AMPERA tengah menarik perhatian industri energi melalui rencana membangun sistem nuklir mini yang diproduksi di pabrik dan dirancang muat di dalam kontainer pengiriman standar. Perusahaan yang berbasis di Palm Beach Gardens, Florida, ini mengusung reaktor thorium subkritis yang ditargetkan bisa beroperasi hingga 30 tahun tanpa pengisian bahan bakar ulang.
Model bisnis dan desainnya berbeda dari pembangkit nuklir konvensional. AMPERA tidak menempatkan diri sebagai pengembang reaktor besar, melainkan sebagai produsen sistem energi kompak untuk pusat data, pertahanan, dan pelayaran niaga.
Pendekatan subkritis yang jadi pembeda
Kebanyakan reaktor nuklir yang beroperasi saat ini bersifat kritis, artinya reaksi fisi dapat bertahan sendiri setelah dimulai. AMPERA memilih pendekatan subkritis, sehingga inti reaktor tidak bisa mempertahankan reaksi berantai tanpa bantuan neutron dari sumber eksternal.
Bagi AMPERA, desain ini memberi kontrol yang lebih cepat. Jika kebutuhan daya naik, keluaran neutron ditambah; jika sistem dimatikan, generator neutron ikut dihentikan dan reaksi berhenti.
Wakil Presiden sekaligus Chief Intellectual Property Counsel AMPERA, Curtis St.Brice, menyebut neutron generator sebagai pemicu utama sistem. Pendekatan ini juga dirancang agar unit bisa langsung dihidupkan kembali tanpa menunggu proses pendinginan panjang seperti pada reaktor konvensional.
Thorium sebagai bahan bakar utama
Alih-alih memakai uranium yang diperkaya, AMPERA memilih thorium sebagai bahan bakar utama. Thorium dinilai lebih melimpah secara alami dan tidak bersifat fisil secara langsung, sehingga perlu diubah dulu menjadi uranium-233 melalui paparan neutron.
Proses pembentukan itu disebut memakan waktu sekitar 20 hingga 30 hari di dalam inti reaktor. Setelah uranium-233 terbentuk, bahan itu dapat menopang proses fisi untuk menjalankan reaktor dalam jangka panjang.
Perusahaan juga berencana memakai bahan bakar TRISO, yakni partikel kecil dengan lapisan keramik dan karbon yang berfungsi melindungi material fisil di suhu tinggi. AMPERA menyebut ada 66 paten global yang melindungi proses manufakturnya, termasuk penggunaan liquid-metal jetting untuk membuat partikel bahan bakar tersebut.
Bentuk inti dan manufaktur 3D
Inti reaktor AMPERA berbentuk bola dengan diameter sekitar dua meter. Di dalamnya terdapat struktur gyroid, yakni kisi geometris kompleks dengan saluran sekitar dua milimeter yang tidak mudah dibuat lewat metode pemesinan biasa.
Karena itu, AMPERA memakai pencetakan 3D untuk memproduksi inti tersebut. Perusahaan sudah membuat versi plastik untuk pembuktian konsep dan versi silikon karbida dalam skala kecil, lalu menargetkan cetakan penuh berbahan silikon karbida pada pertengahan 2026.
Silikon karbida dipilih karena mampu bertahan hingga sekitar 3.000C. AMPERA mengaitkan kemampuan manufaktur ini dengan strategi integrasi vertikal, dari produksi bahan bakar hingga perakitan sistem pembangkit.
Dalam satu kontainer dan tanpa air
Setiap unit dirancang masuk ke dalam kontainer pengiriman 40 kaki. Sistem di dalamnya mencakup inti reaktor, pelindung berlapis, penukar panas, turbin, dan generator, sehingga unit bisa dipindahkan dengan truk, kereta, kapal, atau pesawat kargo militer.
Pendinginan utama memakai helium, lalu panas dipindahkan ke supercritical carbon dioxide atau sCO2 untuk menggerakkan turbin Brayton tertutup. AMPERA juga menyatakan sistemnya tidak membutuhkan air untuk pendinginan, karena proses pembuangan panas dilakukan lewat helium dan kondensor berpendingin udara.
Satu inti reaktor menghasilkan sekitar 30 MW termal atau sekitar 15 MW listrik dengan efisiensi mendekati 50 persen. Untuk konfigurasi komersial 30-MWe, dua inti akan bekerja bersama dalam satu sistem.
Operasi otomatis dan rencana sewa
AMPERA ingin menjalankan unitnya secara otonom dengan dukungan sistem kendali berbasis AI. Pengguna hanya perlu menetapkan tingkat daya, lalu sistem menyesuaikan output neutron, perpindahan panas, dan konversi daya secara otomatis.
Perusahaan juga tidak berencana menjual reaktor secara langsung. AMPERA memilih model leasing melalui perjanjian pembelian daya, sementara kepemilikan dan operasi tetap berada di tangan perusahaan.
Di sisi keselamatan, desain tertutup ini dibangun agar inti tidak bisa dibuka selama operasi normal. AMPERA menilai hal itu menekan risiko pemindahan bahan bakar sekaligus memperkuat aspek nonproliferasi.
Jalur regulasi, mitra riset, dan target produksi
AMPERA sedang mengejar lisensi melalui kerangka 10 CFR Part 53 dari Nuclear Regulatory Commission. Pada 23 Februari 2026, perusahaan mengirim surat pra-aplikasi ke NRC dan meminta pertemuan awal pada akhir Mei, sambil menunjuk Dr. April Smith, mantan pejabat NRC, sebagai strategi perizinan.
Di bidang riset, AMPERA disebut sedang memfinalisasi kerja sama dengan Lawrence Livermore National Laboratory untuk pengembangan TRISO. Perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan Idaho National Laboratory untuk pengujian reaktor yang sudah diberi bahan bakar.
Target waktunya tergolong agresif untuk industri nuklir. AMPERA menargetkan prototipe non-fueled lengkap pada akhir 2026, prototipe berbahan bakar pada akhir 2027, lalu pengiriman komersial awal pada 2028–2029.
Untuk mendukung rencana itu, AMPERA ingin mencapai sekitar 300 unit per tahun dari fasilitas produksi skala besar. Perusahaan juga menyiapkan ekspansi internasional, termasuk rencana kantor regional di London, sambil terus membangun posisinya di pasar pusat data, pertahanan, dan pelayaran.
