Pada 19 Juli 1989, United Flight 232 tiba-tiba berubah dari penerbangan rutin menjadi pertarungan hidup dan mati di udara. Sebuah McDonnell Douglas DC-10 yang membawa 296 orang sedang terbang dari Denver ke Chicago ketika mesin di ekor pesawat meledak di atas Iowa.
Ledakan itu terdengar seperti bom bagi Kapten Al Haynes. Pesawat langsung bergetar keras, menghentak, lalu miring tajam ke kanan, sementara para penumpang merasakan badan pesawat bergeser hebat di bawah mereka.
Masalah terbesar bukan sekadar mesin rusak. Pecahan logam dari ledakan menembus sistem hidraulik yang menggerakkan kendali pesawat, sehingga DC-10 kehilangan cara normal untuk dibelokkan atau dijaga stabil.
Saat kendali utama hilang
DC-10 sebenarnya dirancang untuk tetap bisa terbang meski satu mesin gagal. Namun pada penerbangan ini, kerusakannya jauh lebih parah karena ledakan tidak berhenti di dalam mesin.
Haynes dan First Officer William Records masih memegang yoke dan menekan pedal kemudi. Tetapi tanpa tekanan hidraulik, respons pesawat nyaris tidak ada, meski instrumen, radio, dan dua mesin di bawah sayap masih berfungsi.
Di titik inilah situasinya menjadi nyaris tak terpikirkan. Karena permukaan kendali tidak lagi bekerja, kru mulai mencari satu-satunya alat yang masih tersisa untuk mempengaruhi arah pesawat, yaitu dorongan mesin.
Mencoba mengendalikan pesawat dengan throttle
Menurut kisah yang ditulis Laurence Gonzales dalam fitur klasik Pop Mech “The Crash of United Flight 232,” Haynes melihat bahwa mesin mungkin masih memberi sedikit kendali. Saat pesawat berhenti menanjak dan mulai turun sambil miring ke kanan, ia mengambil roda kendalinya sendiri.
Ketika kemiringan mencapai sekitar 38 derajat dan pesawat nyaris terbalik, Haynes menutup throttle mesin kiri No. 1 dan mendorong throttle mesin kanan No. 3 hingga penuh. Beberapa detik kemudian, sayap kanan perlahan kembali naik.
Haynes lalu menarik throttle kiri dan mendorong throttle kanan lebih jauh. Dorongan yang tidak seimbang membuat hidung pesawat berbelok ke kiri, dan sayap kanan kembali terangkat.
Namun mesin adalah kendali yang buruk. Responsnya lambat, dan pesawat tidak langsung menuruti perintah kru.
Terbang tanpa kemudi yang normal
Flight 232 kemudian bergerak naik-turun dalam siklus panjang. Hidung pesawat turun, kecepatannya bertambah, lalu hidung naik, kecepatannya berkurang, dan pola itu berulang lagi.
Karena itu, kru sebenarnya tidak benar-benar “menerbangkan” DC-10 seperti biasa. Mereka membuat perubahan kecil pada throttle, menunggu reaksi pesawat, lalu menebak langkah berikutnya dari gerakan yang muncul.
Di tengah kondisi itu, Kapten Dennis Fitch, seorang instruktur DC-10 yang kebetulan berada di dalam pesawat, maju dan mengambil alih throttle. Haynes dan Records tetap berjuang dengan yoke, sementara pesawat terus turun dalam belokan lebar.
Menuju Sioux City dalam kondisi nyaris mustahil
Meski dalam keadaan rusak berat, pesawat itu masih bisa diarahkan ke Sioux City Gateway Airport. Pada pukul 3.45 sore, kru berhasil melakukan satu-satunya belokan ke kiri.
Beberapa menit setelahnya, roda pendarat diturunkan secara manual. Pada pukul 4 sore, Flight 232 sudah menghadap Runway 22, tetapi kecepatannya masih terlalu tinggi dan penurunannya terlalu cepat. Tidak ada cara yang baik untuk memperlambatnya.
Saat pesawat sejajar dengan Runway 22, Fitch memahami bahwa ada 360.000 pon daging dan logam yang melaju hampir 250 mph tanpa cara untuk berhenti. Kalimat itu menggambarkan betapa sempitnya ruang bagi kesalahan, bahkan ketika kru sudah melakukan segala yang masih mungkin.
Pendaratan yang berakhir tragis, tetapi menyelamatkan banyak nyawa
Sayap kanan menghantam lebih dulu, lalu roda pendarat menghantam beton lama dan merobek badan pesawat. Pesawat hancur, terbakar, dan akhirnya terbalik.
Dari 296 orang di dalamnya, 185 selamat. Flight 232 menjadi salah satu kasus paling unik dalam sejarah kecelakaan udara karena kru tidak berhasil mendarat dengan selamat, tetapi mampu menjaga pesawat tetap hidup cukup lama untuk menyelamatkan begitu banyak orang.
NASA kemudian menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari masalah ini. Peneliti menemukan bahwa pesawat yang rusak kadang masih bisa dijaga tetap di udara dengan bantuan dorongan mesin, tetapi metode itu terlalu lambat untuk pendaratan yang andal tanpa bantuan komputer.
Flight 232 tidak memiliki bantuan seperti itu. Namun justru di tengah keterbatasan itulah para pilot mencoba sesuatu yang hampir tak terpikirkan: mengendalikan pesawat yang jatuh hanya dengan mesin yang masih tersisa.







