China kembali menarik perhatian sektor energi bersih lewat turbin angin lepas pantai yang memecahkan rekor. Sanxia Linghang, atau Three Gorges Pilot, kini disebut sebagai turbin angin lepas pantai terapung unit tunggal terbesar di dunia, baik dari sisi kapasitas maupun diameter rotor.
Proyek ini menjadi penanda penting karena China masih termasuk salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Di saat yang sama, negara itu terus mempercepat peralihan ke sumber energi yang lebih bersih seperti angin dan surya.
Rekor baru dari laut selatan China
Turbin yang dibangun oleh China Three Gorges Corporation atau CTG ini memiliki kapasitas 16 megawatt. Diameter rotornya mencapai hampir 830 kaki, sementara ujung bilahnya berada lebih dari 885 kaki di atas permukaan air.
Berbeda dari turbin konvensional yang ditanam di dasar laut, struktur ini mengapung di atas platform pada perairan sedalam 164 kaki. Sistemnya dirancang untuk menahan gelombang setinggi 65 kaki dan angin hingga 164 mph, setara dengan badai topan Kategori 5.
CTG mulai menguji turbin itu bulan lalu. Uji coba ini penting karena menempatkan teknologi terapung pada skala yang belum pernah dicapai satu turbin pun sebelumnya.
Teknologi yang membuka wilayah baru
Langkah CTG dinilai berpotensi mengubah peta pengembangan angin lepas pantai. Desain terapung seperti ini membuka akses ke lokasi laut dalam yang tidak bisa dijangkau turbin tetap.
Untuk mewujudkan proyek besar tersebut, CTG mengembangkan sistem tambat baru. Platform terapung seluas 79.000 kaki persegi ditahan oleh sembilan suction anchor dan sistem ballast otomatis untuk menjaga stabilitas.
Energi yang dihasilkan kemudian disalurkan ke darat melalui kabel dinamis 66 kilovolt. Kabel itu harus tahan terhadap suhu ekstrem, gerakan ombak, korosi air asin, dan tekanan mekanis lainnya.
Produksi listrik dan uji performa
Three Gorges Pilot diperkirakan menghasilkan 44,65 gigawatt-jam listrik per tahun. Jumlah itu cukup untuk memasok sekitar 24.000 rumah tangga berisi tiga orang selama setahun.
Selama fase pengujian, para insinyur kemungkinan mengumpulkan data performa dan memantau kestabilan platform. Mereka juga menilai apakah teknologi penyaluran daya bekerja sesuai rancangan.
Jika sistem ini terbukti andal, proyek tersebut dapat menjadi cetak biru untuk pengembangan ladang angin terapung yang lebih dalam dan lebih berombak. CTG kemudian dapat menilai apakah desain ini bisa diperbesar lagi untuk proyek masa depan di laut lepas.
Persaingan teknologi yang makin besar
Pembangkit angin terapung di perairan dalam sebenarnya sudah ada, termasuk Hywind Scotland di Inggris, WindFloat Atlantic di Portugal, Hywind Tampen di Norwegia, dan Provence Grand Large di Prancis. Namun, turbin di proyek-proyek itu lebih kecil dari unit 16 megawatt yang sedang diuji CTG.
Ukuran yang lebih besar memberi beberapa keuntungan operasional. Jumlah turbin dan komponen pendukung bisa lebih sedikit, sehingga instalasi dan pemeliharaan berpotensi lebih sederhana dan biaya bisa ditekan.
Rotor yang lebih besar juga menangkap lebih banyak angin dalam satu putaran. Dalam area dengan lahan dangkal yang terbatas, satu unit besar bisa menghasilkan daya lebih besar dibanding banyak turbin kecil yang tersebar di area sama.
Masalah tetap ada di skala raksasa
Meski menjanjikan, turbin terapung berukuran besar tetap menghadapi tantangan berat. Transportasi dan pemasangannya lebih sulit, terutama karena ukuran dan kondisi kerja di laut dalam yang lebih berisiko.
Risiko lain muncul ketika satu unit mengalami gangguan. Jika satu turbin besar gagal, kapasitas yang hilang langsung besar, berbeda dengan sistem yang menggunakan lebih banyak turbin kecil.
Namun, perkembangan seperti ini menunjukkan arah baru bagi energi angin. Ketika teknologi makin matang dan keandalannya meningkat, perannya dalam peralihan dari bahan bakar fosil ke energi bersih tampak akan semakin besar.
