Lebih dari 100 robot humanoid ikut ambil bagian dalam half-marathon di Beijing dan mencuri perhatian publik karena sebagian di antaranya mampu melampaui para pelari manusia. Dalam ajang ini, robot tercepat bahkan mencatat waktu yang lebih cepat daripada rekor dunia manusia terakhir yang dibuat di Lisbon bulan lalu oleh Jacob Kiplimo dari Uganda.
Ajang tersebut tidak hanya menjadi tontonan teknologi, tetapi juga menunjukkan seberapa jauh kemampuan robot humanoid berkembang. Meski begitu, para ahli menilai kecepatan lari bukan ukuran tunggal untuk menilai kesiapan robot digunakan di dunia nyata.
Robot melaju di lintasan 21,1 kilometer
Menurut laporan Reuters, lebih dari 100 robot humanoid turun dalam lomba di Beijing pada Minggu, bersama sekitar 12.000 peserta manusia. Hasilnya, beberapa robot berhasil mengungguli seluruh pelari manusia di lintasan setengah maraton sepanjang 21,1 kilometer itu.
Robot tercepat menyelesaikan lomba dengan waktu 50 menit 26 detik. Catatan itu bukan hanya menempatkannya sebagai yang tercepat di antara para robot, tetapi juga disebut melampaui waktu terbaik manusia yang baru dicetak di Lisbon bulan lalu.
Lonjakan besar dari ajang sebelumnya
Performa robot tahun ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dibanding kompetisi perdana pada tahun lalu. Saat itu, menurut Reuters, hanya sekitar 20 robot yang ikut serta dan lomba dipenuhi lebih banyak kesalahan teknis.
Robot tercepat pada edisi sebelumnya membutuhkan 2 jam 40 menit untuk finis. Dibandingkan capaian itu, catatan 50 menit 26 detik pada tahun ini menandakan kemajuan yang sangat besar dalam stabilitas, kecepatan, dan kemampuan bergerak robot humanoid.
Honor tampil sebagai pembuat robot tercepat
Robot tercepat dalam lomba Beijing kali ini dibuat oleh perusahaan ponsel Honor. Pencapaian itu menjadi sorotan karena memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi konsumen kini juga mengambil peran dalam pengembangan robot humanoid.
Hasil tersebut memperkuat pesan bahwa robot humanoid semakin mendekati tahap unjuk kemampuan yang lebih serius. Namun, kecepatan di lintasan lari belum otomatis berarti robot sudah siap dipakai luas dalam aktivitas harian atau industri.
Viabilitas robot masih jadi pertanyaan utama
Bagi banyak pihak yang terlibat, keikutsertaan robot dalam half-marathon ini lebih ditujukan untuk membuktikan kelayakan atau viabilitas robot humanoid. Lomba semacam ini membantu menunjukkan apakah robot bisa bergerak stabil, menjaga keseimbangan, dan menyelesaikan aktivitas fisik yang membutuhkan koordinasi tinggi.
Meski demikian, Reuters juga mencatat adanya pandangan dari sejumlah pakar bahwa kemampuan berlari tidak selalu berkaitan langsung dengan kegunaan komersial. Untuk pemakaian nyata, robot masih harus memiliki keterampilan yang lebih kompleks, seperti ketangkasan tangan, persepsi terhadap lingkungan nyata, dan kemampuan menjalankan tugas yang tidak sekadar berulang.
Pameran teknologi yang sekaligus menjadi tolok ukur
Ajang di Beijing memberi gambaran yang lebih jelas tentang arah perkembangan robot humanoid. Di satu sisi, kehadiran lebih dari 100 robot dalam satu lomba menandai skala eksperimen yang semakin besar, dan di sisi lain hasilnya menunjukkan bahwa sebagian mesin kini sudah bisa menandingi bahkan melampaui performa manusia dalam konteks tertentu.
Lomba ini juga menegaskan bahwa kemajuan robot tidak berhenti pada gerakan dasar. Tantangan berikutnya tetap jauh lebih luas, karena dunia nyata menuntut kemampuan yang lebih fleksibel daripada sekadar berlari dalam lintasan lurus dan terukur.
