Artemis II Menuju Bulan, Dua Krisis Kecil Di Orbit Kini Tertinggal Jauh di Belakang

Misi Artemis II memasuki fase penting saat empat astronaut NASA dan Badan Antariksa Kanada melayang menuju Bulan dalam perjalanan sekitar 10 hari. Mereka akan menjadi manusia pertama dalam lebih dari 50 tahun yang melampaui jarak terjauh dari Bumi yang pernah dicapai misi berawak, dengan kapsul Orion dijadwalkan melintasi Bulan pada awal pekan ini.

Penerbangan ini menjadi uji coba krusial sebelum NASA kembali mengirim manusia ke permukaan Bulan untuk pertama kalinya sejak Apollo 17. Wahana lepas landas dengan mulus, dan hingga kini NASA menyatakan tim Artemis II sudah lebih dari separuh perjalanan menuju Bulan.

Artemis II, uji terbang yang sangat menentukan

Kru Artemis II terdiri dari Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Keempatnya kini menjalani fase penerbangan yang bukan hanya simbolis, tetapi juga teknis, karena NASA ingin memeriksa semua sistem utama Orion sebelum misi ke permukaan Bulan dilakukan dalam program Artemis berikutnya.

Saat Orion mendekati Bulan, para astronaut akan memiliki jendela pengamatan sekitar enam jam untuk melihat sisi jauh Bulan yang hanya diterangi sebagian dan tidak dapat dilihat dari Bumi. NASA juga menyediakan pelacakan orbit waktu nyata melalui situs Artemis Real-Time Orbit, sehingga publik dapat memantau posisi wahana dari waktu ke waktu.

Di luar kapsul, pemandangan ruang angkasa terlihat dramatis. Wiseman membagikan foto dari jendela Orion yang menunjukkan Bumi dari kejauhan, termasuk dua aurora yang tampak jelas dalam satu bidikan.

Gangguan kecil di awal penerbangan

Meski misi berjalan baik, beberapa masalah teknis sempat muncul setelah peluncuran. Wiseman sempat menghubungi pusat kendali untuk menangani gangguan pada perangkat Surface Pro yang ia gunakan, dan ia melontarkan keluhan ringan bahwa dua aplikasi Outlook miliknya tidak berfungsi.

Tidak lama setelah itu, toilet di pesawat juga mengalami gangguan. Koch bekerja bersama tim darat untuk mencari solusi, dan ia kemudian bercanda dalam siaran langsung bahwa dirinya kini seperti “tukang ledeng luar angkasa”.

Insiden seperti ini menunjukkan bahwa penerbangan antariksa tetap penuh tantangan, bahkan pada misi yang dirancang sangat matang. Namun gangguan tersebut berhasil diatasi dengan cepat, sehingga tujuan utama penerbangan tetap berjalan sesuai rencana.

Penemuan bintang tua nyaris murni

Di bidang astronomi, sekelompok mahasiswa sarjana dari University of Chicago menemukan salah satu bintang tertua yang pernah diamati. Temuan itu berasal dari data Sloan Digital Sky Survey, dan bintang tersebut diberi nama SDSSJ0715-7334.

Penelitian menunjukkan bintang itu lahir di Large Magellanic Cloud miliaran tahun lalu sebelum akhirnya berpindah ke Bima Sakti. Komposisinya sangat menarik karena sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium, dengan jejak karbon dan besi yang sangat sedikit.

  1. Objek ini dipilih dari 77 bintang yang disaring mahasiswa dari data SDSS.
  2. Pengamatan lanjutan dilakukan di Las Campanas Observatory, Chile.
  3. Hasil riset dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.
  4. Para peneliti menduga komposisi bintang ini bisa berasal dari supernova purba.

Alex Ji, profesor yang memimpin kelas tersebut, menyebut bintang ini sebagai “pendatang kuno” yang memberi pandangan tak biasa tentang kondisi awal alam semesta. Ia juga mengatakan kadar karbon yang sangat rendah mengisyaratkan adanya debu kosmik awal yang membantu pembentukannya, sebuah jalur pembentukan yang sebelumnya baru terlihat satu kali.

Sorotan sains lain yang ikut mencuri perhatian

Dua cerita sains lain turut menarik perhatian pekan ini, yaitu dugaan soal “super battery” dari Donut Lab dan laporan bahwa SpaceX disebut telah mengajukan IPO terbesar dalam sejarah. Dua topik ini menambah daftar perkembangan teknologi dan antariksa yang terus bergerak cepat, dari inovasi energi hingga rencana bisnis perusahaan peluncur roket terbesar saat ini.

Di tengah arus kabar tersebut, Artemis II tetap menjadi fokus utama karena misi ini menandai langkah nyata menuju kembalinya manusia ke Bulan. Jika semua berjalan lancar, penerbangan ini akan menjadi dasar penting bagi fase eksplorasi Bulan berikutnya dan membuka bab baru dalam penerbangan antariksa berawak.

Exit mobile version