COD E-Commerce Rugikan Seller, Celah Pembeli Nakal di Balik Retur Barang

Metode pembayaran Cash on Delivery atau COD di e-commerce kembali menuai sorotan karena dinilai bisa merugikan seller saat terjadi retur barang. Di sisi lain, sistem ini kerap dianggap menguntungkan pembeli yang tidak bertanggung jawab karena proses pembuktian sengketa masih menyisakan celah.

Kasus yang dialami seorang penjual produk Tupperware di Shopee memperlihatkan bagaimana risiko itu muncul dalam praktik. Penjual bernama Ida mengaku mengirim botol beserta tutupnya dalam kondisi menyatu, tetapi barang yang dikembalikan pembeli hanya berupa botol tanpa tutup.

Kronologi sengketa COD yang merugikan penjual

Ida menjelaskan, paket dikirim dalam kondisi lengkap dan aman. Barang juga dibungkus dengan dus tebal agar terlindungi selama pengiriman.

Saat paket tiba, pembeli lalu mengajukan pengembalian barang pada keesokan harinya. Masalah muncul ketika produk yang dikirim balik tidak lagi utuh, sementara dus paket masih dalam keadaan baik dan tidak rusak.

Kondisi itu membuat Ida meyakini tutup botol tidak hilang saat proses kirim, melainkan tidak dikembalikan oleh pembeli. Ia juga sudah mencoba menanyakan hal tersebut lewat fitur chat di aplikasi, tetapi pesan yang dikirim hanya dibaca tanpa ada respons.

Keputusan platform dinilai terlalu memihak pembeli

Dalam pengakuannya, Ida menyebut klaim pengembalian barang tetap dimenangkan pembeli meski ia sudah mengajukan banding. Menurut dia, keputusan itu lebih banyak bertumpu pada foto dari pembeli, tanpa memperhitungkan video unboxing yang lazim dipakai sebagai bukti kondisi barang saat diterima.

Ida juga menilai video packing yang ia sertakan belum cukup membantu posisi seller. “Pembeli hanya menyertakan gambar tanpa video unboxing, pembeli bisa dimenangkan walaupun seller sudah banding menyertakan video packing,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (14/4/2026).

Biaya retur menambah beban seller

Kerugian yang dialami seller tidak berhenti pada hilangnya komponen barang. Ida mengatakan ia juga harus menanggung ongkos kirim dua arah, baik dari penjual ke pembeli maupun dari pembeli kembali ke seller.

Beban biaya seperti ini membuat posisi seller makin rentan saat terjadi sengketa COD. Dalam banyak kasus, penjual yang sudah kehilangan barang tetap harus menutup ongkos logistik, padahal mereka justru berada di pihak yang merasa dirugikan.

Mengapa COD masih rawan disalahgunakan

COD tetap populer karena membantu menjangkau pembeli yang belum nyaman memakai metode pembayaran digital. Namun, mekanisme ini juga membuka ruang bagi penyalahgunaan jika platform tidak memiliki verifikasi yang kuat saat proses retur terjadi.

Bagi seller, risiko makin besar ketika sengketa hanya mengandalkan foto dan laporan singkat tanpa data pembanding yang lebih lengkap. Dalam situasi seperti itu, oknum pembeli bisa memanfaatkan celah untuk mengembalikan barang yang tidak sama dengan kondisi awal.

  1. Risiko yang paling sering dikeluhkan seller dalam transaksi COD:
    1) Barang dikembalikan tidak lengkap.
    2) Pembeli mengajukan retur tanpa bukti kuat.
    3) Bukti seller seperti video packing kurang dipertimbangkan.
    4) Ongkos kirim retur dibebankan ke penjual.
    5) Penyelesaian sengketa dinilai lebih cepat memenangkan pembeli.

Keluhan seller soal perlindungan yang belum seimbang

Kasus Ida juga sejalan dengan keluhan yang sering muncul di komunitas penjual daring. Banyak seller menilai sistem resolusi sengketa di platform e-commerce masih belum memberi perlindungan yang seimbang antara penjual dan pembeli.

Mereka meminta mekanisme pembuktian dibuat lebih ketat agar barang yang dikembalikan benar-benar sesuai dengan barang yang dikirim. Tanpa pengawasan yang kuat, sistem retur bisa berubah menjadi celah bagi praktik penipuan kecil yang berulang di marketplace.

Pentingnya bukti transaksi dan pengemasan

Dalam praktik jual beli online, seller biasanya disarankan menyimpan video packing sebagai bukti saat barang dikemas. Bukti itu dinilai penting jika terjadi komplain, terutama pada transaksi COD yang memiliki risiko sengketa lebih tinggi.

Selain video packing, penjual juga perlu mencatat detail kondisi barang, nomor resi, dan dokumentasi kemasan sebelum dikirim. Langkah ini memang tidak selalu menjamin kemenangan dalam banding, tetapi bisa memperkuat posisi seller saat platform memeriksa klaim.

  1. Langkah yang biasanya dilakukan seller untuk mengurangi risiko:
    1) Merekam proses packing dari awal sampai akhir.
    2) Memastikan barang difoto sebelum dikirim.
    3) Menggunakan kemasan pengaman yang jelas.
    4) Menyimpan bukti percakapan dengan pembeli.
    5) Mengajukan banding dengan data pendukung yang lengkap.

Dampak bagi ekosistem perdagangan digital

Sengketa COD seperti ini menunjukkan bahwa perlindungan konsumen dan perlindungan penjual sama-sama perlu dijaga. Jika platform terlalu longgar terhadap retur bermasalah, seller bisa menanggung beban yang tidak proporsional dan kehilangan kepercayaan untuk terus berjualan.

Sebaliknya, aturan yang lebih tegas dan proses verifikasi yang transparan bisa membantu marketplace tetap aman bagi semua pihak. Dalam jangka panjang, penyelesaian sengketa yang adil akan menentukan sehat atau tidaknya ekosistem perdagangan digital, terutama pada fitur COD yang masih banyak digunakan pembeli di Indonesia.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version