukup melindungi pendapatan harian, belum transparan soal bagi hasil, dan masih menyisakan banyak ruang yang merugikan mitra di lapangan.

Desakan ini muncul di tengah perdebatan lama soal hubungan kemitraan, status kerja, dan pembagian pendapatan di industri ride-hailing Indonesia. Bagi para pengemudi, isu utama bukan hanya soal besaran potongan, tetapi juga kepastian aturan yang jelas, perlindungan sosial, dan fitur aplikasi yang benar-benar membantu operasional kerja sehari-hari.

Fitur Aplikasi Dinilai Belum Cukup Ramah Driver

Ketua Umum Garda, Raden Igun Wicaksono, menilai keberlanjutan bisnis transportasi daring harus bertumpu pada keadilan dan kepatuhan regulasi. Ia menekankan pentingnya skema bagi hasil 90% untuk pengemudi dan 10% untuk aplikator yang diterapkan secara transparan di dalam aplikasi.

Menurut Igun, rincian potongan harus terlihat jelas pada setiap transaksi agar driver tahu ke mana uang mereka mengalir. Transparansi itu, kata dia, penting untuk menghilangkan area abu-abu yang selama ini memicu ketidakpercayaan di antara mitra pengemudi.

Tuntutan Perubahan Fitur yang Lebih Fungsional

Garda menilai inovasi teknologi seharusnya tidak hanya mengejar efisiensi perusahaan, tetapi juga mempermudah kerja driver di lapangan. Karena itu, mereka mendorong sejumlah fitur yang dianggap lebih relevan dengan kebutuhan pengemudi, mulai dari pengaturan jam operasional, pilihan jarak layanan yang lebih fleksibel, hingga hak membatalkan pesanan tanpa terkena sanksi suspend.

Igun menyebut banyak mekanisme yang ada justru berujung merugikan pengemudi, terutama ketika pembatalan atau penyesuaian order malah dibalas dengan pembatasan pesanan. Ia menegaskan sistem seperti itu membuat posisi driver semakin lemah karena kehilangan kesempatan kerja, bukan memperoleh perlindungan.

Daftar usulan fitur yang diminta mitra pengemudi

  1. Transparansi potongan dan bagi hasil di setiap transaksi.
  2. Pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel.
  3. Pilihan jarak layanan yang bisa disesuaikan driver.
  4. Kebijakan pembatalan pesanan tanpa sanksi suspend.
  5. Sistem aplikasi yang tidak menghukum driver saat kondisi operasional tidak memungkinkan.

Perbedaan Sikap di Kalangan Organisasi Driver

Di tengah tuntutan perbaikan fitur, muncul perbedaan pandangan yang cukup tajam di kalangan organisasi pengemudi. Garda memilih mendorong perbaikan model kemitraan, sementara Serikat Pekerja Angkutan Indonesia atau SPAI menuntut perubahan status pengemudi menjadi pekerja formal.

Ketua SPAI, Lily Pujiati, menilai skema kemitraan yang berjalan saat ini belum memberikan kepastian penghasilan. Ia meminta perusahaan mematuhi UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan agar pengemudi memperoleh perlindungan yang lebih kuat sebagai pekerja.

Perdebatan Soal Upah dan Potongan Biaya

Lily berpendapat pembayaran upah minimum oleh platform akan menghapus beban potongan biaya layanan yang selama ini menekan pendapatan harian pengemudi. Pandangan ini mencerminkan tekanan ekonomi yang dirasakan banyak driver, terutama saat order tidak stabil dan biaya operasional terus berjalan.

Meski begitu, perdebatan ini tidak berhenti pada isu nominal semata. Yang dipersoalkan juga adalah kepastian pendapatan setelah dikurangi berbagai biaya yang muncul dalam ekosistem aplikasi, termasuk potongan layanan yang sering kali dirasakan sulit dipahami oleh mitra.

Pandangan Ekonom: Perlindungan Sosial Harus Didahulukan

Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies atau Celios, Nailul Huda, menilai persoalan utama bukan sekadar angka persentase bagi hasil. Menurutnya, perlindungan sosial, termasuk jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, harus menjadi prioritas sebelum platform berlomba menghadirkan inovasi produk baru.

Huda juga menawarkan jalan tengah lewat penyesuaian tarif atau basis perhitungan pendapatan yang lebih adil. Ia menilai rasio 80% untuk mitra bisa dianggap wajar jika dihitung dari total biaya yang dibayar konsumen, termasuk biaya tambahan yang selama ini kerap tidak masuk dalam kalkulasi pendapatan driver.

Mengapa Transparansi Aplikasi Menjadi Kunci

  1. Driver bisa menghitung penghasilan secara lebih akurat.
  2. Potongan platform lebih mudah diawasi dan dievaluasi.
  3. Mitra mendapat kepastian sebelum menerima order.
  4. Hubungan antara driver dan aplikator menjadi lebih terbuka.
  5. Risiko konflik akibat sistem yang dianggap tidak adil bisa berkurang.

Dalam konteks industri ride-hailing yang makin kompetitif, fitur aplikasi kini tidak lagi sekadar alat pemesanan. Bagi pengemudi, fitur itu menentukan jam kerja, peluang pendapatan, dan rasa aman saat menjalankan order setiap hari.

Peran Pemerintah Dinilai Masih Minim

Igun menilai peran pemerintah sangat penting sebagai pengarah ekosistem sekaligus pengatur pasar. Ia berpendapat negara harus hadir untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan profitabilitas platform dan kesejahteraan driver agar industri tetap berkelanjutan.

Menurutnya, sampai saat ini peran itu belum tampak kuat di lapangan. Kondisi tersebut membuat aspirasi pengemudi sering berhenti sebagai tuntutan, tanpa perubahan sistemik yang benar-benar menyentuh mekanisme kerja aplikasi.

Di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan, dorongan agar Gojek, Grab, dan platform lain menghadirkan fitur yang lebih ramah driver semakin relevan, terutama jika perusahaan ingin menjaga loyalitas mitra tanpa mengabaikan transparansi, perlindungan sosial, dan aturan main yang lebih adil.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button