Ilmuwan di China mengembangkan tanaman rekayasa genetika yang bisa memancarkan cahaya sendiri di malam hari. Teknologi ini digadang-gadang dapat menjadi alternatif lampu jalan, sekaligus membuka peluang baru untuk pariwisata malam dan desain kota yang lebih hemat energi.
Terobosan tersebut menarik perhatian karena tanaman itu tidak membutuhkan listrik untuk bersinar. Cahaya yang muncul berasal dari integrasi gen bioluminesensi, yaitu mekanisme alami yang selama ini dikenal pada kunang-kunang dan beberapa jenis jamur bercahaya.
Tanaman Bercahaya dari Rekayasa Genetik
Penelitian ini dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Magicpen Bio yang dipimpin dr Li Renhan. Timnya berhasil merekayasa lebih dari 20 spesies tanaman, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan, agar mampu memancarkan cahaya lembut di ruang gelap.
Renhan menjelaskan bahwa gagasan itu lahir dari pengalaman masa kecilnya di pedesaan. Ia mengaku terinspirasi oleh kunang-kunang yang sering hinggap di tubuhnya saat malam hari, lalu muncul keinginan untuk menghadirkan cahaya alami ke dalam tanaman.
“Kami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke dalam tanaman, sehingga mereka juga bisa bersinar di malam hari,” ujar Renhan seperti dikutip dari ZMEScience pada Kamis (9/4/2026).
Cara Tanaman Bisa Bersinar
Bioluminesensi bekerja melalui reaksi kimia yang menghasilkan foton atau partikel cahaya. Pada kunang-kunang dan jamur bercahaya, enzim bereaksi dengan molekul tertentu lalu menghasilkan cahaya tanpa panas berlebihan.
Para peneliti mengisolasi urutan genetik yang mengatur proses itu, kemudian memasukkannya ke genom tanaman. Setelah proses itu berhasil, tanaman mampu memproduksi komponen cahaya secara mandiri selama masih mendapat air dan nutrisi.
Tanaman hasil rekayasa ini tidak membutuhkan sumber daya tambahan seperti listrik atau lampu UV. Dalam pameran publik di Forum Zhongguancun, Beijing, pengunjung dapat melihat langsung bunga-bunga yang menyala di kegelapan tanpa bantuan kabel, baterai, maupun alat pencahayaan eksternal.
Potensi untuk Lampu Jalan dan Ruang Publik
Renhan menilai teknologi ini tidak hanya cocok untuk dekorasi atau wisata malam. Ia menyebut tanaman bercahaya bisa dimanfaatkan di taman kota dan ruang publik sebagai penerangan alami yang lebih hemat energi.
- Mengurangi konsumsi listrik untuk pencahayaan luar ruang.
- Menekan emisi karbon dari penggunaan energi konvensional.
- Menciptakan lanskap kota yang lebih estetis dan futuristis.
- Mendukung konsep ruang hijau berkelanjutan.
- Membuka peluang baru bagi pariwisata malam dan instalasi seni.
Pendekatan ini berangkat dari gagasan bahwa tanaman dapat berfungsi ganda, bukan hanya sebagai elemen penghijauan tetapi juga bagian dari sistem pencahayaan kota. Jika dikembangkan dalam skala besar, konsep ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada lampu jalan di titik-titik tertentu.
Bukan Satu-Satunya Inovasi
Langkah Magicpen Bio bukan satu-satunya upaya menciptakan tanaman bercahaya. Pada 2024, startup bioteknologi Light Bio merilis Firefly Petunia, tanaman komersial yang juga memanfaatkan gen jamur untuk menghasilkan cahaya.
Perbedaannya, pendekatan Magicpen Bio disebut lebih luas karena mencakup banyak jenis tanaman, bukan hanya satu varietas hias. Di China, tim dari South China Agricultural University juga mengembangkan sukulen bercahaya memakai nanopartikel logam seperti strontium dan aluminium yang disuntikkan ke daun.
Metode itu bekerja dengan cara menyerap cahaya matahari di siang hari lalu melepaskannya kembali pada malam hari. Meski berbeda teknik, keduanya memperlihatkan arah riset yang sama, yaitu mencari sumber pencahayaan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dampak Ilmiah yang Lebih Luas
Teknologi pengeditan gen yang dipakai dalam tanaman bercahaya juga relevan untuk bidang lain. Dalam riset kesehatan, teknik serupa dipakai untuk mengamati perkembangan penyakit di tingkat sel dan mempercepat penemuan obat.
Di pertanian, pengeditan gen telah membantu ilmuwan menciptakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap hama. Langkah ini penting karena kebutuhan pangan global terus meningkat, sementara ancaman perubahan iklim makin besar.
Kemajuan tersebut menunjukkan bahwa rekayasa genetika tidak hanya menyasar aspek estetika. Teknologi ini juga masuk ke wilayah yang lebih strategis, seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan efisiensi energi.
Risiko yang Tetap Perlu Dikaji
Di balik peluangnya, para ahli mengingatkan adanya dampak ekologis yang perlu diteliti lebih jauh. Jika tanaman bercahaya ditanam luas, serangga nokturnal bisa terganggu oleh cahaya yang tidak biasa muncul di malam hari.
Ada pula risiko disorientasi ekosistem malam dan potensi penyerbukan silang dengan tanaman liar. Karena itu, pengembangan kebun bioluminesen dalam skala besar masih perlu kajian ilmiah yang ketat sebelum diterapkan di ruang kota.
Teknologi ini menawarkan imajinasi baru tentang wajah perkotaan masa depan, saat taman, jalur pejalan kaki, dan area wisata bisa menyala tanpa lampu konvensional. Namun, penerapannya tetap harus menyeimbangkan inovasi, keamanan hayati, dan perlindungan ekosistem alami agar manfaatnya benar-benar terasa luas.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






