Sebagian besar lalu lintas internet lintas negara ternyata bergantung pada kabel bawah laut. Data yang beredar dalam artikel referensi menyebut sekitar 99% trafik internet internasional mengalir melalui jaringan kabel serat optik yang dibentangkan di dasar laut.
Karena berada di lingkungan laut dalam yang keras, kabel-kabel itu rentan rusak. Penyebab yang paling sering bukan hiu, melainkan aktivitas pelayaran, terutama jangkar kapal yang terseret dan mengenai kabel secara langsung atau tanpa sengaja diletakkan di jalur kabel.
Mengapa hiu ikut disalahkan?
Kisah tentang hiu yang menggigit kabel bawah laut sudah muncul sejak akhir era 1980-an. Para ilmuwan belum punya jawaban pasti soal alasan perilaku itu, tetapi ada dugaan bahwa medan elektromagnetik dari kabel membuatnya tampak seperti mangsa hidup bagi predator laut.
Meski begitu, kasus seperti ini tergolong sangat jarang. Data yang dikutip artikel referensi menunjukkan hanya 1% kerusakan kabel laut dalam hingga 2006 yang disebabkan oleh hiu, dibandingkan kerusakan akibat bencana alam, gempa bumi, atau bahkan sabotase.
Bahkan dalam periode 2007 hingga 2014, tidak ada kerusakan kabel yang terbukti disebabkan oleh hiu. Fakta ini menegaskan bahwa ancaman utama kabel bawah laut justru datang dari faktor lain yang lebih umum dan lebih sering terjadi.
Kenapa kabel bawah laut tetap diproteksi ekstra?
Kabel bawah laut tidak murah, baik dari sisi produksi maupun pemasangan. Artikel referensi menyebut beberapa desain kabel bisa berbiaya lebih dari 400 dolar AS per kaki, sementara biaya perbaikan atas kerusakan kabel dapat mencapai lebih dari 116 juta dolar AS per tahun.
Nilai ekonominya besar, sehingga operator jaringan memilih menambah lapisan perlindungan meski risikonya kecil. Google, misalnya, membungkus kabel trans-Pasifik miliknya dengan selubung kuat mirip Kevlar untuk melindungi dari gigitan, sayatan, dan kerusakan lain.
Ancaman paling umum pada kabel bawah laut
Berikut beberapa penyebab kerusakan kabel bawah laut yang paling sering dilaporkan:
- Jangkar kapal yang terseret di dasar laut.
- Pemasangan jangkar atau perlengkapan laut yang tidak sengaja mengenai jalur kabel.
- Bencana alam seperti gempa bumi dan longsor bawah laut.
- Sabotase atau tindakan manusia yang disengaja.
- Gangguan hewan laut, termasuk hiu, meski sangat jarang.
Daftar itu menunjukkan bahwa hiu bukan ancaman utama, tetapi hanya salah satu dari banyak risiko yang harus diperhitungkan industri telekomunikasi global. Karena itu, penguatan fisik kabel tetap jadi bagian penting dari desain jaringan bawah laut modern.
Keandalan internet juga bergantung pada perlindungan fisik
Saat kabel bawah laut rusak, internet lintas benua bisa terganggu dan pemulihan tidak selalu cepat. Jalur utama memang kerap dialihkan ke rute cadangan untuk menjaga koneksi tetap hidup, tetapi perbaikan fisik di laut tetap membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya besar.
Itu juga menjelaskan mengapa proyek daur ulang kabel tua mulai digarap di sejumlah wilayah. Beberapa kabel lama bahkan dibongkar secara manual untuk memulihkan material yang masih bernilai sekaligus mengurangi limbah infrastruktur bawah laut.
Pada akhirnya, cerita tentang hiu dan kabel internet lebih tepat dipandang sebagai anomali ketimbang ancaman utama. Namun, bagi operator jaringan global, perlindungan ekstra tetap masuk akal karena sekali kabel dasar laut putus, dampaknya bisa terasa jauh melampaui satu wilayah dan memengaruhi arus data internasional dalam skala besar.







