Raja udang mikronesia adalah salah satu burung paling menarik di Pasifik karena kisahnya bukan hanya soal keindahan bulu, tetapi juga tentang kepunahan di alam liar. Burung endemik pulau Guam ini sudah puluhan tahun tidak lagi terlihat bebas di habitat aslinya, meski sebagian kecil masih bertahan di penangkaran.
Bagi masyarakat Guam asli, burung ini dikenal sebagai sihek dan punya makna budaya serta spiritual yang kuat. Karena itu, hilangnya raja udang mikronesia dari alam liar bukan sekadar kabar satwa langka, tetapi juga pukulan bagi identitas pulau tempat burung ini berasal.
1. Burung endemik Guam yang sangat khas
Raja udang mikronesia atau raja udang guam memiliki nama ilmiah Todiramphus cinnamominus. Burung ini endemik pulau Guam di barat Samudra Pasifik, wilayah yang berada di timur laut Indonesia.
Nama “raja udang mikronesia” juga dipakai untuk menyebut beberapa burung raja udang lain dari marga Todiramphus di kepulauan Pasifik barat. Di antaranya ada raja udang pohnpei (T. reichenbachii) dan raja udang palau (T. pelewensis).
2. Tubuh kecil, warna bulu mencolok
Secara fisik, burung ini bertubuh gemuk dengan kepala besar dan paruh tebal runcing seperti belati. Panjang tubuhnya sekitar 20—24 sentimeter dengan berat 50—76 gram.
Ciri paling mudah dikenali ada pada warna bulunya. Punggungnya biru berkilauan, sedangkan kepala berwarna kayu manis kemerahan, dengan perbedaan warna pada jantan dan betina yang cukup jelas.
3. Dulu menghuni hampir semua habitat Guam
Sebelum populasinya anjlok, raja udang mikronesia hidup di hampir semua tipe habitat hutan di Guam. Burung ini ditemukan di hutan dewasa, hutan sekunder di substrat batu kapur dan vulkanik, hutan tepi sungai, hingga kebun besar dengan pepohonan.
Pola makan burung ini cukup beragam untuk ukuran raja udang. Mangsa utamanya adalah kadal dan serangga, terutama belalang dan tonggeret.
4. Punya suara pagi yang khas
Raja udang mikronesia dikenal dengan kicauan serak dan keras yang biasa terdengar saat fajar. Menurut Smithsonian National Zoo & Conservation Biology Institute, burung ini berkicau sangat teratur pada waktu yang sama setiap pagi.
Keteraturan itu bahkan masuk ke kepercayaan setempat. Suara burung ini dipercaya bisa membantu mengetahui waktu, sehingga kehadirannya dulu sangat dekat dengan kehidupan harian warga Guam.
5. Bersarang di kayu lunak dan hanya melahirkan sedikit anakan
Untuk bersarang, burung ini memilih pohon dengan kayu lunak atau lapuk. Kadang, bagian pohon yang ada sarang rayapnya juga dipakai, lalu lubang sarang dibuat dengan menusuk kulit pohon menggunakan paruh besar sambil terbang.
Dalam satu sarang, raja udang mikronesia biasanya menghasilkan 1—3 butir telur. Namun, yang berhasil tumbuh dewasa biasanya hanya satu anak burung karena pembunuhan saudara kandung, atau sibling rivalry yang berujung fatal.
Kenapa punah di alam liar
Penyebab utamanya adalah ular pohon cokelat (Boiga irregularis) yang diperkenalkan ke Guam sekitar tahun 1940-an. Spesies invasif ini membuat raja udang mikronesia dan burung asli Guam lain yang selama ribuan tahun tidak punya predator alami menjadi sangat rentan.
Dampaknya cepat sekali terlihat. Raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar pada 1988, dan sekitar 29 ekor yang tersisa kala itu diselamatkan ke penangkaran.
Ancaman di Guam tidak berhenti pada ular. Kucing juga menjadi ancaman tambahan, sementara kualitas hutan menurun akibat rusa, babi, dan hewan invasif lain yang ikut diperkenalkan ke pulau itu. Kondisi tersebut membuat peluang burung ini kembali ke habitat asalnya semakin kecil.
Upaya konservasi tetap berjalan. Pada 2024, beberapa ekor raja udang mikronesia diperkenalkan ke atol Palmyra di Samudra Pasifik bagian utara, yang dipilih karena ekosistem darat dan lautnya sehat, bebas predator invasif, dan memiliki habitat hutan yang mirip Guam. Burung kecil ini kini menjadi salah satu contoh paling jelas tentang betapa besar dampak spesies invasif terhadap satwa asli pulau.
