Hujan ekstrem yang berlangsung sangat lama di Bumi purba diduga menjadi salah satu pemicu penting bangkitnya dinosaurus, hewan yang kemudian dikenal sebagai predator paling berbahaya di daratan. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode, saat wilayah yang semula kering berubah menjadi rawa, hutan lembap, dan jaringan sungai baru.
Para ilmuwan menilai perubahan itu terjadi sekitar 232 juta tahun lalu dan berlangsung dalam skala geologi yang panjang. Dalam rentang waktu itu, ekosistem darat dan laut sama-sama mengalami tekanan besar, lalu membuka ruang bagi kelompok hewan baru untuk berkembang.
Bumi sebelum hujan panjang
Sebelum periode hujan ekstrem itu, daratan bumi masih tergabung dalam satu superkontinen besar bernama Pangea. Kondisi ini membuat banyak wilayah pedalaman panas, kering, dan jauh dari pengaruh laut.
Gurun mendominasi kawasan luas, terutama di bagian tengah benua. Jejak batuan sedimen dari masa Trias menunjukkan endapan gurun dan mineral evaporit dalam jumlah besar, yang menandakan hujan sangat jarang turun selama jutaan tahun.
Dalam situasi seperti itu, tumbuhan harus beradaptasi untuk mencari air. Reptil purba juga hidup dengan strategi hemat air, termasuk kulit bersisik yang membantu mengurangi penguapan tubuh.
Hujan Carnian yang masih diperdebatkan
Laporan ilmiah dan kajian paleoklimatologi kerap menggambarkan periode ini sebagai masa basah yang sangat panjang. Namun para peneliti belum sepakat soal detail waktunya, termasuk apakah hujan turun serentak di seluruh dunia.
Paleontolog Paul Olsen menjelaskan bahwa musim pada masa Pangea bisa jauh lebih ekstrem daripada kondisi modern. “Musim akan lebih ekstrem daripada yang biasa kita alami, karena tidak akan diimbangi oleh benua yang dikelilingi air,” kata Olsen kepada Discover.
Olsen juga menyebut periode Carnian sebagai “masalah yang nyata” dalam riset perubahan iklim purba. Data geologi yang terbatas membuat para ilmuwan belum dapat memastikan sinkronisasi hujan di semua wilayah bumi, meski mereka sepakat perubahan besar memang terjadi.
Dampak besar bagi daratan dan lautan
Saat curah hujan meningkat tajam, vegetasi ikut berubah. Tumbuhan yang cocok di lingkungan kering berangsur berkurang, lalu digantikan hutan konifer, paku-pakuan, dan tumbuhan rawa yang tumbuh di wilayah lebih basah.
Habitat baru itu memberi keuntungan bagi amfibi purba dan sejumlah predator air tawar. Beberapa spesies temnospondyl bahkan tumbuh menjadi raksasa dan mendominasi rawa serta sungai, sementara ikan dan reptil semiakuatik ikut berdiversifikasi.
Di sisi lain, kelompok reptil archosaur nondinosaurus yang sebelumnya kuat justru mengalami penurunan. Banyak spesies tidak mampu mengikuti cepatnya perubahan suhu, kelembapan, dan vegetasi dalam skala geologi.
Dampaknya juga menjalar ke lautan. Air tawar dalam jumlah besar mengubah salinitas pesisir, sementara kadar karbon dioksida yang tinggi membuat laut lebih asam.
Kondisi itu berbahaya bagi organisme bercangkang seperti karang dan moluska. Gangguan pada plankton juga ikut mengguncang rantai makanan laut, sehingga beberapa ekosistem terumbu purba mengalami kemunduran besar.
Mengapa dinosaurus justru diuntungkan
Di tengah tekanan ekologis itu, dinosaurus justru memperoleh peluang baru. Pada awalnya, kelompok ini masih kecil dan belum mendominasi daratan, tetapi perubahan lingkungan membuat banyak pesaing mereka melemah.
Beberapa ilmuwan menduga dinosaurus memiliki sistem pernapasan yang lebih efisien dibanding banyak reptil Trias lain. Postur tubuh yang tegak juga membantu mereka bergerak lebih hemat energi di lingkungan yang berubah cepat.
Fosil seperti Eoraptor dan Herrerasaurus menunjukkan bahwa dinosaurus awal berkembang pesat setelah periode hujan ekstrem tersebut. Penyebaran mereka kemudian meluas ke berbagai wilayah Pangea dalam beberapa juta tahun berikutnya.
Meski dominasi penuh dinosaurus baru terjadi pada periode Jura, banyak paleontolog menempatkan Peristiwa Pluvial Karnia sebagai titik awal kebangkitan mereka. Perubahan iklim besar itu melemahkan pesaing dan menciptakan ruang evolusi yang lebih luas.
Bukan hanya hujan, tapi juga krisis iklim global
Perubahan pada masa itu tidak berdiri sendiri. Di penghujung periode Trias, aktivitas vulkanik raksasa yang dikenal sebagai Provinsi Magmatik Atlantik Tengah atau CAMP juga mengguncang bumi.
Menurut perhitungan Olsen, kawasan vulkanik itu mencakup lebih dari 5,5 juta mil persegi atau sekitar 15 juta kilometer persegi. Studi yang dipublikasikan di PNAS menyebut letusan besar tersebut memicu kepunahan massal.
Olsen menilai dampak terbesar datang dari efek iklim, bukan sekadar aliran lava. Ia menjelaskan bahwa kadar CO2 di atmosfer meningkat dua hingga tiga kali lipat, lalu letusan besar memicu musim dingin vulkanik akibat abu dan aerosol yang menutupi atmosfer.
“Penggandaan CO2 akan menaikkan suhu global sebesar tiga hingga lima derajat, sementara salah satu musim dingin vulkanik raksasa ini dapat menurunkan suhu 10 atau 15 derajat,” kata Olsen. Ia menambahkan bahwa sebagian besar kerusakan terjadi pada fase awal letusan.
Krisis iklim dan letusan vulkanik itu membuat banyak spesies sensitif tidak bertahan. Namun sebagian dinosaurus justru selamat, lalu berkembang pesat pada periode berikutnya hingga bumi memasuki era yang dikenal luas sebagai Zaman Dinosaurus.
Jejak perubahan besar ini masih tersimpan dalam batuan, sedimen rawa, dan lapisan fosil di berbagai wilayah dunia. Dari gurun kering menuju hutan lembap, Peristiwa Pluvial Karnia menunjukkan bagaimana hujan panjang dapat mengubah arah evolusi kehidupan, termasuk membuka jalan bagi hewan paling berbahaya yang pernah mendominasi daratan.
