Robot Gudang Ini Disetrum Laser 24 Jam Nonstop, Awal Era Tanpa Baterai?

Sebuah startup asal Sydney baru saja menunjukkan cara yang bisa mengubah cara robot industri bekerja di gudang. Aquila Earth berhasil menyalakan robot gudang selama 24 jam tanpa henti dengan hanya seberkas laser 4 kilowatt, tanpa jeda pengisian daya, tanpa ganti baterai, dan tanpa downtime.

Bagi dunia otomasi, pencapaian ini penting karena masalah baterai masih menjadi penghambat utama robot bergerak. Dalam uji tersebut, robot menempuh sekitar 25 kilometer sambil mengandalkan daya laser dan hanya memakai baterai cadangan minimal.

Daya dari cahaya, bukan kabel

Sistem Aquila mengubah listrik dari jaringan menjadi laser inframerah terfokus, lalu memancarkannya melalui udara ke penerima yang dipasang di robot. Cahaya itu kemudian dikonversi kembali menjadi listrik untuk menjalankan mesin.

Pendekatan ini bekerja seperti kabel daya nirkabel yang terbuat dari cahaya. Dengan model seperti ini, robot tidak harus berhenti untuk diisi ulang seperti sistem berbasis baterai konvensional.

Fokus pada keamanan

Di balik demonstrasi futuristis itu, faktor keamanan menjadi perhatian utama. Aquila membangun sistem pemutus otomatis yang langsung mematikan beam saat ada objek tak terduga, termasuk manusia, masuk ke jalur laser.

CEO Ruby Jones menyebut perlindungan itu “foolproof” dari sudut pandang operator. Pernyataan itu menyoroti tantangan utama teknologi power beaming, yaitu bagaimana mengirim energi besar lewat sinar inframerah tanpa membahayakan lingkungan sekitar.

Jones juga mengatakan kepada Renew Economy bahwa ini adalah daya terbesar yang pernah dikirim ke platform bergerak. Menurut dia, belum ada pihak lain yang pernah melakukannya dengan tingkat daya sebesar itu dalam power beaming.

Rekor dan pembandingnya

Aquila mengklaim dua rekor dunia dari demonstrasi ini. Rekor itu adalah total daya laser tertinggi yang ditransfer ke platform bergerak dan durasi berkelanjutan terlama pada tingkat daya tersebut.

Persaingan di bidang ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Mitsubishi Heavy Industries dan NTT di Jepang baru-baru ini mentransmisikan 1 kilowatt sejauh satu kilometer, dengan daya terima 152 watt dan efisiensi 15 persen.

PowerLight Technologies juga telah melakukan demonstrasi beaming selama 15 tahun. Namun, perusahaan itu umumnya bekerja pada tingkat daya lebih rendah atau durasi lebih singkat dibanding maraton gudang milik Aquila.

Target bisnis dan penurunan biaya

Aquila menargetkan penerapan komersial sekitar 2027. Perusahaan itu juga sudah merancang kemitraan dengan sejumlah perusahaan drone besar.

Ada faktor ekonomi yang ikut membuat teknologi ini makin menarik. Saat perusahaan mulai berjalan pada 2022, laser kelas kilowatt disebut berharga $120.000, tetapi kini harga dari pemasok China sekitar $6.000.

Perkembangan itu memperkuat peluang penggunaan lebih luas di sektor otomasi. Gudang modern semakin bergantung pada robot berbasis AI untuk inventaris dan pemenuhan pesanan, tetapi baterai masih membatasi efisiensi operasional.

Jika teknologi ini matang, robot gudang bisa bekerja seolah-olah tersambung ke kabel ekstensi tak terlihat. Jones membayangkan drone dan robot yang bersifat “perpetual”, tidak perlu mendarat atau docking selama laser tetap menyala.

Exit mobile version