Hanya 9 Persen Plastik Benar-Benar Didaur Ulang, Sisanya Tertahan oleh Jenis, Kontaminasi, dan Biaya

Banyak orang mengira semua plastik bisa masuk ke jalur daur ulang selama dibuang ke tempat sampah yang tepat. Kenyataannya, hanya sebagian plastik yang benar-benar mudah diproses kembali karena jenis bahan, kondisi kebersihan, dan nilai ekonominya sangat berbeda.

Situasi ini membuat sampah plastik tidak otomatis berubah menjadi bahan baku baru. Di banyak kasus, plastik justru berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar karena proses daur ulangnya terlalu rumit dan mahal.

Jenis plastik menentukan peluang daur ulang

Plastik tidak dibuat dari bahan yang sama, sehingga kemampuannya untuk didaur ulang juga berbeda. Secara umum, plastik dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu termoplastik dan termoset.

Termoplastik dapat dilelehkan kembali saat dipanaskan, lalu dibentuk ulang menjadi produk baru. Jenis ini mencakup PET yang biasa digunakan pada botol minuman, dan kelompok ini disebut menyumbang sekitar 75 persen dari total produksi plastik di dunia.

Sebaliknya, plastik termoset mengeras permanen setelah dipanaskan. Sifat ini membuatnya hampir tidak bisa dilelehkan ulang dengan metode daur ulang konvensional.

Pemilahan masih menjadi hambatan besar

Selain jenis bahan, proses pemilahan juga menentukan apakah plastik bisa didaur ulang. Pada kemasan plastik, ada lebih dari tujuh kode identifikasi resin yang ditandai angka di dalam simbol segitiga.

Namun, fasilitas daur ulang biasanya hanya memprioritaskan plastik nomor 1 atau PET dan nomor 2 atau HDPE. Kedua jenis itu punya permintaan pasar yang lebih tinggi dibandingkan plastik nomor 3 sampai 7, seperti PVC atau polistirena.

Plastik yang nilainya rendah sering dianggap tidak ekonomis untuk diproses. Situasi ini membuat banyak jenis plastik tidak masuk ke jalur daur ulang meski secara fisik masih berupa bahan plastik.

Kemasan berlapis sulit dipisahkan

Banyak produk plastik modern tidak memakai satu bahan saja. Gelas kopi sekali pakai dan kemasan makanan multilayer, misalnya, sering menggabungkan plastik dengan bahan lain dalam satu lapisan.

Struktur seperti ini menyulitkan proses pemisahan. Ketika bahan-bahan itu tidak bisa dipisahkan dengan mudah, daur ulang menjadi jauh lebih rumit dan hasilnya tidak selalu layak secara teknis.

Kontaminasi membuat plastik makin sulit diproses

Plastik yang tercampur sisa makanan, label kertas, atau bahan lain juga sering ditolak dalam proses daur ulang. Kotoran kecil sekalipun bisa mengganggu kualitas hasil olahan akhir.

Untuk membersihkannya, plastik harus dicuci dan disortir ulang. Tahapan tambahan ini membutuhkan biaya dan energi, sehingga banyak plastik terkontaminasi akhirnya tidak diproses dan justru dibuang.

Bahkan saat plastik berhasil didaur ulang, kualitasnya kerap menurun. Kondisi ini dikenal sebagai downcycling, yaitu ketika bahan bekas hanya bisa diubah menjadi produk dengan mutu lebih rendah dari material aslinya.

Faktor ekonomi tidak kalah besar

Masalah daur ulang plastik juga berkaitan erat dengan biaya. Plastik baru dari bahan baku minyak bumi sering kali lebih murah dibandingkan plastik hasil daur ulang.

Padahal, daur ulang membutuhkan banyak tahapan, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pencucian, hingga pemrosesan ulang. Semua proses itu memerlukan energi, tenaga kerja, dan teknologi yang tidak murah.

Karena tekanan biaya tersebut, secara global hanya sekitar 9–10 persen sampah plastik yang benar-benar berhasil didaur ulang. Angka itu menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup jika pasar dan biaya produksi tidak mendukung.

Keterbatasan fasilitas mempersempit pilihan

Tidak semua daerah memiliki infrastruktur daur ulang yang lengkap. Banyak wilayah hanya memiliki teknologi pemilahan sederhana yang mampu memproses jenis plastik tertentu, terutama botol minuman.

Produk yang lebih kompleks, seperti komponen elektronik atau bagian kendaraan, memerlukan pembongkaran lebih rumit sebelum bisa didaur ulang. Sejumlah plastik juga mengandung bahan tambahan, termasuk serat kaca, yang dapat menurunkan kualitas hasil akhir.

Kondisi ini menjelaskan mengapa solusi pengelolaan plastik tidak bisa hanya bergantung pada daur ulang. Desain produk yang lebih sederhana, penggunaan satu jenis plastik, dan pengurangan pemakaian sejak awal menjadi langkah penting agar lebih banyak plastik benar-benar bisa masuk ke siklus penggunaan kembali.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version