Space Rider Kian Dekat ke Luncur, Ujian Terberatnya Justru Saat Pulang ke Bumi

Author: Qoo Media

Europe akhirnya semakin dekat memiliki wahana antariksa reusable pertamanya, dan Space Rider baru saja melewati dua rintangan paling krusial menuju penerbangan perdananya. Yang diuji bukan sekadar komponen, tetapi kemampuan kendaraan untuk bertahan dari panas masuk kembali ke atmosfer dan mendarat dengan presisi setelah selesai bertugas di orbit.

Bagi European Space Agency, dua kemampuan itu menentukan apakah Space Rider benar-benar bisa digunakan berulang kali. Karena itu, kemajuan terbaru ini menjadi tanda penting bahwa program tersebut mulai bergerak dari validasi bagian-bagian kecil menuju simulasi misi yang lebih utuh.

Space Rider adalah konsep wahana nirawak yang dirancang untuk tinggal di orbit rendah Bumi selama sekitar dua bulan. Selama berada di sana, wahana ini dapat membawa eksperimen dan muatan lain, lalu mengembalikannya ke Bumi untuk dianalisis di darat.

Fungsinya mencakup riset mikrogravitasi, demonstrasi teknologi, dan validasi sistem di orbit. Model ini juga ditujukan untuk memberi jalur pengembalian yang lebih berguna bagi hasil eksperimen, bukan sekadar membiarkannya habis di luar angkasa.

Pendaratan dengan parafoil

Berbeda dari banyak wahana yang mendarat di air atau meluncur dengan parasut biasa, Space Rider memakai desain lifting-body tanpa sayap. Setelah fase turun, kendaraan ini akan mendarat dengan parafoil yang dapat diarahkan, sehingga touchdown-nya menyerupai pendaratan di landasan.

Sistem seperti ini belum ada yang benar-benar matang hingga operasional pada wahana antariksa, menurut penjelasan yang menyertai proyek tersebut. Keunggulannya ada pada prediksi pendaratan yang lebih akurat dan proses pemulihan yang lebih cepat.

Model uji berukuran setara minivan itu sudah memuat sistem avionik Space Rider. Sistem ini dapat mengendalikan parafoil secara otonom setelah terbuka, dengan perangkat guidance, navigation, and control yang aktif menyesuaikan arah saat turun.

Saat uji jatuh nanti, software di dalam model akan mengarahkan descent secara real time. Sistem itu dirancang untuk bereaksi terhadap angin dan perubahan kondisi selama penurunan berlangsung.

Uji panas ekstrem di plasma wind tunnel

Rintangan lain yang sudah berhasil dilalui adalah perlindungan termal. ESA baru saja menyelesaikan pengujian plasma wind tunnel untuk sistem pelindung panas Space Rider, dengan paparan suhu sekitar 2.900 derajat Fahrenheit atau 1.600 derajat Celsius.

Bentuk lifting-body Space Rider memiliki 21 ubin di bagian bawah dan control flaps yang dibuat dari material keramik bernama ISiComp. Material ini dikembangkan oleh Italian Aerospace Research Centre, atau CIRA, bersama Petroceramics.

Untuk menguji kondisi yang mendekati penerbangan, CIRA memakai plasma wind tunnel miliknya sendiri yang disebut sebagai yang terbesar di dunia. Di sana, komponen dibombardir dengan aliran gas yang melesat 10 kali kecepatan suara.

Pengujian itu tidak berhenti pada kondisi ideal. Insinyur juga menguji bagaimana sistem termal bekerja saat permukaannya rusak, dengan mensimulasikan dampak dari puing atau mikrometeoroid.

Caranya, tim membuat cacat pada material lalu menempatkannya lagi di dalam plasma tunnel dalam kondisi mirip reentry. Tujuannya untuk memahami perilaku sistem ketika menghadapi kondisi di luar skenario normal.

Menuju uji pendaratan di Sardinia

ESA berencana melakukan beberapa uji jatuh helikopter di Salto di Quirra, di pulau Sardinia, pada akhir tahun ini. Dalam kampanye itu, model akan dilepaskan dari ketinggian dan seluruh profil penurunannya akan dilacak.

Uji tersebut tidak meniru reentry orbital secara penuh. Namun, fokusnya ada pada fase akhir penerbangan, yaitu bagian yang paling erat kaitannya dengan pemulihan dan penggunaan ulang.

Dalam pernyataan ESA pada 29 April, prototipe itu disebut telah “acing its tests so far.” Aldo Scaccia, manajer Space Rider Space Segment di ESA, juga menyebut bahwa tim telah bekerja bertahun-tahun untuk proyek ini.

Space Rider menjadi salah satu proyek paling ambisius ESA dalam membuka era kendaraan antariksa yang bisa digunakan kembali. Jika seluruh rangkaian pengujian berikutnya berjalan sesuai rencana, Europe akan semakin dekat ke penerbangan orbital reusable pertamanya pada akhir dekade ini.

Terbaru