Saat seekor kodok diam di tepi kolam, tubuhnya tetap bekerja keras untuk bertahan hidup. Hewan ini tidak hanya mengandalkan paru-paru, tetapi juga kulit yang lembap untuk bernapas dan menyerap air.
Cara itu disebut respirasi kutaneus, yakni pertukaran gas melalui kulit. Di bawah permukaan kulit kodok terdapat jaringan pembuluh darah kecil yang menyerap oksigen dari air atau udara, lalu membuang karbon dioksida dari tubuh.
Kulit kodok sangat tipis dan dipenuhi kelenjar yang menghasilkan lendir. Lendir inilah yang menjaga permukaan kulit tetap lembap sehingga oksigen dan air bisa berpindah lebih mudah melalui pori-pori kulit.
Bernapas dari permukaan tubuh
Pada kodok, proses bernapas melalui kulit bekerja mirip paru-paru, tetapi berlangsung di permukaan tubuh. Selain kulit, kodok juga memakai paru-paru dan lapisan mulut untuk bernapas.
Kombinasi ini memberi keuntungan besar bagi kodok. Mereka tetap bisa bertahan di air dan juga mampu melewati hibernasi panjang ketika kondisi lingkungan tidak mendukung.
Namun, tidak semua jenis kodok bergantung penuh pada mekanisme ini. Respirasi kutaneus bekerja efektif selama kulit tetap lembap, sehingga kondisi tubuh dan habitat punya peran besar.
Berudu punya strategi sendiri
Tahap awal kehidupan kodok juga menyimpan adaptasi menarik. Berudu yang belum memiliki insang berkembang sempurna tetap membutuhkan udara untuk bernapas, tetapi tubuh mereka yang masih kecil membuat mereka sulit menembus tegangan permukaan air.
Untuk mengatasinya, berudu menciptakan gelembung udara sendiri. Studi pada 2020 mencatat berudu berenang tepat di bawah permukaan air, lalu dengan cepat mengisap udara hingga terbentuk gelembung.
Gelembung itu kemudian didorong masuk ke paru-paru. Cara ini membantu mereka bertahan hidup meski belum mampu muncul langsung ke permukaan air.
Kulit juga dipakai untuk minum
Selain bernapas, kodok memakai kulit untuk minum. Air meresap melalui pori-pori kulit, masuk ke ruang kecil di jaringan, lalu diserap melewati membran sel hingga mencapai aliran darah.
Banyak spesies kodok memiliki bagian kulit khusus yang kaya pembuluh darah, yang disebut drinking patch. Bagian ini membantu mereka menyerap air dalam jumlah besar saat kondisi memungkinkan.
Adaptasi tersebut sangat penting bagi kodok di daerah kering. Trilling frog dan water-holding frog di gurun Australia, misalnya, bergantung pada kemampuan menyerap air dengan cepat selama musim hujan.
Air yang tersimpan bisa dipakai kembali ketika kondisi mengering. Pada beberapa kondisi, cadangan ini juga membantu menambah lapisan lendir ekstra di kulit.
Kelembapan yang sama membawa risiko
Kulit yang berpori memang membuat kodok efisien dalam menyerap oksigen dan air. Tetapi sifat itu juga membuat mereka sangat rentan terhadap polutan dan perubahan iklim.
Penelitian menunjukkan kulit kodok mudah terpapar bahan kimia komersial dan mikroplastik dari lingkungan. Karena kulit harus tetap lembap, kodok juga sangat bergantung pada habitat basah untuk bertahan hidup.
Saat kekeringan makin sering terjadi dan suhu naik, habitat mereka ikut tertekan. Area hutan hujan seperti Amazon, serta hutan Atlantik di Brasil, Argentina, dan Paraguay, terancam menyusut.
Tanda awal kerusakan ekosistem
Kodok kerap menjadi kelompok hewan pertama yang menunjukkan penurunan populasi ketika lingkungan terganggu. Kondisi ini membuat mereka penting sebagai indikator kesehatan ekosistem.
Hilangnya kodok bukan hanya berarti berkurangnya satu jenis hewan. Populasi serangga bisa melonjak karena tidak lagi dikendalikan, sementara ular dan burung yang bergantung pada kodok sebagai makanan juga ikut terdampak.
Dalam skala lebih luas, gangguan itu mengacaukan keseimbangan pemangsa dan mangsa. Karena itu, kemampuan kodok bernapas dan minum lewat kulit bukan sekadar keunikan biologis, tetapi juga bagian dari cerita tentang kerentanan mereka terhadap perubahan lingkungan.
Source: www.idntimes.com