
Seller e-commerce mengeluhkan sistem COD di Shopee, TikTok Shop, dan sejumlah platform lain karena proses retur yang dinilai makin berantakan dan merugikan. Mereka bukan hanya menghadapi paket yang kembali tanpa kejelasan alasan, tetapi juga menanggung biaya operasional, ongkir, dan risiko barang tidak tercatat dengan benar.
Di lapangan, banyak seller mengaku bingung karena informasi dari pembeli, kurir, dan ekspedisi sering tidak sinkron. Kondisi ini membuat mereka sulit memastikan apakah paket benar-benar ditolak, tidak sampai, atau terjebak di gudang pengiriman.
Keluhan Seller Meningkat karena Retur COD Sulit Dilacak
Sejumlah penjual menyebut sistem COD masih memberi ruang besar bagi pembeli yang tidak bertanggung jawab. Salah satu seller aksesoris, Ega, mengatakan alasan retur yang muncul di sistem sering tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Menurut Ega, sistem biasanya mencatat paket ditolak pembeli atau alamat tidak jelas. Namun, penjelasan dari pembeli dan laporan ekspedisi kerap berbeda, sehingga seller tidak tahu siapa yang harus dipercaya.
“Di sini seller bingung mau percaya ke siapa? Pembeli bilang barang tidak datang, tapi ekspedisi laporannya ditolak pembeli,” kata Ega kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Ega menilai kondisi ini mengganggu stabilitas bisnis karena banyak barang kembali tanpa kepastian. Ia juga menyebut belum ada penjelasan resmi dari pihak ekspedisi maupun platform e-commerce terkait masalah tersebut.
Kerugian Bisa Tembus Puluhan hingga Ratusan Juta Rupiah
Bagi sebagian seller, retur COD bukan lagi masalah kecil, melainkan sumber kerugian besar. Ega mengaku pada Februari lalu ia menerima retur dalam jumlah besar, sampai dua karung, dan menghitung kerugiannya lebih dari Rp21 juta.
Ia juga mendengar ada seller lain yang mengalami kerugian hingga Rp300 juta, meski angka itu belum termasuk kerugian lain yang sulit dilacak. Menurutnya, banyak barang yang hilang atau tertahan di gudang ekspedisi tanpa kejelasan posisi akhir paket.
Skema COD yang dianggap terlalu longgar membuat sebagian pembeli merasa bebas membatalkan transaksi. Ega menilai seller akhirnya menanggung beban ganda, mulai dari biaya kemasan, tenaga kerja, hingga ongkos pengiriman ke ekspedisi.
Biaya yang Ditanggung Seller Makin Banyak
Di sisi lain, seller lain bernama Aldo juga merasakan dampak serupa dari retur COD. Ia mengatakan total kerugian yang ia alami sudah mencapai jutaan rupiah karena beberapa kali menerima retur dari berbagai platform.
Aldo bahkan pernah mendapat retur dari customer yang sama sampai tiga kali. Ia tetap mengirim barang karena khawatir kena penalti dari platform, meski risiko retur tetap membebani usahanya.
“Sangat rugi, apalagi sekarang biaya packing plastik naik. Kita juga harus bayar biaya retur, belum lagi biaya admin, belum lagi barang yang tertahan di ekspedisi,” ujar Aldo.
Aldo menambahkan, barang yang tertahan di ekspedisi kerap menghambat penjualan karena stok lama tidak bisa diputar kembali. Dalam satu kasus, ia juga menemukan paket yang dikirim justru kembali dalam kondisi tertukar dengan barang lain dan rusak.
Masalah Scanning dan Data Retur yang Tidak Rapi
Keluhan seller tidak berhenti di sisi retur saja, tetapi juga menyentuh proses pengiriman awal. Aldo mengatakan ada kasus ketika barang yang sudah diserahkan ke ekspedisi tidak langsung di-scan, sehingga status pengiriman tidak tercatat dengan benar.
Akibatnya, seller kesulitan melacak apakah barang benar-benar sudah masuk sistem atau masih tertahan di tahap awal pengiriman. Ia bahkan menemukan ada barang dari tahun 2025 yang sampai sekarang belum terkirim, dan tidak semua kerugian bisa dihitung karena data pengirimannya tidak lengkap.
Dalam praktiknya, kondisi ini membuat seller sulit membedakan mana paket yang benar-benar hilang dan mana yang hanya tertunda. Aldo menyebut platform yang paling sering ia alami bermasalah adalah Lazada dan Shopee.
Perbedaan Kebijakan Shopee dan TikTok Shop soal Retur
Di tengah keluhan seller, aturan biaya retur di tiap platform juga menjadi sorotan. Shopee dan TikTok Shop menerapkan pendekatan berbeda, terutama terkait siapa yang menanggung ongkos kirim saat retur terjadi.
TikTok Shop disebut akan mulai membebankan sebagian biaya retur kepada seller per 1 Juni 2026 pukul 10.00 WIB. Kebijakan ini membuat seller ikut menanggung ongkos kirim pada transaksi retur yang diajukan pembeli, termasuk saat pembeli berubah pikiran.
Akun TikTok @vivileonita_ menjelaskan kontribusi seller dibatasi maksimal Rp5.000 per arah. Dengan begitu, total biaya yang dapat dibebankan kepada seller dalam satu transaksi retur bisa mencapai Rp10.000.
Namun, ada pengecualian jika kegagalan pengiriman atau retur murni disebabkan logistik atau ekspedisi. Dalam kondisi itu, biaya kirim akan ditanggung penuh oleh platform atau penyedia layanan, dan pesanan instan tidak termasuk dalam kebijakan tersebut.
1. Pokok aturan yang perlu diperhatikan seller:
- TikTok Shop membatasi kontribusi ongkir retur dari seller.
- Biaya yang dibebankan maksimal Rp5.000 per arah.
- Jika murni salah logistik, platform yang menanggung penuh.
- Pesanan instan belum termasuk dalam aturan ini.
Shopee memiliki pola berbeda karena seller umumnya hanya menanggung ongkir pengembalian jika retur terjadi karena kelalaian seller. Ketentuan ini berlaku jika produk rusak, tidak lengkap, salah kirim, tidak sesuai deskripsi, atau bahkan diduga palsu.
Kelalaian Seller yang Bisa Membuat Ongkir Retur Ditanggung
- Barang tidak berfungsi atau cacat.
- Isi paket tidak lengkap.
- Salah ukuran, variasi, atau jenis produk.
- Barang tidak sesuai foto atau deskripsi.
- Produk diduga palsu.
Seller Minta Platform Lebih Tegas Awasi Pembeli
Para seller berharap platform tidak hanya fokus pada perlindungan pembeli, tetapi juga memberi ruang perlindungan yang adil bagi penjual. Aldo menilai harus ada pengawasan yang lebih ketat terhadap akun pembeli agar penyalahgunaan sistem bisa ditekan.
Ia juga meminta platform memblokir akun-akun yang terbukti nakal dan berulang kali merugikan seller. Menurutnya, sistem COD perlu dibenahi agar transaksi kembali seimbang dan tidak membuat beban usaha terus menumpuk di sisi penjual.
Di tengah pertumbuhan e-commerce yang masih bergantung pada COD di banyak daerah, masalah retur yang tidak transparan berpotensi terus memicu kerugian. Selama sinkronisasi data antara pembeli, seller, ekspedisi, dan platform belum membaik, keluhan soal COD berantakan kemungkinan masih akan menjadi isu utama di kalangan seller.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com




